Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan pagi ini, Rabu (14/1/2026).
Mengacu pada data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp16.850/US$ atau terapresiasi 0,06%. Penguatan ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya rupiah mengalami tekanan dengan pelemahan 0,21% hingga menembus level Rp16.860/US$, yang menjadi posisi terlemah dalam sekitar delapan bulan terakhir.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB masih berada di zona penguatan dengan naik 0,11% ke level 99,236. Kenaikan DXY tersebut melanjutkan penguatan pada perdagangan kemarin, ketika indeks dolar mencatatkan kenaikan 0,28%.
Penguatan dolar AS di pasar global masih menjadi salah satu faktor yang dapat menjadi penekan bagi pergerakan rupiah pada pagi hari ini. Kenaikan indeks dolar mencerminkan meningkatnya permintaan investor terhadap aset berdenominasi dolar, seiring aksi jual pada mata uang non-dolar.
Kondisi tersebut kerap membebani mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, karena arus dana cenderung kembali mengalir ke Amerika Serikat.
Dolar AS mendapat sentimen positif setelah rilis data inflasi konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS yang relatif sejalan dengan ekspektasi pasar.
Data tersebut memperkuat keyakinan bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan akhir Januari ini, meskipun terdapat tekanan politik dari Gedung Putih untuk segera menurunkan suku bunga.
Pada Desember, CPI AS tercatat naik 0,3% secara bulanan, didorong oleh kenaikan harga sewa dan pangan. Data ini semakin mengukuhkan ekspektasi pasar bahwa The Fed akan bersikap wait and see, dengan kontrak Fed funds futures saat ini mencerminkan probabilitas sekitar 95,6% bahwa suku bunga akan ditahan pada pertemuan FOMC 27-28 Januari mendatang.
Dari dalam negeri, ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai pelemahan rupiah saat ini turut dipicu oleh arus keluar dana asing atau hot money flow, khususnya dari pasar surat utang negara (SUN).
"Kelihatannya investor asing banyak yang keluar dulu ambil untung," ujar Myrdal kepada CNBC Indonesia, Rabu (14/1/2026).
Menurutnya, kondisi geopolitik global yang kurang kondusif menjadi faktor utama yang mendorong investor bersikap lebih defensif. Ketegangan di berbagai kawasan, mulai dari konflik Amerika Serikat-Venezuela, Rusia-Ukraina, hingga meningkatnya tensi China-Taiwan, membuat dolar AS kembali diburu sebagai aset aman (safe haven).
"Ini kan banyak, belum lagi dari Iran, dan kita lihat juga mata uang Asia yang lain juga melemah terhadap dolar, jadi tidak hanya rupiah," ujarnya.
Meski demikian, Myrdal menilai tekanan terhadap rupiah masih berada dalam batas yang dapat dikelola. Ia menegaskan Bank Indonesia masih memiliki amunisi kebijakan yang memadai untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen intervensi di pasar keuangan.
(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2

















































