Ekonom: Daya Beli Kelas Menengah ke Bawah Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Semester II

1 hour ago 6

Pengunjung berbelanja di salah satu ritel modern di Jakarta, Jumat (14/4/2023). Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memperkirakan penjualan ritel modern selama Ramadan 2023 tumbuh 10 hingga 15 persen dari periode Ramadan 2022. Pemulihan sektor ritel modern berkontribusi dalam peningkatan konsumsi rumah tangga.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M Rizal Taufikurahman menilai daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah menjadi kunci penting untuk menjaga kinerja pertumbuhan ekonomi nasional pada semester II 2026.

“Pada kuartal III dan IV, pemerintah perlu fokus menjaga daya beli, terutama kelompok menengah bawah,” kata Rizal saat dihubungi di Jakarta, Senin (10/8/2026).

Pada kuartal II 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan konsumsi rumah tangga mengalami pertumbuhan sebesar 5,06 persen (year on year/yoy). Pertumbuhan ini melambat bila dibandingkan kuartal I-2026 yang mencetak pertumbuhan sebesar 5,52 persen (yoy).

Menurut Rizal, perlambatan konsumsi rumah tangga pada triwulan II perlu menjadi perhatian karena konsumsi masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, dengan porsi kontribusi sebesar 2,67 persen terhadap kinerja pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai level 5,29 persen (yoy).

Ketika konsumsi melemah sementara pertumbuhan ekonomi nasional tetap berkisar 5 persen, lanjut Rizal, artinya sumber pertumbuhan mulai lebih bergantung pada komponen lain seperti investasi dan belanja pemerintah.

Maka dari itu, perlu ada upaya untuk mendongkrak kembali kinerja konsumsi rumah tangga pada sisa tahun. Sejumlah langkah yang ia soroti mencakup pengendalian inflasi pangan, bantuan yang lebih tepat sasaran, insentif transportasi, serta kebijakan yang menekan biaya hidup.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |