Amalia Zahira, CNBC Indonesia
10 April 2026 17:10
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan global sempat bernapas lega setelah Amerika Serikat-Israel dan Iran menyepakati gencatan senjata. Namun, persoalan belum selesai.
Optimisme langsung tercermin dari penguatan harga emas dan saham dan obligasi global, bahkan indeks S&P 500 hanya terpaut sekitar 3% dari rekor tertingginya yang dicapai pada akhir Januari.
Kenaikan harga komoditas energi pun sejauh ini masih berada pada level "menyakitkan", tapi belum sampai menghancurkan permintaan global. Ini memperkuat keyakinan investor bahwa skenario resesi global disertai inflasi tinggi untuk sementara bisa dihindari.
Namun, euforia ini berpotensi hanya sementara. Investor sedang dihadapi dengan keadaan "maju kena mundur kena".
Jika gencatan senjata gagal bertahan, pasar bisa berbalik arah tajam karena investor harus mulai memperhitungkan konflik yang lebih berkepanjangan dan sulit diselesaikan.
Namun, jika gencatan senjata bertahan pun, tidak ada jaminan pemulihan ekonomi bisa terjadi dalam waktu dekat.
Ancaman Baru: Tarif, Gangguan Energi, hingga Rantai Pasok Global
Meski Selat Hormuz dibuka kembali, ketidakpastian belum hilang. Iran masih berpotensi mengenakan biaya tambahan terhadap jalur perdagangan energi tersebut. Apalagi setelah Israel menyerang Lebanon-melanggar kesepakatan gencatan senjata-pada Kamis (09/4/2026).
Di sisi lain, pemulihan pasokan energi global tidak akan instan. Negara-negara Teluk telah memangkas produksi minyak hingga 10 juta barel per hari atau sekitar 10% dari pasokan global. Proses mengembalikan produksi, memperbaiki infrastruktur, hingga mengatur ulang distribusi tanker membutuhkan waktu. Ditambah lagi, biaya asuransi pengiriman energi diperkirakan tetap tinggi.
Masalah semakin kompleks dengan terganggunya sektor gas. Fasilitas ekspor LNG Ras Laffan di Qatar kehilangan 17% kapasitas akibat serangan drone dan diperkirakan butuh waktu bertahun-tahun untuk pulih.
Dampak dari peristiwa ini merembet ke berbagai sektor:
Situasi ini semakin mempertegas peningkatan kebutuhan hedging terhadap risiko geopolitik, pandemi, dan konflik. Namun, biaya tambahan untuk berjaga-jaga ini justru membuat investasi tertahan dan menjadi semacam beban tersembunyi bagi ekonomi global.
Ketergantungan Energi Jadi Masalah: Dunia Harus Diversifikasi
Krisis ini kembali membuka satu fakta penting bahwa ketergantungan dunia pada satu jalur energi utama seperti Selat Hormuz adalah risiko besar.
Diversifikasi kini menjadi kata kunci. Negara-negara didorong untuk:
-
Mencari sumber energi baru di luar Timur Tengah,
-
Mempercepat pengembangan energi terbarukan,
-
Mengembangkan teknologi alternatif seperti nuklir dan eksplorasi gas baru.
Sejarah menunjukkan bahwa krisis energi justru sering memicu inovasi.
Krisis minyak 1970-an, misalnya, mendorong lahirnya investasi besar di energi nuklir di Prancis serta eksplorasi minyak Laut Utara oleh Inggris dan Norwegia. Bahkan revolusi fracking di Amerika Serikat juga berakar dari tekanan krisis energi sebelumnya.
Artinya, di balik ketidakpastian saat ini, ada peluang untuk membangun sistem energi global yang lebih aman dan berkelanjutan.
Skenario terbaik bagi dunia saat ini adalah berhasil menghindari krisis ekonomi besar dan mengambil pelajaran penting bahwa ketahanan energi adalah fondasi utama stabilitas ekonomi global.
(mae/mae)

13 hours ago
4

















































