Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) buka suara soal kondisi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS beberapa hari terakhir. Pada Selasa (13/1/2026), rupiah ditutup melemah Rp 16.860 per dolar AS.
Pada pagi ini, Rabu (14/1/2026), rupiah dibuka di level Rp16.850/US$ atau terapresiasi 0,06%. Menurut data Refinitv, penguatan ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya rupiah mengalami tekanan dengan pelemahan 0,21% hingga menembus level Rp16.860/US$, yang menjadi posisi terlemah dalam sekitar delapan bulan terakhir.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea mengatakan Bank Indonesia konsisten menjaga stabilitas nilai tukar sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, pergerakan mata uang global pada awal 2026 ini, termasuk Indonesia, banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia.
"Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun," kata Erwin dalam pernyataan resmi.
Alhasil, kondisi ini mendorong rupiah melemah dan ditutup pada level Rp 16.860 per dolar AS pada 13 Januari 2026, atau terdepresiasi sebesar 1,04% secara year-to-date. Meskipun demikian, pelemahan rupiah tersebut masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global, antara lain won Korea yang melemah sebesar 2,46% dan peso Filipina sebesar 1,04%.
Erwin menegaskan stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia yang terus dilakukan secara berkesinambungan melalui intervensi NDF di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder.
Selain itu, berlanjutnya aliran masuk modal asing, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang secara neto mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026 juga mendukung terkendalinya stabilitas rupiah, sejalan dengan persepsi investor global terhadap Indonesia yg tetap positif, tercermin dari premi risiko CDS Indonesia tenor 5 tahun yang berada pada level rendah, sekitar 72 bps.
"Ketahanan eksternal juga tetap baik tecermin pada posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 yang tercatat sebesar USD156,5 miliar, setara dengan 6,4 bulan impor, memadai sebagai buffer dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global," paparnya.
Erwin menegaskan BI akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat. Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter pro-market guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas, sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan tetap mencapai sasaran inflasi serta menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
(haa/haa)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2

















































