Update Terbaru Chaos Iran: Korban Jiwa Tembus 2.000-Pesan Khamenei

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang demonstrasi yang melanda Iran memasuki fase paling berdarah dalam beberapa dekade terakhir. Di tengah pemadaman komunikasi dan pengerahan besar-besaran aparat keamanan, kelompok pemantau hak asasi melaporkan jumlah korban tewas telah menembus angka 2.000 orang, sementara warga untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir kembali bisa menghubungi dunia luar.

Menurut Human Rights Activists News Agency yang berbasis di Amerika Serikat, hingga Selasa (13/1/2026), jumlah korban jiwa akibat protes nasional di Iran mencapai sedikitnya 2.003 orang. Angka ini jauh melampaui korban dalam setiap putaran unjuk rasa atau kerusuhan lain di Iran selama puluhan tahun, bahkan mengingatkan pada kekacauan yang menyertai Revolusi Islam 1979.

Media pemerintah Iran untuk pertama kalinya mengakui adanya korban tewas. Televisi pemerintah mengutip seorang pejabat yang mengatakan negara memiliki "banyak martir" dan menyebutkan bahwa otoritas tidak merilis jumlah korban sebelumnya karena para korban mengalami luka-luka yang mengerikan.

Pernyataan itu disiarkan setelah para aktivis lebih dulu mempublikasikan angka korban.

Aksi protes dimulai sedikit lebih dari dua pekan lalu, dipicu kemarahan publik atas memburuknya kondisi ekonomi Iran. Dalam perkembangannya, demonstrasi dengan cepat mengarah pada penentangan terhadap sistem teokrasi, terutama terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang kini berusia 86 tahun.

Gambar-gambar yang diperoleh The Associated Press dari aksi demonstrasi di Teheran pada Selasa memperlihatkan coretan grafiti dan teriakan massa yang menyerukan kematian bagi Khamenei, sebuah tindakan yang di Iran dapat berujung hukuman mati.

Tak lama setelah angka korban terbaru diumumkan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menulis di platform Truth Social miliknya, "Para patriot Iran, TERUSLAH BERPROTES - KUASAI LEMBAGA-LEMBAGA KALIAN!!!"

Ia menambahkan, "Saya telah membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran sampai pembunuhan demonstran yang tidak masuk akal ini BERHENTI. BANTUAN SEDANG DALAM PERJALANAN."

Namun, beberapa jam kemudian Trump menyampaikan nada yang lebih hati-hati. Kepada wartawan, ia mengatakan pemerintahannya masih menunggu laporan yang akurat mengenai jumlah pengunjuk rasa yang tewas sebelum bertindak "demikian."

Trump juga menyinggung aparat keamanan Iran dengan mengatakan, "Menurut saya, mereka telah berperilaku sangat buruk, tetapi hal itu belum terkonfirmasi."

Peringatan balik datang dari pejabat Iran. Ali Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. "Kami menyatakan nama-nama pembunuh utama rakyat Iran: 1- Trump 2- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu."

Lonjakan Korban Tewas

Kelompok aktivis itu merinci bahwa dari total korban, 1.850 orang merupakan pengunjuk rasa, sementara 135 lainnya berafiliasi dengan pemerintah. Sembilan anak dilaporkan tewas, serta sembilan warga sipil yang disebut tidak terlibat dalam aksi protes. Selain itu, lebih dari 16.700 orang telah ditahan.

Dengan akses internet yang terputus di sebagian besar wilayah Iran, pemantauan situasi dari luar negeri menjadi makin sulit.

Skylar Thompson dari Human Rights Activists News Agency mengatakan kepada The Associated Press bahwa lonjakan korban ini sangat mengejutkan, terutama karena jumlahnya telah mencapai empat kali lipat korban dalam protes Mahsa Amini tahun 2022 yang berlangsung berbulan-bulan, hanya dalam waktu dua pekan.

"Kami merasa ngeri, tetapi kami masih berpikir angka ini konservatif," katanya, seraya memperingatkan bahwa jumlah korban kemungkinan masih akan bertambah.

Untuk pertama kalinya sejak sambungan komunikasi mereka dengan dunia luar terputus, sejumlah saksi di Iran dapat berbicara melalui telepon. Mereka menggambarkan suasana Teheran pusat yang dipenuhi aparat keamanan, bangunan-bangunan pemerintah yang hangus terbakar, mesin ATM yang dirusak, serta jalanan yang sepi.

Di saat yang sama, warga diliputi kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi selanjutnya, termasuk kemungkinan serangan dari Amerika Serikat.

Pesan Khamenei

Sementara itu, Ayatollah Ali Khamenei dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah memuji puluhan ribu orang yang mengikuti demonstrasi propemerintah di berbagai wilayah Iran pada Senin.

"Ini adalah peringatan kepada para politisi Amerika untuk menghentikan tipu daya mereka dan tidak mengandalkan tentara bayaran pengkhianat," kata Khamenei. "Bangsa Iran kuat dan berkuasa serta menyadari siapa musuhnya."

Televisi pemerintah pada hari yang sama menayangkan teriakan massa yang tampak berjumlah puluhan ribu orang. Mereka meneriakkan "Kematian untuk Amerika!" dan "Kematian untuk Israel!" sementara yang lain berseru, "Kematian untuk musuh Tuhan!"

Jaksa Agung Iran sebelumnya memperingatkan bahwa siapapun yang terlibat dalam aksi protes akan dianggap sebagai "musuh Tuhan," sebuah tuduhan yang dapat berujung hukuman mati.

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |