Jakarta, CNN Indonesia --
Studi lembaga Save the Children Indonesia pada 2025 menemukan hampir 40 persen anak usia SMP menghabiskan waktu antara tiga hingga enam jam per hari di depan gawai atau terpapar perangkat digital.
Dalam studinya, mereka menemukan anak perempuan lebih banyak menghabiskan waktunya di depan gawai.
Peneliti juga mendapati puncak penggunaan gawai terjadi pada pukul 18.00 hingga 21.00.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anak perempuan tercatat menghabiskan waktu layar lebih lama dibandingkan anak laki-laki. Hal ini membuktikan bahwa anak-anak Indonesia kian menjadikan ruang digital sebagai bagian utama kehidupan sehari-hari, namun pada saat yang sama mereka menghadapi tekanan serius terhadap kesehatan mental dan perlindungan diri," kata CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, Kamis (15/1) seperti dikutip dari Antara.
Temuan itu menunjukkan bahwa dunia digital telah menjadi ruang hidup utama anak. Bahkan di sekolah yang telah melarang penggunaan telepon seluler, banyak anak tetap berupaya mengakses gawai pada jam pelajaran.
Studi tersebut juga mengungkap bahwa peningkatan literasi digital tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan mental anak. Semakin tinggi tingkat kecanduan digital, semakin buruk kondisi kesehatan mental mereka.
Selain itu, dia mengatakan anak-anak sudah memahami risiko di ruang digital seperti penipuan, perundungan siber, hingga pencurian data. Namun, pengetahuan mereka tak diikuti keterampilan untuk merespons secara aman dan sehat.
"Anak-anak tahu risiko di ruang digital, tapi mereka bingung harus berbuat apa. Literasi digital saja tidak cukup. Anak membutuhkan penguasaan kompetensi digital yang utuh, pendampingan orang tua, serta dukungan kesehatan mental yang memadai," kata Dessy.
Menghadapi kondisi tersebut, Save the Children Indonesia menekankan pentingnya pendekatan perlindungan anak yang komprehensif dan terintegrasi.
Memasuki 2026, kata Dessy, sejumlah prioritas dinilai mendesak, antara lain memperkuat keamanan digital anak melalui peningkatan keterampilan, sistem perlindungan, serta partisipasi anak, guru, dan orang tua.
"Menuju Indonesia Emas 2045, investasi terbesar kita adalah memastikan anak-anak tumbuh dengan aman, sehat, dan tangguh menghadapi krisis dan perubahan zaman. Tanpa perlindungan dan pemenuhan hak anak hari ini, cita-cita itu akan sulit tercapai," kata dia
(antara/kid)

2 hours ago
1













































