Ekonomi Sirkular Buka Peluang Usaha

6 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Limbah yang belum terkelola masih menjadi persoalan lingkungan, sementara masyarakat pesisir dan petani menghadapi keterbatasan sumber penghasilan. Kondisi tersebut mendorong pengembangan bisnis sirkular yang mengolah limbah menjadi bahan baku sekaligus menciptakan nilai ekonomi bagi komunitas.

Data Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup mencatat 21,85 persen dari 56,63 juta ton sampah tahunan Indonesia belum terkelola secara maksimal. Indonesia juga memiliki 17,25 juta petani gurem dan lebih dari 90 persen nelayan skala kecil.

Pendekatan tersebut dikembangkan Parongpong RAW Lab dan Mycotech Lab (MYCL), dua social enterprise yang mendapat dukungan DBS Foundation. Keduanya mengembangkan material dari limbah dengan melibatkan masyarakat dalam rantai produksi.

Parongpong RAW Lab mengolah jaring ikan bekas atau ghost net di Cilincing, Jakarta, dan Muncar, Banyuwangi. Program tersebut menargetkan pengumpulan 20 ton ghost net, melibatkan lebih dari 600 nelayan dan 1.000 anggota komunitas pesisir, serta membangun dua microfactory.

Hingga Agustus 2026, pengumpulan ghost net mencapai lebih dari 4.500 kilogram atau sekitar 46 persen dari target 2026, dengan 179 nelayan terlibat. Material tersebut kemudian dikembangkan menjadi sejumlah produk, termasuk lampu meja berbahan jaring bekas.

CEO & Founder Parongpong RAW Lab Rendy Aditya Wachid mengatakan, pengembangan bisnis tersebut sekaligus memberi ruang bagi komunitas pesisir untuk masuk dalam rantai ekonomi sirkular.

“Dukungan DBS Foundation membantu kami membangun sistem yang lebih menyeluruh, mulai dari pengumpulan material, edukasi komunitas, peningkatan kapasitas teknologi, hingga pengembangan produk yang dapat diterima pasar. Bagi kami, dampak tidak berhenti pada pengurangan limbah, tetapi juga bagaimana komunitas pesisir dapat mengambil peran aktif dalam rantai ekonomi sirkular dan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih baik,” kata Rendy, Kamis (20/8/2026). 

Sementara itu, MYCL mengolah limbah pertanian menjadi biomaterial berbasis mycelium, termasuk mycelium composite, mycelium leather, dan seaweed biopolymer. Hingga 2026, MYCL telah melayani 968 pelanggan dari 56 negara dan melibatkan lebih dari 200 petani dalam rantai pasoknya.

Pada 2025, MYCL memanfaatkan 61,72 ton limbah biomassa dan menghindarkan sekitar 148,75 ton CO2e dari biomassa yang berpotensi dibakar atau dimulsa. Perusahaan juga menciptakan lebih dari 60 lapangan kerja hijau di MYCL Eco Factory.

Co-founder Mycotech Lab Ronaldiaz Hartantyo mengatakan, pemanfaatan limbah pertanian membuka peluang untuk membangun rantai pasok baru yang melibatkan petani dan pekerja.

“Bagi MYCL, dukungan DBS Foundation tidak hanya membantu kami mengembangkan teknologi, tetapi juga memperkuat fondasi agar inovasi dapat tumbuh menjadi bisnis berdampak. Dengan mengolah limbah pertanian menjadi biomaterial, kami ingin menciptakan material alternatif yang lebih rendah dampak, sekaligus membangun rantai nilai yang memberikan manfaat bagi petani, pekerja, dan industri yang ingin bergerak menuju masa depan yang lebih sirkular,” jelas Ronaldiaz.

Melalui DBS Foundation Grant, DBS Foundation telah menyalurkan lebih dari SGD21,5 juta hibah kepada lebih dari 160 social enterprise di Asia sejak 2015. Di Indonesia, hibah yang disalurkan mencapai lebih dari SGD4 juta kepada lebih dari 20 social enterprise dan bisnis berdampak.

Model yang dikembangkan kedua perusahaan menunjukkan bahwa ekonomi sirkular dapat mempertemukan persoalan lingkungan dengan kebutuhan ekonomi. Limbah tidak hanya diperlakukan sebagai persoalan pengelolaan, tetapi juga sebagai bahan baku yang dapat membuka rantai usaha dan sumber penghasilan baru.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |