Miskin atau Kaya yang Lebih Utama? Ini Jawaban Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad

1 month ago 9

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA --Dalam pandangan tasawufkemiskinan dan kekayaan bukanlah tujuanmelainkan ujian. Al-Allamah Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitab An-Nafaais al-Uluwiyyah fi al-Masaail ash-Shuufiyah menjelaskan bahwa kemuliaan seorang hamba ditentukan oleh kerelaankesabaran dan rasa syukurnya dalam menjalani ketetapan Allah SWT.

Asy-Syeikh Isa bin Ahmad Bahadhrami bertanya, "Bagaimana kedudukan miskin dan kaya, mana yang lebih utama di antara keduanyaserta apa dalil-dalilnya?"

Al-Allamah Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad menjawabDengan menyebut nama Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha PenyayangSegala puji bagi Allah SWT yang menjadikan kemiskinan sebagai perhiasan bagi hamba-hamba-Nya yang saleh. Orang-orang yang beruntung adalah mereka yang menerima kemiskinan dengan kerelaankepasrahan, rasa syukur dan kesabaran.

Namunjika kemiskinan diterima dengan kemarahan dan penentanganmaka sikap semacam itu dapat menyeret seseorang kepada siksa yang abadi. Banyak ayat Alquran dan hadis Baginda Nabi Muhammad SAW yang memuji orang-orang miskin yang bersifat sabarrela dan beradab kepada Allah SWT.

Di antaranya sabda Nabi Muhammad SAW, "Kemiskinan adalah perhiasan yang lebih mahal bagi seorang Mukmin daripada perhiasan yang ada pada seekor kuda yang mahal."

Sebaliknya, Allah SWT dan Rasul-Nya mencela orang miskin yang tidak menerima keadaannya dengan sabar dan pasrah. Di antaranya sabda Nabi Muhammad SAW, "Hampir saja kemiskinan dapat menyebabkan seseorang menjadi kafir."

Karena kemiskinan lebih mendekatkan seorang hamba kepada keselamatan dan kesuksesan dibandingkan kekayaanmaka banyak Nabi dan para wali Allah SWT terdahulu yang memilih kemiskinan daripada kekayaan.

Seorang fakir yang rela dan bersyukur atas kemiskinannya memperoleh kedudukan yang lebih tinggi daripada orang kaya yang gemar menafkahkan harta dan jiwanya di jalan Allah SWT. Sebaliknyaseorang fakir yang tidak rela dengan kemiskinannya nilainya lebih buruk daripada orang kaya yang hidup berfoya-foya.

"Kiranya demikianlah jawaban kami atas persoalan yang anda ajukan kepada kami,” demikian kata Al-Allamah Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |