A TO Z
CNN Indonesia
Rabu, 13 Mei 2026 13:15 WIB
Ilustrasi. HFRS menjadi infeksi Hantavirus yang ditemukan paling umum di Indonesia. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat diramaikan oleh wabah Hantavirus yang melanda kapal pesiar MV Hondius di Samudera Atlantik. Tak sedikit masyarakat yang khawatir akan penularannya.
Hantavirus sendiri pada dasarnya merupakan sebutan bagi kelompok virus yang ditularkan oleh hewan pengerat. Jenis Hantavirus yang mewabah di MV Hondis berbeda dengan yang pernah ditemukan di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Indonesia, yang umum menular pada manusia adalah jenis Seoul Virus (SEOV). Strain virus ini menyebabkan hemorrhagic fever renal syndrome (HFRS).
"Virus Hanta yang ada di Indonesia itu adalah tipenya HFRS. Sekali lagi, berbeda dengan tipe yang terjadi di kapal pesiar Hondius," ujar Dirjen Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Andi Saguni dalam konferensi pers, Senin (11/5).
Kemenkes sendiri telah mencatat sebanyak 23 kasus positif Hantavirus selama periode tahun 2024 hingga pekan ke-16 2026.
Apa itu HFRS?
Sebagian besar jenis Hantavirus menyebabkan penyakit HFRS. Hanya jenis virus Andes yang menyebabkan Hantavirus pulmonary syndrome (HPS).
HFRS disebabkan oleh beberapa jenis Hantavirus seperti virus Puumala, Dobrava, Hantaan, hingga Seoul seperti yang ditemukan di Indonesia.
Mengutip laman Center for Disease and Prevention Control (CDC) Amerika Serikat (AS), tingkat keparahan HFRS bervariasi, tergantung pada virus penyebab infeksi.
Virus Hantaan dan Dobrava umumnya memicu gejala berat. Sementara virus Seoul dan Puumala umumnya lebih ringan.
Gejala HFRS
Secara spesifik, HFRS menyerang organ ginjal. Berbeda dengan HPS yang lebih menyerang organ pernapasan.
Gejala HFRS umumnya berkembang 1-2 minggu setelah paparan virus melalui hewan pengerat. Dalam kasus yang jarang terjadi, gejala bisa muncul 8 pekan usai paparan.
Gejala awal HFRS yang umum muncul di antaranya:
- demam,
- sakit kepala,
- sakit punggung dan perut,
- mual-muntah,
- penglihatan kabur,
- wajah dan mata memerah,
- ruam.
Seiring berjalannya waktu, gejala akan berkembang menjadi lebih parah. Beberapa gejala berat yang muncul di antaranya:
- tekanan darah rendah,
- syok akut,
- kebocoran pembuluh darah,
- gagal ginjal akut.
Namun, perlu digarisbawahi bahwa tingkat keparahan tergantung pada jenis virus penyebab. Virus Seoul seperti yang ditemukan di Indonesia umumnya memiliki gejala ringan, dengan tingkat kematian global sekitar 1-5 persen.
Penularan HFRS
Ilustrasi. HFRS dipastikan tidak menular antar-manusia. (iStock/Chan2545)
HFRS ditularkan melalui sekresi (kotoran dan air liur) hewan pengerat. Khusus varian Seoul yang sering ditemukan di Indonesia, virus dibawa oleh tikus got cokelat.
Seseorang bisa tertular jika:
- menghirup virus yang tersebar dalam bentuk aerosol,
- menyentuh urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi,
- menyentuh mata, hidung, atau mulut tikus terinfeksi,
- paparan sekresi tikus yang terinfeksi pada kulit yang terluka,
- menyentuh benda yang terkontaminasi sekresi tikus terinfeksi,
- konsumsi makanan yang terkontaminasi sekresi tikus yang terinfeksi.
Orang yang memelihara hewan pengerat juga bisa tertular melalui gigitan.
Kendati demikian, HFRS dipastikan tidak menular antar-manusia. Sejauh ini, belum ditemukan adanya penularan HFRS ke sesama manusia. HFRS hanya menular dari tikus ke manusia.
(asr)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
1

















































