Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
24 May 2026 08:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga dua komoditas andalan Indonesia, batu bara dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), bergerak dalam pola yang berbeda sepanjang pekan ini. Batu bara cenderung bertahan kuat karena pasar energi global masih terguncang konflik Timur Tengah, sementara CPO justru masuk fase penuh kehati-hatian setelah Presiden Prabowo Subianto mengumumkan perubahan besar tata niaga ekspor komoditas Indonesia.
Kontrak batu bara Newcastle acuan Australia di Refinitiv ditutup di US$137,55 per ton pada 21 Mei 2026. Dalam sepekan, harga menguat tipis 0,77% dari posisi US$136,5 per ton pada 15 Mei. Pergerakan memang tidak terlalu agresif, tetapi pasar masih menjaga harga tetap tinggi setelah lonjakan besar sejak awal tahun.
Pasar energi global masih dibayangi gangguan LNG akibat konflik Iran. Ketika pasokan gas terganggu dan harga LNG Asia melonjak, utilitas listrik di Jepang dan Korea Selatan kembali memperbesar konsumsi batu bara. Kondisi ini menjaga permintaan batu bara thermal Australia tetap tinggi.
Korea Selatan tercatat menaikkan impor batu bara thermal April sebesar 40% menjadi 5,7 juta ton. Jepang juga meningkatkan impor 2,5% menjadi 7,9 juta ton. Permintaan tambahan dari dua negara tersebut membuat harga batu bara tetap tertahan di area tinggi meski sempat turun dari puncak Maret lalu yang menyentuh US$146 per ton.
Pasar juga memantau perkembangan di China setelah ledakan tambang batu bara di Shanxi menewaskan sedikitnya 90 pekerja. Shanxi merupakan salah satu pusat produksi batu bara terbesar China. Risiko inspeksi keselamatan yang lebih ketat memunculkan kekhawatiran gangguan pasokan domestik sehingga potensi impor China kembali menjadi perhatian pelaku pasar.
Di saat bersamaan, Indonesia membuat pasar batu bara global bergerak lebih waspada. Pemerintah memutuskan seluruh ekspor batu bara nantinya akan melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Kebijakan itu menjadi bagian dari upaya pemerintah memperketat devisa hasil ekspor sekaligus menutup praktik under invoicing komoditas.
Pelaku industri langsung mempertanyakan banyak hal. Mulai dari mekanisme kontrak, sistem pembayaran, risiko logistik, sampai posisi trader internasional dalam rantai bisnis baru tersebut. Indonesia saat ini memasok hampir separuh perdagangan batu bara thermal dunia sehingga perubahan kecil saja langsung mempengaruhi sentimen pasar Asia.
Mengutip Reuters, CEO Danantara Rosan Roeslani memastikan kontrak lama tetap dihormati. Namun pemerintah membuka ruang evaluasi bila ditemukan harga jual di bawah harga pasar internasional. Pernyataan itu membuat trader global mulai menghitung ulang risiko kontrak jangka panjang dengan eksportir Indonesia.
Situasi serupa juga terjadi di pasar CPO. Harga minyak sawit mentah Malaysia kontrak Agustus di Refinitiv ditutup di MYR4.486 per ton pada 22 Mei 2026. Secara mingguan, harga masih naik sekitar 1,5% dibanding posisi 15 Mei di MYR4.420 per ton. Namun sepanjang pekan, volatilitas pasar meningkat tajam setelah pidato Prabowo mengenai ekspor satu pintu sawit Indonesia.
Pasar sebenarnya sempat menyambut positif gagasan Indonesia memperketat tata niaga sawit. Indonesia merupakan produsen sawit terbesar dunia. Ketika pemerintah berbicara soal kontrol ekspor dan penataan harga, sebagian pelaku pasar langsung membaca peluang pengetatan pasokan global.
Harga CPO Malaysia bahkan sempat melonjak sekitar 2% setelah pengumuman pembentukan BUMN ekspor. Namun reli itu cepat memudar karena pasar mulai mempertanyakan implementasi teknis kebijakan baru pemerintah Indonesia.
