Arkeolog Ungkap Identitas Astronom Maya Kuno Pertama dari Reruntuhan Xultun

4 hours ago 4
Arkeolog Ungkap Identitas Astronom Maya Kuno Pertama dari Reruntuhan Xultun Ilustrasi(Doc Kementerian Kebudayaan Guatemala)

PARA arkeolog berhasil mengungkap nama seorang astronom-matematikawan Maya kuno untuk pertama kalinya melalui penelitian di reruntuhan kota Xultun, Guatemala.

Nama tersebut adalah Sak Tahn Waax, yang berarti "Rubah Dada Putih". Temuan ini memberikan gambaran baru mengenai para ilmuwan Maya kuno yang selama ini dikenal melalui karya astronomi mereka, tetapi jarang diketahui identitasnya.

Penemuan Sak Tahn Waax berasal dari 11 hieroglif yang ditemukan di antara lebih dari 50 teks matematika kuno pada dinding sebuah ruangan kecil bernama Struktur 10K-2 di Xultun. Di lokasi yang sama, peneliti juga menemukan catatan perhitungan mengenai pergerakan planet Venus dan Mars.

Arkeolog dari University of Texas di Austin, David Stuart, yang membantu mengungkap temuan tersebut, mengatakan penemuan nama ini membuat ilmu pengetahuan Maya terasa lebih manusiawi karena untuk pertama kalinya sebuah karya astronomi dapat dikaitkan dengan individu tertentu.

"Secara nyata, kita sedang melihat papan tulis tua di kantor seseorang yang terbengkalai. Memiliki nama yang terkait dengannya sungguh luar biasa," ujar Stuart.

Meski masih belum diketahui secara pasti apakah Sak Tahn Waax merupakan pembuat perhitungan tersebut atau hanya sosok yang dikaitkan dengan karya itu, para peneliti menilai keberadaan namanya menunjukkan tradisi panjang astronom-matematikawan Maya yang mempelajari pergerakan benda langit.

Penemuan dari Kota Maya yang Terlupakan

Xultun merupakan salah satu kota kuno Maya yang berkembang pada periode Klasik Maya sekitar 250 hingga 900 Masehi. Kota ini terletak sekitar 40 kilometer dari Tikal, salah satu pusat peradaban Maya terbesar.

Struktur 10K-2 ditemukan setelah mahasiswa Universitas Boston Maxwell Chamberlain menemukan sebuah terowongan penjarahan yang mengarah ke ruangan kecil dengan mural dan tulisan kuno yang masih terawat.

Penelitian sebelumnya menunjukkan ruangan tersebut digunakan pada abad ke-8, sebelum terjadinya keruntuhan besar peradaban Maya yang menyebabkan banyak kota mengalami penurunan populasi.

Arkeolog Franco Rossi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), penulis utama penelitian, mengatakan teks-teks kecil di dinding ruangan tersebut awalnya sulit dipahami. Namun setelah dianalisis menggunakan teknologi pengolahan gambar, tim menemukan petunjuk yang mengarah pada identitas seorang astronom.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Antiquity ini dianggap sebagai salah satu penemuan penting dalam studi arkeoastronomi karena untuk pertama kalinya ilmuwan dapat menghubungkan catatan astronomi Maya dengan nama seorang individu.

Peneliti berharap penemuan tersebut dapat membantu mengungkap lebih banyak tentang bagaimana masyarakat Maya kuno memahami alam semesta, matematika, dan pergerakan planet.

Sumber: National Geographic Channel

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |