Harga Minyak Melemah Tipis Setelah Venezuela Kembali Ekspor

2 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak mentah dunia menghentikan tren penguatan pada perdagangan Rabu (14/1), setelah Venezuela kembali melanjutkan pengiriman ekspor minyak mentah (crude).

Meski harga minyak turun, kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan dari Iran masih membayangi pasar.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent tercatat turun 9 sen atau 0,14 persen ke level US$65,38 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 12 sen atau 0,20 persen menjadi US$61,03 per barel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penurunan ini terjadi setelah harga minyak mencatat reli selama empat hari berturut-turut. Pada perdagangan Selasa, Brent ditutup menguat 2,5 persen, sedangkan WTI naik 2,8 persen. Secara keseluruhan, kedua kontrak tersebut telah melonjak sekitar 9,2 persen dalam empat sesi terakhir.

Kenaikan harga sebelumnya dipicu meningkatnya aksi protes di Iran yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan dari negara tersebut, yang merupakan produsen minyak terbesar keempat di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (13/1), menyerukan warga Iran untuk terus melakukan protes dan mengatakan bantuan sedang dalam perjalanan, meski tidak merinci bentuk bantuan tersebut.

Analis Citigroup (Citi) menilai protes di Iran berisiko memperketat keseimbangan pasokan minyak global, terutama melalui meningkatnya premi risiko geopolitik. Citi pun menaikkan proyeksi harga Brent untuk tiga bulan ke depan menjadi US$70 per barel.

Meski demikian, Citi mencatat aksi protes sejauh ini belum meluas ke wilayah utama penghasil minyak Iran, sehingga dampaknya terhadap pasokan aktual masih terbatas. Risiko yang ada dinilai lebih condong pada hambatan politik dan logistik dibandingkan gangguan produksi langsung.

Di sisi lain, kekhawatiran terkait Iran tertahan oleh kabar dari Venezuela. Negara pendiri OPEC itu mulai membalikkan pemangkasan produksi minyak yang sebelumnya dilakukan di tengah embargo minyak AS, seiring dimulainya kembali ekspor minyak mentah.

Dua kapal supertanker dilaporkan meninggalkan perairan Venezuela pada Senin (12/1), dengan muatan sekitar 1,8 juta barel minyak mentah masing-masing.

Pengiriman tersebut diduga menjadi bagian awal dari kesepakatan pasokan sebesar 50 juta barel antara Caracas dan Washington untuk menghidupkan kembali ekspor, menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Meski diwarnai isu geopolitik, fundamental pasar minyak dinilai masih menunjukkan kondisi pasokan dan permintaan yang relatif longgar.

[Gambas:Video CNN]

(ldy/pta)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |