Stok Beras Dunia Melimpah, Tapi Dikuasai China

2 hours ago 1

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

14 January 2026 13:20

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar beras global memasuki 2025/26 dalam kondisi yang lebih longgar dibanding setahun sebelumnya.

Melansir dari laporan USDA stok akhir dunia naik dari sekitar 180 juta ton pada 2023/24 menjadi 191 juta ton di 2024/25, lalu hanya turun tipis menjadi sekitar 190 juta ton pada 2025/26.

Produksi global tetap berada di kisaran 540-541 juta ton, sementara konsumsi dunia mendekati 542 juta ton.

Artinya, sistem pangan beras dunia kini tidak lagi berada di fase defisit seperti saat El Niño 2023, melainkan bergerak ke rezim keseimbangan rapuh suplai cukup, tetapi tanpa bantalan besar.

Mekanisme di balik stabilitas ini bukan berasal dari eksportir tradisional, melainkan dari China dan Asia Timur. Dalam proyeksi USDA, kenaikan stok dunia 2025/26 hampir seluruhnya berasal dari China, Jepang, dan Bangladesh.

China sendiri diperkirakan menyimpan lebih dari 105 juta ton beras pada akhir 2025/26. Itu berarti lebih dari separuh stok beras dunia berada di satu negara. Di pasar internasional, ini menciptakan paradoks: stok global tinggi, tetapi likuiditas beras yang benar-benar tersedia untuk perdagangan jauh lebih sempit.

Konsekuensinya terlihat di perdagangan dunia. Volume ekspor global 2025/26 hanya sekitar 63,5 juta ton, naik tipis dari tahun sebelumnya. India tetap menjadi jangkar utama dengan ekspor sekitar 25 juta ton, sementara Vietnam dan Thailand berada di kisaran 7-8 juta ton. Pakistan justru direvisi turun.

Amerika Serikat kehilangan daya saing karena biaya dan lemahnya permintaan di Amerika Latin. Pasar beras dunia kini bukan pasar yang kelebihan pasokan, melainkan pasar dengan pasokan terkonsentrasi pada sedikit pemain.

Di tengah struktur itu, negara-negara importir besar justru belum mengendur. Total impor kelompok importir utama tetap di atas 22 juta ton. Filipina diproyeksikan mengimpor 4,6 juta ton pada 2025/26, Nigeria 3,2 juta ton, dan Timur Tengah lebih dari 5 juta ton. Artinya, tekanan permintaan dunia tetap tinggi walaupun stok global terlihat besar di atas kertas.

Indonesia masuk ke dalam lanskap ini dengan profil yang unik. Dalam proyeksi USDA Januari 2026, produksi beras Indonesia 2025/26 berada di sekitar 33,6 juta ton, konsumsi 35,3 juta ton, dan impor hanya 0,8 juta ton.

Stok akhir diperkirakan 4,6 juta ton, lebih rendah dibanding 2024/25 yang sekitar 5,5 juta ton. Secara matematis, neraca ini menunjukkan Indonesia tidak sedang berada di fase ekspansi stok, melainkan di fase pemanfaatan stok.

Di titik ini, kalender panen menjadi variabel penentu.

Pemerintah menyatakan panen raya 2026 dipercepat ke Februari, dengan target produksi 5-10% lebih tinggi dari 2025 dan sasaran stok Bulog 4 juta ton.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifili Hasan (Zulhas) mengatakan panen raya beras Indonesia di 2026 bisa lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.

Zulhas menjelaskan panen raya bisa terjadi pada Februari 2026, dari yang seharusnya Maret 2026.

"Dari Pak Menteri Pertanian Amran Sulaiman, untuk Bulog, tahun ini lebih cepat lagi panen raya-nya, kalau dulu Maret, ini Februari sudah bisa panen raya," kata Zulhas dalam konferensi pers, Senin (12/1/2026).

Pemerintah pun menargetkan produksi beras di 2026 bisa lebih tinggi dari 2025, yakni sekitar 5%-10%.

"Diperkirakan produksi beras lebih tinggi daripada 2025, sekitar 5-10% lebih tinggi lagi," lanjut Zulhas.

Atas dasar itu, target stok beras Bulog untuk 2026 ditetapkan sebanyak 4 juta ton.

Jika realisasi produksi benar-benar naik sesuai klaim, maka tekanan impor bisa ditekan lebih jauh.

Namun pasar beras tidak bekerja pada basis tahunan, melainkan pada basis mingguan. Stok Bulog harus tersedia sebelum panen masuk, bukan setelahnya.

Inilah mengapa proyek ekspansi gudang Bulog menjadi relevan secara ekonomi. Dengan stok target 4 juta ton, setiap gangguan distribusi atau keterlambatan serapan panen akan langsung terlihat di pasar fisik. Struktur pasar beras Indonesia bersifat forward-looking. Harga bereaksi bukan saat beras habis, melainkan saat pasar membaca stok tidak cukup untuk menutup jeda panen.

Sementara itu, pasar global tidak menawarkan bantalan murah. Ekspor dunia dikendalikan oleh India dan Asia Tenggara. Jika India memperketat ekspor, atau Vietnam menahan stok akibat faktor domestik, harga dunia akan bergerak lebih cepat dibanding kapasitas Indonesia untuk mengoreksi kebijakan.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |