Alasan Aurelie Cerita Jadi Korban Grooming dalam Broken Strings

1 hour ago 1

CNN Indonesia

Rabu, 14 Jan 2026 14:40 WIB

Aurelie Moeremans mengungkapkan alasan dirinya berani bicara hingga menyelesaikan Broken Strings. Aurelie Moeremans mengungkapkan alasan dirinya berani bicara hingga menyelesaikan Broken Strings. (Instagram/@aurelie)

Jakarta, CNN Indonesia --

Aurelie Moeremans mengungkapkan alasan dirinya berani bicara hingga menyelesaikan Broken Strings meski mengaku sulit untuk menuliskannya. Ia mengungkapkan pahitnya jadi korban grooming dalam Broken Strings.

Buku yang telah dirilis secara digital dan gratis itu juga berisikan kekerasan seksual, fisik, serta ancaman yang dihadapi Aurelie ketika berusia 15 tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengaku sulit menceritakan hal itu dalam buku karena dirinya harus mengulik dan mengingat kembali situasi-situasi yang begitu menyakitkan. Sering pula situasi itu membuatnya ingin berhenti.

"Tapi setiap kali ingin menyerah, aku ingat alasan awal aku menulis, yaitu untuk jujur pada diri sendiri dan bertahan," tutur Aurelie Moeremans seperti diberitakan detikcom, Rabu (14/1).

Ia pun sempat mengatakan proses yang ia hadapi saat menuliskan itu semua merupakan bagian dari penyembuhan dirinya.

[Gambas:Video CNN]

Setelah Broken Strings selesai dan dipublikasikan, ia kembali merasa ketakutan dengan respons pembaca. Ia bahkan mengaku sempat sengaja merilisnya dalam bahasa Inggris demi untuk kurasi pembaca.

"Waktu itu aku berpikir supaya tidak terlalu banyak yang membaca karena trauma dari pengalaman sebelumnya, saat aku pernah mencoba berbagi dan responsnya tidak seperti yang aku harapkan. Aku merasa kalau dirilis dalam bahasa Inggris, pembacanya akan lebih terkurasi," ucapnya.

Namun, ia menegaskan seluruh kisah tersebut adalah kebenaran. Aurelie pun ingat pada tujuan awalnya menulis Broken Strings adalah berani bersuara dan membantu mereka yang membutuhkan.

Ia kini juga berpesan kepada semua orang, terutama perempuan, yang menjadi korban grooming untuk bersuara dan bangkit.

"Selama yang kutulis adalah kebenaran dan tujuannya baik, aku siap dengan risikonya. Fokusku tetap pada dampak positif yang bisa dihasilkan, bukan pada penolakan yang mungkin muncul," ia menegaskan.

"Kamu tidak sendirian dan apa pun yang pernah terjadi padamu bukan salahmu. Kamu berhak sembuh, berhak bahagia, dan berhak punya masa depan yang lebih baik," pesan semangat dari Aurelie Moeremans.

Dalam Broken Strings, Aurelie mengisahkan pengalaman diduga menjadi korban grooming pada usia 15 tahun oleh seorang pria.

Pria itu disebut Aurelie berusia hampir dua kali usianya. Dalam buku itu pula, Aurelie mengaku menjadi korban manipulasi, kontrol dari pelaku tersebut dan kemudian secara perlahan menyelamatkan dirinya.

Aurelie juga menggambarkan secara eksplisit berbagai tindak kekerasan yang dilakukan oleh pelaku.

Dalam unggahan di media sosial pada 2020, Aurelie mengatakan bahwa pernikahan itu didasari dengan rasa terpaksa. Bahkan Aurelie mengaku kala itu dirinya kerap mendapatkan ancaman bila meninggalkan pria tersebut.

(chri)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |