CNN Indonesia
Jumat, 16 Jan 2026 15:30 WIB
Ilustrasi. Makan nasi uduk untuk sarapan sebenarnya tidak masalah, asal perhatikan porsi dan intensitasnya. (CNN Indonesia/christina andhika setyanti)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sarapan nasi uduk masih menjadi kebiasaan banyak orang Indonesia. Selain mudah ditemukan dan harganya terjangkau, nasi uduk juga dianggap praktis serta mengenyangkan untuk memulai aktivitas pagi.
Namun, pertanyaan pun muncul, amankah nasi uduk jadi menu sarapan jika dikonsumsi secara rutin?
Dokter spesialis gizi, Johanes Chandrawinata, menjelaskan bahwa mengonsumsi nasi di pagi hari pada dasarnya tidak menjadi masalah, termasuk nasi uduk. Meski demikian, ia menekankan pentingnya memperhatikan komposisi gizi dan porsi makan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak apa-apa [sarapan nasi uduk], cuma tetap harus hati-hati. Nasi uduk, kan, nasinya pakai santan, lauknya tahu goreng, tempe goreng, kalorinya tinggi semua, maka jangan terlalu sering," kata Johanes saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (12/1).
Menurut Johanes, pola makan sehat bisa dimulai dari pembagian piring makan. Idealnya, setengah piring diisi sayur dan buah, sementara sisanya diisi sumber protein dan karbohidrat.
Pola ini kerap terabaikan saat menyantap nasi uduk yang cenderung didominasi nasi dan lauk gorengan.
Nasi uduk sendiri dimasak menggunakan santan sehingga kandungan lemak jenuhnya lebih tinggi dibanding nasi putih biasa. Ditambah lagi dengan lauk pendamping seperti tahu dan tempe goreng, ayam goreng, kerupuk, hingga sambal bersantan, total kalori dalam satu porsi bisa melonjak cukup signifikan.
"Orang Indonesia sering mengonsumsi nasi sampai satu piring muncung. Itu tidak baik dari segi kesehatan karena nanti menambah risiko terjadinya asupan kalori yang berlebihan," ujarnya.
Konsumsi nasi uduk secara berlebihan, terutama jika dilakukan setiap hari, berpotensi meningkatkan asupan kalori dan lemak jenuh. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat berdampak pada kenaikan berat badan hingga meningkatkan risiko gangguan metabolik.
Meski begitu, Johanes menegaskan bahwa nasi uduk bukanlah makanan terlarang. Menjawab kekhawatiran soal amankah nasi uduk jadi menu sarapan, ia menyebut makanan ini masih aman dikonsumsi selama tidak terlalu sering dan tetap memperhatikan keseimbangan gizinya.
"Kalau cuma seminggu sekali masih oke. Tapi hari-hari lain, Senin sampai Jumat, usahakan makan yang lebih sehat," katanya.
Agar nasi uduk lebih ramah bagi kesehatan, Johanes menyarankan beberapa penyesuaian. Porsi nasi sebaiknya tidak berlebihan, lauk bisa diganti dengan sumber protein rendah lemak seperti telur rebus atau ayam tanpa kulit, serta mengurangi gorengan dan kerupuk.
Ia juga mengingatkan pentingnya asupan protein saat sarapan. Selain membuat rasa kenyang bertahan lebih lama, protein berperan dalam pembentukan antibodi dan menjaga daya tahan tubuh.
"Protein itu penting supaya kita enggak cepat lapar dan tetap produktif," tutupnya.
Jawaban atas pertanyaan amankah nasi uduk jadi menu sarapan bergantung pada frekuensi, porsi, dan pilihan lauknya. Dikonsumsi sesekali dengan komposisi yang lebih seimbang, nasi uduk masih bisa menjadi bagian dari pola makan yang aman dan nikmat.
(tis/tis)

2 hours ago
2
















































