Petinggi Dunia Buka Suara Komentari Kebijakan Tarif Trump

19 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden AS Donald Trump mengatakan bakal mengenakan tarif dasar 10 persen pada semua impor ke Amerika Serikat dan bea masuk yang lebih tinggi pada beberapa mitra dagang terbesar negara itu.

Hal tersebut menjadi sebuah langkah yang meningkatkan perang dagang yang ia mulai saat kembali ke Gedung Putih. Para petinggi negara di dunia pun buka suara mengenai kebijakan tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trump tidak mengenakan tarif global 10 persen yang baru pada barang-barang dari mitra dagang utama Kanada dan Meksiko.

Sementara perintah sebelumnya tetap berlaku untuk tarif hingga 25 persen pada banyak barang dari kedua negara atas masalah kontrol perbatasan dan perdagangan fentanil, Gedung Putih mengatakan dalam sebuah lembar fakta.

Situasi tersebut membuat Perdana Menteri Kanada Mark Carney memastikan mereka bakal melawan kebijakan tarif Trump, seperti diberitakan Reuters.

"(Trump) telah mempertahankan sejumlah elemen penting dari hubungan kita, hubungan komersial antara Kanada dan Amerika Serikat. Namun tarif fentanil masih tetap berlaku, seperti halnya tarif untuk baja dan aluminium," kata Carney.

"Kami akan melawan tarif ini dengan tindakan balasan, kami akan melindungi pekerja kami, dan kami akan membangun ekonomi terkuat di G7," ia menegaskan.

[Gambas:Video CNN]

Sikap serupa disampaikan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese. Ia menyatakan penetapan tarif tersebut tidak dapat dibenarkan.

"Rakyat Amerika lah yang akan membayar harga tertinggi untuk tarif yang tidak dapat dibenarkan ini. Ini lah sebabnya pemerintah kami tidak akan berusaha untuk mengenakan tarif timbal balik," ucap Albanese.

"Kami tidak akan bergabung dalam perlombaan menuju harga terendah yang mengarah pada harga yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat."

Keinginan untuk menghindari perang dagang turut diutarakan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni serta Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson.

"Kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat, dengan tujuan menghindari perang dagang yang pasti akan melemahkan Barat demi kepentingan pemain global lainnya," tutur Meloni.

"Kami tidak menginginkan hambatan perdagangan yang semakin besar. Kami tidak menginginkan perang dagang. Kami ingin menemukan jalan kembali ke jalur perdagangan dan kerja sama bersama dengan AS, sehingga orang-orang di negara kami dapat menikmati kehidupan yang lebih baik," ucap Kristersson.

Terpisah, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez dan Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin satu suara memastikan bakal berupaya melindungi perusahaan, lapangan kerja, hingga pekerja negara mereka di tengah situasi itu.

"Spanyol akan melindungi perusahaan dan pekerjanya dan akan terus berkomitmen untuk dunia yang terbuka," ujar Sanchez.

"Keputusan AS malam ini untuk mengenakan tarif 20 persen pada impor dari seluruh Uni Eropa sangat disesalkan. Saya sangat yakin bahwa tarif tidak menguntungkan siapa pun. Prioritas saya, dan prioritas pemerintah, adalah melindungi lapangan kerja Irlandia dan ekonomi Irlandia."

Manfred Weber selaku Presiden EPP, partai terbesar di parlemen Eropa dengan tegas menyatakan kebijakan tarif Trump tidak memberikan keuntungan kepada dunia.

"Bagi teman-teman Amerika kami, hari ini bukanlah hari pembebasan - ini adalah hari kebencian. Tarif Donald Trump tidak membela perdagangan yang adil; mereka menyerangnya karena takut dan merugikan kedua belah pihak di Atlantik. Eropa bersatu, siap untuk membela kepentingannya, dan terbuka untuk perundingan yang adil dan tegas."

Trump pada Rabu (2/4) mengumumkan tarif setidaknya 10 persen untuk hampir semua barang yang masuk ke Amerika Serikat, ditambah tarif yang lebih tinggi untuk puluhan negara yang memiliki defisit perdagangan tertinggi dengan Amerika Serikat.

Kebijakan baru Trump tersebut merupakan perubahan dramatis dalam perdagangan global dan kebijakan ekonomi. Kebijakan ini disebut bertujuan memulihkan kecakapan manufaktur AS dan neraca perdagangan.

Namun, kebijakan tarif baru ini dianggap akan meningkatkan perang dagang global yang terus mengemuka dan konsumen Amerika akan merasakan kenaikan harga di saat perekonomian sedang genting.

(reuters/chri)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |