Prospek Investasi di Saham Emerging Market Kuartal I-2026

8 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Memasuki kuartal pertama tahun 2026, terjadi pergeseran signifikan dalam lanskap investasi global, sebuah fenomena yang jarang disaksikan dalam dekade terakhir. Setelah dominasi pasar didominasi oleh kisah sukses saham teknologi Amerika Serikat (AS) selama sepuluh tahun, awal tahun ini menandai kebangkitan kembali Pasar Negara Berkembang (Emerging Markets/EM) yang sebelumnya kurang mendapat perhatian.

Emerging Markets terdiri dari negara-negara dengan karakteristik pasar maju namun belum sepenuhnya memenuhi standar tersebut, seperti Tiongkok, India, Indonesia, dan Brasil.

Pasar negara berkembang (EM) kini menjadi magnet utama bagi investor yang mengejar alpha, bukan lagi sekadar pelengkap portofolio. Apalagi setelah didorong oleh kondisi badai global seperti Dolar AS yang melemah, lonjakan harga komoditas, dan valuasi yang masih sangat menarik, EM menawarkan mesin pertumbuhan yang kuat, terutama di tengah potensi kejenuhan di pasar negara maju.

Kilas Balik 2025: Saham EM Lampaui S&P500

Sebelumnya banyak pihak sempat merasa skeptis. Sentimen pasar dibayangi oleh ancaman tarif dagang dari pemerintahan Trump dan kekhawatiran akan perlambatan konsumsi di Tiongkok. Namun, realitas pasar menunjukkan hal yang berbeda.

Pasar Negara Berkembang (Emerging Markets) justru menunjukkan ketangguhan, mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 33,6%. Angka ini jauh melampaui pertumbuhan S&P 500 yang hanya mencapai 17% dan MSCI World sebesar 21%.

Ini adalah performa terbaik EM relatif terhadap negara maju sejak tahun 2017. Apa yang berubah?

Retaknya Tesis "King Dollar": Investor mulai mencari lindung nilai (hedge) di luar aset AS seiring dengan kekhawatiran defisit dan inflasi.
Revolusi AI di Timur: Publik diingatkan bahwa tulang punggung kecerdasan buatan (AI) ada di Asia. Tiongkok, Korea Selatan, dan Taiwan membuktikan posisi mereka sebagai pemain kunci infrastruktur AI global.

Pertumbuhan Laba (EPS) yang Solid: Laba per saham perusahaan di negara berkembang tumbuh mengejutkan sebesar 16% pada 2025, dan diproyeksikan melonjak melampaui 20% pada tahun 2026.

Memasuki Q1 2026, tema besar investasi akan bergeser dari "US Growth" menuju "EM Growth & Value". Dengan aliran modal yang diprediksi akan mendominasi sektor komoditas dan aset riil. investor ritel Indonesia diPluang dapat membeli Vanguard Emerging Markets Stock Index Fund ETF (VWO).

Mengapa Saham EM Sangat Menarik di Q1 2026?

1. Revaluasi Dolar AS: Narasi "Sell America" Dimulai

Secara historis, Dolar AS saat ini berada di level yang sangat mahal. Pada awal 2026, kita mulai melihat fenomena realokasi besar-besaran keluar dari aset AS.

Penjualan Dolar ini secara otomatis menekan nilai tukar USD, yang menjadi berkah bagi negara berkembang. Ketika Dolar melemah, terjadi efek domino positif bagi EM:

-Search for Yield: Imbal hasil (yield) aset AS menjadi kurang kompetitif, memaksa manajer investasi global mencari return lebih tinggi di pasar EM yang valuasinya jauh lebih terdiskon.

-Beban Utang Berkurang: Banyak negara berkembang memiliki utang dalam denominasi Dolar. Pelemahan USD secara langsung menurunkan beban pembayaran utang dan memperkuat posisi fiskal negara tersebut.

-Ruang Kebijakan Moneter: Tekanan inflasi impor menurun saat mata uang lokal menguat terhadap Dolar. Ini memberi ruang bagi bank sentral di negara berkembang (seperti Bank Indonesia) untuk menjaga suku bunga tetap akomodatif atau bahkan menurunkannya guna memacu pertumbuhan domestik.

2. Hubungan Terbalik Dolar dan Komoditas

Salah satu hukum dasar pasar keuangan adalah korelasi negatif antara Dolar dan komoditas. Karena mayoritas komoditas dihargai dalam USD, Dolar yang lemah membuat harga energi, logam, dan pangan menjadi lebih murah bagi pembeli global, sehingga mendongkrak permintaan.

Bagi negara seperti Brasil, Indonesia, dan Chile yang merupakan eksportir utama, kondisi ini memperbaiki terms of trade dan memperkuat neraca berjalan. Pendapatan korporasi di sektor pertambangan dan agrikultur pun dipastikan meningkat tajam.

3. Konvergensi Profitabilitas: Mengejar Ketertinggalan dari AS

Selama bertahun-tahun, investor enggan melirik EM karena profitabilitasnya dianggap kalah jauh dibandingkan perusahaan raksasa AS. Namun, data Q1 2026 menunjukkan terjadinya konvergensi profit (titik temu).

Konsensus analis memperkirakan pertumbuhan Earning Per Share (EPS) EM tahun ini mencapai 21%, jauh melampaui AS (15%) dan pasar maju lainnya (13%). Sektor teknologi di Asia kini tidak hanya bicara soal inovasi, tapi juga soal efisiensi modal yang mampu menyamai Return on Equity (ROE) pasar global.

Jika tren ini berlanjut, kita sedang menyaksikan awal dari siklus kekuatan jangka panjang yang baru.

Kondisi Pasar: Kepemilikan Masih Rendah (Underweight)

Meskipun terjadi reli besar sepanjang 2025, mayoritas investor institusi global ternyata masih berada dalam posisi underweight atau memiliki porsi saham EM di bawah bobot ideal dalam portofolio mereka.

Insight Strategis: Masih ada tumpukan "uang baru" yang sangat besar yang belum masuk ke pasar EM. Ketika institusi mulai melakukan rebalancing untuk menetralkan posisi mereka, permintaan terhadap saham EM akan melonjak, mendorong harga lebih tinggi lagi.

Menurut Jason Gozali, Head of Research Pluang, likuiditas pasar EM juga didorong oleh kebangkitan investor ritel. Meski partisipasi ritel cenderung memiliki cakrawala waktu yang lebih pendek dan sering kali reaktif terhadap berita (sering terjadi panic selling atau euphoria buying), mereka memberikan volume perdagangan yang diperlukan bagi pasar untuk tetap dinamis.

Bagi investor cerdas, volatilitas yang diciptakan ritel justru menjadi peluang untuk melakukan strategi active rotation dan thematic investing.

Kebangkitan Emas dan Sektor Komoditas

Memasuki 2026, terjadi "Reversion to the Mean". Aset riil mulai mengungguli aset keuangan.

-Copper (Tembaga)

Menjadi motor penggerak karena investasi masif di data center AI dan elektrifikasi global. Kurangnya pasokan bijih tembaga (ore) akibat larangan ekspor mentah di beberapa negara membuat emiten pertambangan berada di atas angin.

Salah satu emiten yang diuntungkan adalah Freeport-McMoRan Inc. (FCX), sebagai salah satu produsen tembaga terbesar di dunia.

-Tin (Timah) dan Nikel

Permintaan tetap kuat berkat ekspansi sektor elektronik dan transisi energi hijau (EV). Sebagai salah satu produsen utama dunia, Indonesia berada di posisi strategis.

Salah satu emiten yang diuntungkan adalah VALE (Vale S.A.), raksasa tambang asal Brazil ini diuntungkan oleh reputasi ESG-nya. Di saat nikel murah dari sumber yang "kotor" ditolak pasar Barat, nikel dari VALE mendapatkan harga premium.

-Gold

Saat investor mulai melakukan "Sell America" karena valuasi yang mahal, emas berfungsi sebagai penyimpan nilai utama ketika aset keuangan tradisional mengalami volatilitas tinggi.

Di pluang kamu bisa mengakses berbagai produk emas seperti: PAX Gold (PAXG), Tether Gold (XAUT), XAUTUSDT-PERP, SPDR Gold Shares (GLD), Emas Digital dengan harga real-time.

Saatnya Diversifikasi Global

Kondisi ekonomi di Q1 2026 telah mengirimkan sinyal yang tak terbantahkan: era dominasi pasar Amerika Serikat sebagai kekuatan tunggal mulai meredup, membuka jalan bagi bangkitnya Emerging Markets (Pasar Negara Berkembang). Dengan menguatnya fundamental perusahaan, valuasi yang masih menarik, dan posisi investor yang relatif minim di kelas aset ini, risiko terbesar yang dihadapi saat ini adalah kehilangan peluang investasi sepenuhnya di pasar negara berkembang.

Bagi Anda pengguna Pluang, momentum ini adalah saat yang tepat untuk mulai melihat aset-aset internasional selain saham teknologi AS. Baik itu melalui indeks pasar negara berkembang maupun komoditas strategis seperti emas, nikel dan tembaga, diversifikasi ke EM bisa menjadi kunci performa portofolio Anda di tahun 2026.

Note: Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan/atau Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.

Disclaimer: Segala analisis atau rekomendasi dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual aset tertentu. Keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi.

(rah/rah)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |