Ekspor Papua Barat Daya Anjlok 66,24 Persen, Industri Pengolahan Jadi Biang Keladi

3 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, MANOKWARI, – Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa nilai ekspor Provinsi Papua Barat Daya mengalami penurunan tajam sebesar 66,24 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) sepanjang periode Januari hingga Mei 2026. Pelemahan kinerja sektor industri pengolahan disebut sebagai faktor utama yang menekan kinerja ekspor daerah tersebut.

Kepala BPS Papua Barat, Merry, dalam konferensi pers di Manokwari, Rabu, menjelaskan bahwa total nilai ekspor Papua Barat Daya pada Januari-Mei 2026 hanya tercatat sebesar 6,57 juta dolar AS. Angka ini merosot drastis dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang mencapai 19,46 juta dolar AS.

“Penurunan tersebut dipicu melemahnya ekspor sektor industri pengolahan yang memberikan andil penurunan terbesar, yakni mencapai 73,03 persen,” kata Merry.

Perbaikan Ekspor Bulanan di Tengah Tren Negatif

Meskipun secara kumulatif mengalami kontraksi, kinerja ekspor Papua Barat Daya mulai menunjukkan sinyal perbaikan pada bulan Mei 2026. Nilai ekspor pada bulan tersebut tercatat sebesar 1,32 juta dolar AS, atau meningkat 37,69 persen dibandingkan April 2026 yang hanya sebesar 0,96 juta dolar AS.

Namun, jika dibandingkan secara tahunan, nilai ekspor pada Mei 2026 masih mengalami penurunan sebesar 17,60 persen dibandingkan Mei 2025. Seluruh ekspor pada bulan tersebut berasal dari komoditas nonmigas.

“Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih mencatat pertumbuhan 26,83 persen sehingga sedikit menahan penurunan ekspor secara keseluruhan,” ujar Merry.

Jepang Masih Jadi Pasar Utama

Merry memaparkan bahwa Jepang masih menjadi negara tujuan utama ekspor Papua Barat Daya selama Januari-Mei 2026. Nilai ekspor ke Negeri Sakura tersebut mencapai 1,95 juta dolar AS atau berkontribusi sekitar 29,66 persen dari total ekspor.

Posisi berikutnya ditempati oleh Tiongkok dengan nilai ekspor sebesar 1,19 juta dolar AS, disusul oleh Amerika Serikat sebesar 1,11 juta dolar AS. Komoditas utama yang diekspor ke negara-negara tersebut adalah ikan dan udang.

Di sisi lain, nilai impor kumulatif Papua Barat Daya sepanjang Januari-Mei 2026 tercatat sebesar 0,57 juta dolar AS. Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang sama sekali belum mencatat aktivitas impor.

“Seluruh impor merupakan barang nonmigas berupa bahan baku atau barang penolong yang didatangkan dari Tiongkok,” katanya.

Meskipun mengalami penurunan signifikan, Papua Barat Daya masih membukukan surplus neraca perdagangan pada Januari-Mei 2026 sekitar 6 juta dolar AS. Namun, surplus ini jauh lebih rendah dibandingkan surplus sebesar 19,46 juta dolar AS pada periode Januari-Mei 2025 akibat melemahnya kinerja ekspor.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |