"Di Balik Langit Gaza: Persistensi dr Yumna" Jalankan Tur Empat Kota

9 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Teater Jiwa bersama Adara Relief International tengah menjalankan pementasan keliling monolog Di Balik Langit Gaza. Tur pementasan dimulai di Gedung Graha Sawunggaling, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Ahad (5/7/2026).

Tur dilanjutkan ke tiga kota lainnya yakni Palu, Jakarta, dan Solo hingga November mendatang. Maryam Rachmayani Direktur Utama Adara Relief International mengatakan, selama ini publik melihat Gaza melalui angka korban dan potongan berita. 

‘’Namun, melalui teater penonton diajak melihat sisi humanis dari tragedi Gaza. Tentang ibu yang kehilangan anaknya, tenaga medis yang tetap bertahan di tengah kehancuran, dan tentang harapan yang terus hidup di saat dunia terasa runtuh," ujarnya dalam keterangan, Selasa (7/7/2026). 

Ia menuturkan, setiap ibu yang kehilangan anaknya di Gaza tidak memiliki sebutan khusus atas dukanya, sebab rasa sakit seorang ibu yang kehilangan buah hati tak mampu digambarkan oleh kata-kata.

Disutradarai Adipatilawe ‘Monolog Di Balik Langit Gaza’ mengangkat kisah dokter perempuan Gaza yang bertahan di tengah perang, runtuhnya fasilitas kesehatan dan kehilangan anggota keluarganya. 

Berkolaborasi dengan Adara Relief International sebagai mitra lembaga kemanusiaan, langkah ini penting guna membangun perspektif kemanusiaan dan menggalang dukungan untuk Palestina.

Pementasan ini juga merupakan kelanjutan dari pertunjukan teater Palestine Festival II Adara Relief International yang dilaksanakan pada Desember 2025.

"Ini bukan sekadar pertunjukan tentang perang. Ini tentang manusia yang perlahan kehilangan rumah, keluarga, bahkan rasa aman, tetapi terus bertahan," kata Adipatilawe saat ditemui dalam sesi latihan di Jakarta. 

Monolog ini, kata dia, sengaja dibangun dengan pendekatan artistik minimalis agar perhatian terpusat pada luka psikologis dr Yumna.

Pemeran tunggal Firly RJ mengaku proses pendalaman karakter menjadi tantangan terbesar dalam produksi ini. Menurut dia, dr Yumna bukan tokoh yang menangisi keadaan. Justru dia persisten, bertahan. Ada rasa marah, takut, kosong, tapi juga ada harapan yang masih hidup. 

"Kami ingin penonton pulang tak hanya mengingat cerita Gaza, tetapi juga mempertanyakan kembali rasa kemanusiaan dalam dirinya," ujar Adipatilawe. 

Ditutup dengan lelang amal dan bincang kemanusiaan bersama Maryam Rachmayani, tur selanjutnya diselenggarakan pada Ahad,12 Juli di Gedung Kesenian Kota Palu.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |