REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Dwi Andreas Santosa mengingatkan pemerintah untuk memperkuat mitigasi dampak El Nino terhadap produksi pangan nasional pada paruh kedua 2026. Produksi padi diperkirakan dapat turun sekitar 3-5 persen apabila kondisi kekeringan akibat El Nino berlangsung kuat.
“Ada potensi terjadi penurunan produksi di beberapa komoditas,” kata Andreas dalam diskusi daring Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Menurut Andreas, padi dan jagung merupakan dua komoditas yang perlu mendapat perhatian khusus. Keduanya sangat bergantung pada ketersediaan air, sementara El Nino berpotensi mengurangi curah hujan dan memperpanjang periode kering di sejumlah sentra produksi pangan.
“Menurut saya terjadi penurunan produksi kira-kira sekitar 3-5 persen untuk padi. Selain itu, jagung kemungkinan juga akan menurun karena jagung juga perlu air,” ujar Andreas.
Peringatan tersebut sejalan dengan perkembangan iklim yang dilaporkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pemantauan BMKG pada akhir Juli 2026 menunjukkan anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 telah mencapai level yang menunjukkan El Nino kuat. Pembaruan BMKG pada awal Agustus bahkan mencatat intensitas El Nino telah berada pada kategori sangat kuat.
BMKG sebelumnya memprakirakan El Nino akan bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027, dengan puncak intensitas melampaui kategori kuat. Risiko kekeringan juga berpotensi diperparah Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada September hingga Desember 2026.
Sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan menghadapi musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal. BMKG mencatat 437 Zona Musim atau sekitar 48,77 persen luas daratan Indonesia berpotensi mengalami durasi kemarau lebih panjang. Curah hujan kategori tinggi diperkirakan baru mulai muncul secara bertahap pada Oktober-November 2026.
Andreas mengatakan kondisi tersebut berbeda dengan 2025 yang relatif menguntungkan sektor pertanian. Kondisi iklim yang lebih basah pada tahun lalu memungkinkan petani menjaga aktivitas tanam lebih panjang.
“Kita berhadapan dengan situasi yang kurang menguntungkan, yaitu fenomena El Nino, sedangkan tahun 2025 kemarin kita memang diberkahi fenomena iklim yang menguntungkan untuk pertanian yang kita sebut sebagai La Nina, sehingga kita bisa menanam sepanjang tahun,” ujar Research Associate CORE Indonesia tersebut.
Dampak kekurangan air, menurut Andreas, tidak hanya berpotensi menekan produktivitas tanaman, tetapi juga dapat mengubah keputusan petani mengenai komoditas yang ditanam. Petani jagung, misalnya, biasanya memanfaatkan musim tanam kedua setelah padi.
sumber : Antara

4 hours ago
8















































