Chaos Manuver Zig-zag Trump, AS Terjebak di Perang Iran

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Perubahan sikap Presiden Donald Trump terhadap konflik dengan Iran dalam hitungan hari memperlihatkan betapa rumitnya perang yang kini menyeret Amerika Serikat ke dalam kebuntuan strategis di Timur Tengah. Dari ancaman perang, operasi militer di Selat Hormuz, hingga kembali membuka ruang damai, arah kebijakan Washington berubah cepat seiring tekanan ekonomi dan politik yang terus membesar.

Akhir pekan lalu, Trump masih berbicara keras soal Iran dan menegaskan bahwa Teheran belum "membayar harga yang cukup besar". Namun pada Selasa (5/5/2026), Gedung Putih meluncurkan "Project Freedom", operasi yang disebut sebagai "gerakan kemanusiaan" untuk membantu kapal-kapal yang terjebak keluar dari Teluk sekaligus melemahkan kendali Iran atas Selat Hormuz.

Hanya beberapa jam kemudian, nada Trump berubah lagi. Pada Rabu dini hari, ia mengumumkan adanya kemajuan besar menuju kesepakatan damai.

"Kemajuan besar telah dicapai menuju Kesepakatan Lengkap dan Final," kata Trump, sambil mengumumkan bahwa Project Freedom akan dihentikan sementara demi memberi kesempatan bagi negosiasi.

Mengutip analisis The Guardian, Kamis (7/5/2026), meski terlihat berubah-ubah, ketiga pendekatan Trump yang terdiri dari tekanan militer, operasi maritim, dan diplomasi, dinilai berangkat dari kenyataan yang sama, yakni rezim Iran tampaknya tidak akan runtuh ataupun menyerah pada hak pengayaan uranium hanya karena dibombardir.

Teheran telah membuktikan kemampuannya menutup Selat Hormuz, dan blokade total di Teluk justru ikut melukai ekonomi AS sendiri.

Kondisi itu disebut membentuk semacam "kotak baja" yang menjebak pemerintahan Trump. Perubahan kebijakan berulang dalam beberapa hari terakhir memperlihatkan Washington terus mencari jalan keluar yang tidak berujung pada "penghinaan" atau perang tanpa akhir.

Meski begitu, belum ada kepastian bahwa Trump benar-benar menemukan solusi. Ancaman bombardemen lanjutan yang ia sampaikan justru menunjukkan kekhawatiran bahwa diplomasi bisa kembali gagal.

Trump memperingatkan akan ada serangan "dengan tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi" jika Iran tidak menerima syarat awal yang diajukan.

Laporan dari Axios dan Reuters menyebut AS, Iran, dan mediator dari Pakistan semakin dekat pada kesepakatan berupa memorandum of understanding (MoU) satu halaman.

Dokumen itu akan menyatakan berakhirnya perang dan memulai periode negosiasi selama 30 hari untuk menyelesaikan sengketa terkait program nuklir Iran, sanksi AS, dan aset Iran yang dibekukan.

Sebagai bagian dari proses itu, kedua pihak akan secara bertahap mencabut blokade masing-masing di Selat Hormuz selama masa pembicaraan berlangsung.

Pengumuman Trump langsung menurunkan harga minyak dan mengangkat pasar saham global. Namun situasinya masih sangat rapuh.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran memberi sinyal bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz mungkin saja dilakukan, tetapi belum memberikan jawaban tegas terhadap proposal tersebut. Teheran menegaskan bahwa blokade harus diakhiri terlebih dahulu sebelum pembicaraan lain dimulai.

Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan proposal masih ditinjau, sementara juru bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menyebut proposal itu sebagai "daftar keinginan Amerika, bukan kenyataan".

Negosiasi diperkirakan akan sangat sulit. Sebelum perang, Iran menawarkan moratorium pengayaan uranium selama lima tahun, sedangkan AS menuntut 20 tahun. Proposal terbaru disebut mengarah pada kompromi sekitar 12 hingga 15 tahun.

Iran sebelumnya juga menawarkan opsi terkait stok uranium yang diperkaya tinggi, yang berpotensi digunakan untuk senjata nuklir, melalui pengenceran atau ekspor ke luar negeri. Proposal baru disebut lebih condong pada opsi ekspor, bahkan kemungkinan ke Amerika Serikat.

Selain itu, Iran juga akan menerima kembali inspeksi permanen dari badan pengawas nuklir PBB, International Atomic Energy Agency atau IAEA, demi memastikan kepatuhan terhadap kesepakatan.

Sebagai imbalannya, miliaran dolar aset Iran yang dibekukan akan dicairkan secara bertahap dan sanksi AS akan dilonggarkan perlahan.

Namun agenda tersebut dinilai sangat ambisius dan rawan gagal di banyak titik. Meski kedua pihak tampaknya tidak ingin kembali berperang, keduanya juga diyakini merasa bahwa tekanan militer tambahan dapat memperkuat posisi tawar di meja negosiasi.

Namun, kesepakatan apapun juga diperkirakan akan menghadapi penolakan dari Israel jika tidak menyentuh arsenal rudal Iran maupun aktivitas kelompok-kelompok proksi regional Teheran.

Dalam skenario terbaik bagi Washington, hasil kesepakatan nantinya mungkin sedikit lebih baik dibanding proposal yang sempat dibahas di Geneva pada 26 Februari, dua hari sebelum perang dimulai lewat serangan mendadak AS-Israel.

Moratorium pengayaan uranium kemungkinan akan lebih panjang dan ada kepastian lebih besar bahwa uranium diperkaya tinggi benar-benar dipindahkan keluar dari Iran.

Namun, masih menjadi pertanyaan apakah hasil serupa sebenarnya bisa dicapai tanpa perang dan pengeboman.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |