3 Aspek Mitigasi Bencana Hidrometeorologi Pesisir Menurut Pakar Unand

3 hours ago 6
3 Aspek Mitigasi Bencana Hidrometeorologi Pesisir Menurut Pakar Unand i: Seorang anak menerobos jalan kawasan permukiman yang terendam banjir di Kenali Asam Bawah, Kota Baru, Jambi, Kamis (18/6/2026).(ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/foc.)

PAKAR dari Fakultas Teknik Universitas Andalas (Unand), Sumatera Barat, Prof Mas Mera, menekankan pentingnya memperhatikan tiga aspek utama dalam pembangunan infrastruktur mitigasi bencana hidrometeorologi di wilayah pesisir. Hal ini bertujuan agar bangunan pelindung pantai memiliki ketahanan fungsional yang optimal dan tidak justru membahayakan masyarakat.

Tiga Pilar Ketahanan Bangunan Pesisir

Dalam keterangannya di Padang, Minggu (5/7), Prof Mas Mera merinci tiga aspek krusial yang harus menjadi pedoman dalam rekayasa pantai:

  1. Identifikasi Gaya Dominan: Langkah awal untuk memahami apakah masalah utama di suatu kawasan pantai disebabkan oleh energi gelombang yang datang tegak lurus atau akibat transpor sedimen yang sejajar dengan garis pantai.
  2. Kesesuaian Tipologi: Pemilihan jenis struktur harus disesuaikan dengan karakteristik alam. Prof Mas Mera mengingatkan agar tidak memaksakan satu jenis struktur, seperti groin, jika kondisi lapangan sebenarnya membutuhkan pemecah gelombang (breakwater).
  3. Sinkronisasi Kinerja: Memastikan posisi dan desain struktur mampu memicu akresi atau penambahan lahan secara alami, bukan sekadar menahan gempuran air.

Risiko Salah Tipologi: Ancaman Rip Current Buatan

Guru besar bidang ilmu mekanika fluida dan hidrolika Unand tersebut mengungkapkan bahwa kegagalan fungsional infrastruktur pelindung pantai sering kali bukan disebabkan oleh kualitas material yang buruk. Masalah utama justru terletak pada ketidaktepatan pemilihan tipologi bangunan akibat kurangnya pemahaman terhadap mekanisme kerja fisik struktur dalam merespons energi hidraulika lokal.

Peringatan Pakar: "Jika sebuah pantai mengalami abrasi akibat gelombang tegak lurus namun dipaksakan membangun groin dengan tipologi yang salah, hal itu tidak hanya tidak efektif, tetapi juga memicu timbulnya rip current (arus pecah) buatan di sepanjang sisi struktur yang membahayakan wisatawan," ujar Prof Mas Mera.

Solusi Rekayasa di Pantai Muaro Putuih

Sebagai bukti nyata pentingnya ketepatan tipologi, Prof Mas Mera mencontohkan kasus di Pantai Muaro Putuih, Kabupaten Agam. Awalnya, bangunan groin konvensional di sana tidak efektif menahan gelombang tegak lurus. Namun, setelah dimodifikasi menjadi T-Head Groin (penambahan kepala pada struktur), fungsi bangunan berubah menjadi pemecah gelombang.

Hasilnya, modifikasi tersebut berhasil menciptakan zona tenang dan memicu sedimentasi masif. Secara teoritis, groin hanya cocok untuk mengatasi arus sejajar pantai. Sementara untuk gelombang tegak lurus, pemecah gelombang adalah pilihan tepat karena dapat membentuk tombolo (endapan sedimen yang menghubungkan pulau/struktur dengan daratan).

Dengan penerapan teknik yang tepat, area di belakang pemecah gelombang tidak hanya aman dari abrasi, tetapi juga dapat ditanami pohon dan dimanfaatkan sebagai ruang publik atau tempat bermain wisatawan yang aman bagi anak-anak. (Ant/H-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |