Harga Batu Bara Mereda, Masih Dibayangi Kabar dari India dan China

2 hours ago 1

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

31 May 2026 08:07

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara acuan global terpantau mengalami fluktuasi sepanjang pekan terakhir Mei 2026. Pergerakan harga komoditas energi ini didorong oleh kombinasi sentimen yang beragam, mulai dari ketahanan pasokan di Asia, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, hingga wacana perubahan kebijakan ekspor di tingkat regional.

Berdasarkan data perdagangan, harga batu bara acuan ditutup pada level US$ 136,75 per ton pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Posisi ini menunjukkan penguatan tipis 0,22% secara mingguan dibandingkan dengan penutupan pekan sebelumnya (22/5/2026) yang berada di level US$ 136,45 per ton.

Harga komoditas ini sempat mengalami dorongan beli dan menyentuh titik tertinggi mingguannya pada Selasa (26/5/2026) di angka US$ 139,4 per ton, sebelum akhirnya berangsur terkoreksi menjelang akhir pekan.

Kesiapan Pasokan India dan Produksi Amerika Serikat

Di tengah pergerakan harga tersebut, kekhawatiran mengenai krisis pasokan di pasar India berhasil diredam. State-run Coal India Limited (CIL) menegaskan bahwa India memiliki total cadangan batu bara sebesar 168 juta ton untuk memenuhi ekspektasi lonjakan permintaan listrik selama bulan-bulan musim panas.

Hingga 23 Mei 2026, persediaan batu bara di berbagai pembangkit listrik mencapai 47,6 juta ton, sementara stok di mulut tambang tercatat sebesar 113,5 juta ton pada 24 Mei 2026, meningkat sekitar 10% secara tahunan.

CIL menegaskan bahwa volume ini cukup untuk menutupi 19 hari penggunaan operasional, sehingga penurunan stok saat puncak musim panas murni merupakan pola operasional normal, bukan indikasi kegagalan rantai pasok.

Dari belahan benua lain, data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan estimasi produksi batu bara Amerika Serikat naik tipis 0,42% menjadi 9,58 juta short tons pada pekan yang berakhir 23 Mei 2026.

Meski terdapat kenaikan secara mingguan, total produksi batu bara AS sejak awal 2026 tercatat mencapai 206 juta short tons, turun 0,5% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Imbas Geopolitik dan Insiden China

Sementara itu di pasar Eropa, harga batu bara spot terus merangkak naik menyentuh US$ 128 per ton akibat tingginya volatilitas di pasar gas alam. Hal ini dipicu oleh ketidakpastian krisis antara Amerika Serikat dan Iran yang membayangi lalu lintas komersial di Selat Hormuz.

Merespons risiko pasokan gas alam cair (LNG) dari Timur Tengah tersebut, Jepang berencana menangguhkan pembatasan pada pembangkit listrik batu bara berefisiensi rendah guna menghemat penggunaan LNG, sebuah langkah yang diproyeksikan akan mengerek permintaan batu bara berkalori tinggi.

Dari kawasan Asia Timur, sentimen kenaikan harga juga terjadi di China menyusul inspeksi keselamatan ketat pasca insiden ledakan tambang di provinsi Shanxi pada 22 Mei lalu.

Otoritas setempat memerintahkan setidaknya 118 perusahaan tambang untuk menangguhkan operasi sementara, yang diperkirakan dapat memangkas produksi batu bara Tiongkok sebesar 10 hingga 15 juta ton hanya pada bulan Juni.

Bersamaan dengan dinamika tersebut, pelaku pasar global juga terus mencermati sentimen dari Indonesia terkait rencana pembentukan badan negara Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) yang diwacanakan akan mengontrol pencatatan seluruh ekspor batu bara mulai Juni mendatang.

Hari ini, Minggu (31/5/2026), pemerintah akan menggelar konferensi pers terkait pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia guna memberikan sinyal kepada pasar internasional mengenai arah kebijakan dan juga proses manajemen yang akan diterapkan oleh pemerintah.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |