Belanda dan Jerman Pulang, Ruang Tamu Tetap Menunggu

4 hours ago 5

Image Robby Effendi

Olahraga | 2026-07-01 18:59:38

Gambar Diolah Oleh Generatif AI

Belanda tersingkir. Jerman menyusul. Bagi sebagian orang, itu hanya hasil pertandingan. Besok pagi semuanya selesai. Namun bagi sebagian yang lain, terutama di Sumatera Utara, rasanya sedikit berbeda.

Mungkin memang tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa orang Batak lebih banyak mendukung Belanda atau Jerman di Piala Dunia. Namun sejarah membuat kedua nama itu tidak pernah benar-benar terasa asing. Nama Nommensen, misionaris dari Jerman masih hidup di sekolah, rumah sakit, universitas, hingga gereja. Jejak Belanda masih tersimpan dalam bangunan tua, arsip, dan cerita yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Bukan berarti sejarah menentukan pilihan tim nasional yang didukung. Tidak sesederhana itu. Tetapi sejarah sering kali melahirkan kedekatan. Dan kedekatan perlahan berubah menjadi kenangan.

Saya mengenal banyak orang yang mencintai Belanda bukan karena pernah ke Amsterdam, melainkan karena sejak kecil melihat Ruud Gullit, Marco van Basten, Dennis Bergkamp, atau kemudian Arjen Robben. Ada pula yang setia pada Jerman karena kagum kepada Franz Beckenbauer, Lothar Matthäus, Miroslav Klose, hingga Thomas Müller.

Kesukaan itu diwariskan. Dari ayah kepada anak. Dari opung kepada cucu. Dari cerita di ruang tamu, bukan dari buku sejarah.

Maka ketika Belanda kalah lewat adu penalti, yang terdengar bukan hanya keluhan dari Amsterdam. Di Medan, Balige, Tarutung, hingga Pematangsiantar, ada juga yang menghela napas panjang. Ketika Jerman menyusul tersingkir, sebagian orang bahkan berseloroh, "Piala Dunia kali ini sudah selesai buat kami."

Begitulah sepak bola. Ia membuat kita mencintai negeri yang mungkin tak pernah kita kunjungi. Membela pemain yang tak pernah kita temui. Bahkan rela begadang demi pertandingan yang dimainkan ribuan kilometer dari rumah.

Dan mungkin itulah keajaiban Piala Dunia. Yang diwariskan bukan sekadar kemenangan atau kekalahan. Melainkan kenangan.

Empat tahun lagi, ruang tamu yang malam ini sunyi akan kembali ramai. Jersey lama akan kembali dikeluarkan. Perdebatan kecil akan kembali dimulai.

Karena dalam sepak bola, yang paling setia bukanlah trofi. Melainkan kenangan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |