REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta menegaskan bahwa kerja-kerja filantropi memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar penyaluran bantuan. Filantropi, menurut dia, merupakan instrumen penting bagi kesehatan mental, termasuk membantu umat untuk membersihkan diri dari penyakit kikir dan tamak.
Hal itu disampaikan Anis Matta dalam sambutannya pada acara "Indonesia Humanitarian Summit" yang digelar Dompet Dhuafa di NT Tower, Jakarta Timur, Kamis (15/1/2026).
“Pada dasarnya kerja-kerja filantropi mengajarkan tradisi memberi itu merupakan fungsi mental health, fungsi healing secara psikologis. Karena dalam Islam kikir itu adalah penyakit jiwa,” kata Anis.
Islam secara tegas memandang kikir sebagai penyakit batin yang berbahaya, dan satu-satunya obatnya adalah memberi. Dengan mendorong orang untuk bersedekah, kata Anis, filantropi sejatinya membantu manusia membersihkan dirinya dari penyakit jiwa yang kerap disebut dalam Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW.
Anis juga menekankan bahwa dalam Islam, kekayaan bukanlah syarat untuk memberi. Bahkan, sedekah dari orang miskin memiliki nilai pahala yang lebih besar karena disertai perjuangan batin melawan dorongan memiliki yang berlebihan.
“Pemberian dari orang miskin itu pahalanya lebih besar daripada pemberian orang kaya. Karena orang miskin lebih membutuhkan apa yang dia berikan untuk menjadi daripada orang yang menerimanya itu,” ucapnya.
Menurut Anis, dorongan memiliki yang berlebihan dapat melahirkan penyakit jiwa lain, yakni ath-thama’ atau keserakahan. Karena itu, Islam menempatkan kikir dan tamak sebagai dua sifat yang sering datang beriringan dan sama-sama harus dilawan.
Dalam perspektif Islam, lanjut Anis, konsep rezeki juga berbeda dengan sekadar pendapatan. Ia mengutip hadis Nabi SAW yang menyatakan bahwa harta yang benar-benar dimiliki manusia hanyalah apa yang dimakan, dipakai, dan disedekahkan.
“Banyak orang pendapatannya besar, tapi rezekinya sedikit. Sebaliknya, ada yang pendapatannya kecil, tapi rezekinya melimpah,” katanya.
Ia menambahkan, sedekah sejatinya merupakan instrumen untuk mengonversi pendapatan menjadi rezeki. Tanpa sedekah, harta yang berlebih justru berpotensi menjadi beban, baik secara psikologis maupun sosial.
“Sedekah itu jalan rahmat Allah. Dengan sedekah, orang kaya bisa nyaman menikmati hartanya, sementara orang miskin tetap memiliki harapan hidup yang lebih baik,” ujar Anis.
Lebih jauh, Anis menilai filantropi berperan strategis dalam menjaga stabilitas sosial. Masyarakat yang sebagian anggotanya kehilangan harapan hidup, kata dia, rentan mengalami destabilisasi dan konflik sosial.
“Filantropi adalah instrumen kohesi sosial, alat untuk menciptakan persatuan di tengah masyarakat,” jejasnya.
Dalam konteks yang lebih strategis, Anis pun mendorong lembaga-lembaga filantropi Indonesia untuk naik kelas dan berpikir dalam skala yang lebih besar. Ia menilai organisasi filantropi memiliki potensi untuk menjadi penyeimbang antara negara dan pasar.
“Negara itu budget-based, pasar itu profit-oriented. Filantropi berdiri di atas niat baik. Dan niat baik ini terbukti bisa sangat efisien dan berdampak besar,” katanya.
Anis mencontohkan capaian penghimpunan dana filantropi nasional yang terus tumbuh signifikan, termasuk Dompet Dhuafa. Hal itu menunjukkan bahwa kekuatan masyarakat sipil memiliki potensi besar jika dikelola dalam skala yang tepat.
Ia juga mengajak lembaga filantropi Indonesia memperluas peran ke tingkat global, khususnya di dunia Islam. Menurut Anis, sebagai negara Muslim terbesar, Indonesia seharusnya memiliki peran kepemimpinan yang lebih besar di tingkat internasional.
“Populasi Muslim dunia ada sekitar dua miliar. Kalau lembaga filantropi Indonesia mulai berpikir menyasar skala itu, dampaknya bukan hanya kemanusiaan, tapi juga kepemimpinan Indonesia di dunia Islam,” ujar Anis.
Ia berharap "Indonesia Humanitarian Summit" yang digelar Dompet Dhuafa dapat menjadi momentum bagi lembaga-lembaga filantropi untuk meningkatkan skala, kapasitas, dan visi globalnya, demi kemaslahatan umat dan kemanusiaan dunia.

3 hours ago
2














































