Moral Tentara Runtuh Hingga Banyak Bunuh Diri, akankah Memaksa Israel untuk Bernegosiasi?

3 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA— Pakar militer dan strategis Dr Ahmed al-Sharifi memprediksi bahwa keruntuhan psikologis dan moral di jajaran tentara Israel akan menjadi faktor yang mendesak dan menentukan yang mendorong Tel Aviv untuk mengadopsi opsi negosiasi dan menghentikan perang.

Dikutip dari Aljazeera, Senin (7/7/2025), prediksi ini didasarkan pada angka-angka yang menunjukkan bahwa jumlah tentara yang bunuh diri sejak dimulainya perang di Gaza telah meningkat menjadi 43 kasus akibat gejala psikologis yang diakibatkan oleh pertempuran yang sedang berlangsung.

Situs web Walla Israel melaporkan bahwa seorang tentara Israel melakukan bunuh diri setelah menderita selama berbulan-bulan dalam perang di Gaza dan Lebanon dan setelah menyaksikan kengerian dan keganasan perang ini.

Penderitaan tentara tersebut, yang berakhir dengan bunuh diri, dimulai setelah dua temannya terbunuh dalam sebuah serangan pada 7 Oktober 2023, dan berlanjut dengan tugas militernya yang terus menerus di front Gaza dan Lebanon.

Keluarga tentara yang bunuh diri itu mengatakan bahwa putranya mengeluh tentang bau mayat dan kekejaman yang terus menerus dia saksikan di medan perang, dan keluarga menyatakan bahwa putranya mengangkut mayat-mayat tentara dari front Lebanon dan Gaza selama perang.

Menurut situs web tersebut, tentara Israel masih menolak untuk menguburkan tentara bunuh diri tersebut dalam sebuah upacara militer.

Faktor waktu

Menurut al-Sharifi, moral bertempur bersama senjata, dan seorang pejuang tidak dapat mempertahankan momentum pertempuran tanpa memperkuat doktrin dan moral tempurnya.

Ketika moral tidak berfungsi, hal itu berdampak negatif pada keinginan untuk bertempur, yang mengarah pada gangguan psikologis yang dapat menyebabkan bunuh diri.

Masalahnya terletak pada fakta bahwa Israel tidak menghitung faktor psikologis secara akurat, dan hanya berfokus pada peralatan tempur dan dukungan logistik.

Kesalahan perhitungan ini membuktikan, menurut pakar militer, bahwa keunggulan material tidak cukup untuk menghadapi tantangan psikologis di lapangan.

Krisis ini terlihat jelas dalam perkembangan di lapangan, ketika media Israel melaporkan bahwa dua tentara terluka oleh rudal anti-peluru kendali di Gaza utara.

Insiden ini menunjukkan ketidakmampuan tentara untuk menghadapi taktik perlawanan secara efektif meskipun mereka memiliki keunggulan dalam hal kemampuan.

Meskipun tentara Israel lebih unggul dalam layanan administrasi, jalur dukungan, kemampuan senjata dan kemampuan untuk kembali ke barak dan beristirahat, keruntuhan tersebut telah menjadi jelas, mengungkapkan kelemahan yang mendalam dalam doktrin tempur yang menjadi pendorong utama pejuang, menurut pakar militer.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |