Jakarta, CNN Indonesia --
Pihak berwenang Thailand menggelar penyelidikan terhadap proyek konstruksi lain terkait kontraktor China yang membangun gedung di Bangkok dan runtuh imbas gempa.
Gedung yang roboh itu akan dijadikan Kantor Audit Negara (SAO) dan dibangun Italian Thai Development (ITD) bekerja sama dengan China Railway No.10.
Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra menginstruksikan berbagai lembaga untuk menyelidiki semua proyek konstruksi ke China Railway No.10 Engineering Group.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semua instansi terkait diinstruksikan melakukan investigasi lebih dalam untuk mengetahui berapa banyak proyek lain yang sedang dikerjakan perusahaan itu," kata Paetongtarn, dikutip Bangkok Post, Rabu (2/4).
Lebih lanjut, PM itu menerangkan Menteri Kehakiman Tawee Sodsong telah memerintah Departemen Investigasi Khusus (DSI) untuk menyelidiki terkait insiden tersebut.
Penyelidikan akan dilakukan terkait tuduhan batang baja yang dipakai dalam konstruksi tak memenuhi standar.
Sampel dua ukuran batang baja dari lokasi gedung SAO gagal uji memenuhi massa, komposisi kimia, dan kemampuan menahan tekanan sebelum patah.
Menurut laporan, logam tersebut dibuat perusahaan yang pabriknya sudah ditutup karena pelanggaran lain sejak Desember.
Paetongtarn juga mengatakan bangunan yang runtuh menelan korban jiwa dan memberi dampak negatif ke citra Thailand.
"Semua bangunan di Bangkok harus memenuhi standar hukum. Keselamatan harus menjadi prioritas utama," ujar dia.
Gedung lainnya
SAO mengontrak konsorsium Italian-Thai Development Plc dan China Railway No.10 untuk membangun gedung tersebut.
China Railway juga mengerjakan proyek lain seperti gedung Kantor Sumber Daya Air Nasional dan beberapa bagian proyek kereta api cepat Bangkok-Nong Khai
Wakil Menteri Perdagangan Napintorn Srisunpang mengatakan penyelidikan awal menemukan pemegang saham China Railway No.10 Engineering Group terkait dengan 13 perusahaan lain.
Dia mengatakan tim bakal menyelidiki apakah kelompok tersebut terlibat dalam kolusi atau menggunakan nominee (pinjam nama) Thailand.
Kementerian, kata Napintorn, akan meneruskan temuan ke Departemen Investigasi Khusus (DSI).
Napintorn juga menyebut pemeriksaan awal menemukan bahwa 51 persen saham grup dipegang warga negara Thailand dan 49 persen oleh warga China.
Gedung tersebut roboh saat gempa dengan magnitudo 7,7 di Myanmar turut mengguncang Thailand pada pekan lalu.
Imbasnya, 19 orang meninggal. Dari jumlah ini, 12 orang di antaranya tewas di gedung tersebut.
(asa)