CNN Indonesia
Sabtu, 05 Apr 2025 06:16 WIB

Jakarta, CNN Indonesia --
Kepala negara anggota kelompok regional Bimstec sepakat menyiapkan langkah untuk melawan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat bertemu di Thailand, Jumat (4/4).
Bimstec merupakan kependekan dari Bay of Bengal Initiative for Multi-Sectoral Technical and Economic Cooperation. Organisasi ini terdiri dari India, Thailand, Myanmar, Bangladesh, Nepal, Bhutan, dan Sri Lanka.
Mereka yang hadir dalam pertemuan yakni Perdana Menteri India Narendra Modi, pemimpin sementara Bangladesh Muhammad Yunus, Perdana Menteri Sri Lanka Harini Amarasuriya, KP Sharma Oli dari Nepal, Tshering Tobgay dari Bhutan, dan Min Aung Hlaing dari Myanmar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand Nikorndej Balankkura mengatakan para pemimpin menekankan perlu bekerja sama mengingat ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang meningkat.
Namun, mereka tak membeberkan lebih rinci langkah apa yang disiapkan untuk merespons tarif timbal balik Trump.
Dalam pertemuan tersebut, para pemimpin negara mengadopsi Visi Bangkok 2030 yang mengurai tujuan jangka Panjang kerja sama ekonomi dan keamanan.
Perdana Menteri Thailand Paetongarn Sinawatra mengatakan dokumen itu akan berfungsi sebagai cetak biru untuk kerja sama masa depan di antara anggota, demikian dikutip Bangkok Post.
Selain itu, anggota Bimstec menandatangani enam perjanjian, termasuk kerja sama transportasi laut untuk meningkatkan konektivitas antara Asia Selatan dan Asia Tenggara serta pencegahan bencana.
Negara-negara anggota Bimstec juga telah mengupayakan kesepakatan perdagangan bebas.
Pertemuan puncak ini menjadi kesempatan langka bagi Jenderal Min Aung Hlaing, yang mengkudeta pemerintahan sah pada 2021. Sejak saat itu, dia memerangi kelompok pemberontak untuk mempertahankan kendali dan kekuasaannya.
Trump menetapkan tarif timbal balik untuk 180 negara pada Rabu (2/4). Bangladesh dikenai tarif 37 persen, Thailand 36 persen, Myanmar 44 persen, Nepal 10 persen, India 26 persen, Sri Lanka 44 persen.
(isa/dna)