Kekhawatiran utama datang dari mekanisme perdagangan. Selama ini ekspor sawit Indonesia berjalan lewat jaringan eksportir dan trader global yang sudah terbentuk bertahun-tahun. Ketika pemerintah ingin memusatkan ekspor melalui satu pintu, pembeli global mulai mempertimbangkan risiko keterlambatan distribusi dan perubahan skema kontrak.
Malaysia langsung disebut sebagai pihak yang paling berpotensi mendapat limpahan permintaan. Beberapa pelaku industri sawit Malaysia menilai importir global bisa sementara mengalihkan pembelian ke Malaysia sambil menunggu aturan Indonesia menjadi lebih jelas.
Namun kondisi Malaysia sendiri belum terlalu kuat. Ekspor sawit Malaysia periode 1-20 Mei justru turun sekitar 13,9%-20,5% dibanding bulan sebelumnya. Ringgit yang menguat terhadap dolar AS juga membuat harga sawit Malaysia menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
Dari dalam negeri, pemerintah Indonesia mulai semakin agresif membongkar dugaan manipulasi ekspor sawit. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku sudah mengantongi nama 10 perusahaan sawit besar yang diduga melakukan under invoicing.
Purbaya memberikan laporan itu saat rapat terbatas dengan Prabowo, di Istana Negara, Kamis (21/5/2026), bersama sejumlah menteri.
"Laporan. Pokoknya itu memperkuat dugaan beliau selama ini kan bahwasannya memang ada seperti itu, dan itu datanya kan sangat kuat sekali," kata Purbaya, saat ditanya respons presiden usai mendapatkan laporan.
Temuan pemerintah menunjukkan adanya selisih besar antara nilai ekspor Indonesia dan nilai impor di negara tujuan. Dalam salah satu kasus, nilai ekspor tercatat US$2,6 juta sementara data impor negara pembeli mencapai US$4,2 juta. Ada pula kasus lain dengan perbedaan nilai hingga hampir 200%.
Direktur Eksekutif PASPI, Tungkot Sipayung, menyebut praktik seperti ini sebenarnya sudah lama terjadi dalam perdagangan sawit Indonesia. Celah pengawasan ekspor serta lemahnya kontrol terhadap transfer pricing menjadi salah satu persoalan utama.
Direktur Eksekutif PASPI, Tungkot Sipayung, menilai indikasi manipulasi ekspor sawit sebenarnya bukan persoalan baru. "Kalau lihat data itu berarti udah lama," kepada CNBC Indonesia.
Ia menilai persoalan tersebut tidak lepas dari lemahnya pengawasan ekspor nasional.
"Kenapa terjadi? Ya ada eksportir nakal, tapi juga kelemahan aparat bea cukai kita. Ini juga disoroti Presiden dalam pidato kemarin," ujarnya.
Menurut Tungkot, ambisi pemerintah menjadikan Indonesia sebagai penentu harga sawit dunia membutuhkan perubahan besar dalam mekanisme perdagangan nasional.
"Berikutnya bagaimana mekanisme baru itu nantinya berjalan yang bisa meyakinkan pelaku usaha sawit domestik bahwa mekanisme baru ini jauh lebih menguntungkan dibanding cara kita jualan sendiri-sendiri seperti selama ini," katanya.
Ia menilai posisi Indonesia sebenarnya sangat kuat karena status sebagai produsen sawit terbesar dunia.
"Indonesia dengan cara itu dan sebagai produsen sawit terbesar dunia akan menjadi price maker harga sawit dunia, menggantikan bursa Malaysia maupun bursa Rotterdam seperti yang disebutkan Presiden."
Pidato Prabowo mengenai Indonesia sebagai penentu harga sawit dunia kemudian menjadi titik penting pekan ini. Pemerintah ingin Indonesia keluar dari posisi sekadar produsen besar yang mengikuti harga referensi Malaysia dan Rotterdam.
Pelaku industri masih menunggu bentuk aturan teknis, mekanisme kontrak, sistem pembayaran, hingga dampaknya terhadap arus perdagangan global.
CNBC Indonesia Research
(emb/luc)
Addsource on Google

1 hour ago
1

















































