Era Baru Timur Tengah: Bikin Senjata Sendiri, Siap Tantang Amerika

3 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

05 June 2026 20:40

Jakarta, CNBC Indonesia - Negara-negara kaya minyak di kawasan Teluk selama ini dikenal sebagai pembeli besar senjata dunia, terutama dari Amerika Serikat (AS). Kekayaan dari minyak membuat negara-negara monarki Teluk mampu memborong berbagai alat pertahanan, mulai dari jet tempur hingga kapal perang.

Di kawasan yang penuh gejolak dan dikelilingi banyak risiko keamanan, belanja militer menjadi salah satu kebutuhan utama. Tak heran, kawasan ini menyumbang sekitar seperlima dari total impor senjata global.

Namun, arah itu kini mulai berubah.

Mengutip The Economist, para penguasa kaya di Teluk kini mulai membangun industri pertahanan mereka sendiri. Tujuannya jelas, untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan senjata dari Barat.

Ambisi ini semakin kuat setelah perang dengan Iran yang dimulai pada awal 2026 ini. Arab Saudi, misalnya, menargetkan pada 2030 separuh dari anggaran belanja senjatanya bisa dibelanjakan di dalam negeri. Angka ini naik dari sekitar seperempat saat ini.

Saudi juga ingin menjadikan Saudi Arabian Military Industries (SAMI) sebagai salah satu dari 25 perusahaan pertahanan terbesar dunia berdasarkan pendapatan. Namun sejauh ini, perusahaan milik negara tersebut masih lebih banyak memproduksi suku cadang untuk jet tempur Amerika Serikat (AS) dan beberapa jenis kendaraan lapis baja.

SAMI sendiri memiliki sejumlah kerja sama, termasuk dengan Boeing, raksasa dirgantara asal AS. Sementara itu, Qatar juga memiliki ambisi serupa melalui Barzan Holdings, meski skalanya masih relatif kecil.

UEA Bergerak Paling Cepat

Pergerakan paling cepat terlihat di Uni Emirat Arab (UEA). Pada 2019, sekitar 25 perusahaan pertahanan Emirat digabungkan untuk membentuk EDGE Group, yang kemudian menjadi "jagoan nasional" di sektor pertahanan mereka.

Sejak berdiri, EDGE cukup agresif dalam memperluas bisnisnya. Perusahaan ini membeli saham mayoritas di sejumlah perusahaan asing. Pada Mei lalu, EDGE sepakat mengakuisisi 80% saham Costruzioni Motori Diesel, perusahaan pembuat mesin asal Italia.

EDGE juga memiliki 51% saham dalam kerja sama dengan dua perusahaan Italia lainnya, yakni Leonardo di berbagai bidang pertahanan dan Fincantieri di sektor galangan kapal. Selain itu, EDGE menjalin kemitraan dengan Rheinmetall asal Jerman di bidang pertahanan udara.

Pada November tahun lalu, EDGE juga membentuk perusahaan patungan dengan Anduril, perusahaan teknologi pertahanan AS yang sedang berkembang pesat, untuk memproduksi drone bagi UEA dan sekutunya.

Pendapatan Tembus US$5 Miliar

Kinerja EDGE juga mulai terlihat besar. Tahun lalu, pendapatan perusahaan ini menembus US$5 miliar atau sekitar Rp 90,5 triliun, dengan margin keuntungan yang disebut "sehat".

Nilai pesanan sekitar US$8 miliar membuat total pesanan yang belum diselesaikan EDGE naik menjadi lebih dari US$20 miliar.

CEO EDGE, Hamad al-Marar, memperkirakan pendapatan perusahaan akan naik sekitar seperlima dalam dua tahun ke depan seiring penyelesaian berbagai pesanan tersebut.

Saat ini, EDGE bahkan sudah masuk dalam tiga besar produsen amunisi berpemandu presisi terbesar di dunia.

Salah satu contoh produk EDGE di kategori ini adalah Desert Sting DS-25. Produk ini merupakan bagian dari keluarga Desert Sting, yakni senjata luncur berpemandu presisi yang dilepaskan dari platform udara, seperti pesawat tempur atau drone.

Secara sederhana, senjata jenis ini dirancang agar bisa meluncur menuju target dengan tingkat akurasi tinggi. Berdasarkan spesifikasinya, Desert Sting DS-25 memiliki bobot total 47 kilogram, dengan hulu ledak pre-fragmented seberat 24 kilogram.

DESERT STING 25 Guided-Glide Weapon – Precision Ground Strike SolutionDESERT STING 25 Guided-Glide Weapon – Precision Ground Strike Solution Foto: EDGE

Meski begitu, EDGE tidak berusaha memproduksi semua jenis senjata sendiri. Strateginya lebih terarah, yakni fokus pada sistem dan komponen yang dianggap penting atau memiliki risiko gangguan rantai pasok.

Di saat yang sama, ambisi perusahaan juga terus meningkat. Sebelumnya EDGE fokus memiliki hak kekayaan intelektual atau intellectual property/IP. Kini, perusahaan itu mulai semakin serius untuk menciptakan teknologi dan IP sendiri.

Ekspansi EDGE ikut membuat porsi UEA dalam impor senjata global menurun. Berdasarkan data SIPRI, lembaga riset asal Swedia, pangsa UEA dalam impor senjata global turun menjadi 2,7% pada 2021-2025, dari 3,5% pada 2016-2020.

Namun, EDGE tidak hanya memproduksi senjata untuk pasar domestik. Justru, hampir tiga perempat dari produksinya diekspor ke berbagai negara di Amerika Latin, Afrika, dan Asia.

Menurut Marar, meningkatnya persaingan di kawasan tidak menghalangi ekspansi. Kondisi geopolitik dunia justru membuat peluang ekspor semakin terbuka.

Pada Januari, EDGE menandatangani kesepakatan perusahaan patungan dengan Barzan dari Qatar. Perusahaan ini juga telah memberikan lisensi teknologi kendaraannya kepada SAMI dari Arab Saudi.

Teknologi UEA Diuji di Medan Perang

Kemampuan pertahanan UEA yang terus berkembang juga terlihat dalam perang dengan Iran. Iran disebut lebih sering menyerang Emirat dibandingkan Arab Saudi atau Qatar.

Pejabat setempat menyebut sekitar 80% drone Shahed Iran yang datang berhasil ditangani oleh produk-produk buatan dalam negeri.

Sistem perang elektronik EDGE juga ikut bekerja. Teknologi ini mampu mendeteksi rudal dan drone yang masuk, lalu mengaktifkan sistem pengacakan sinyal atau jamming dan pengecohan atau spoofing. Sistem tersebut bekerja bersama dengan sistem antirudal balistik milik AS.

Bagi EDGE, kondisi ini membuat teknologinya kini sudah terbukti di medan tempur. Marar menyebut, perang memberi nilai tambah karena produk mereka telah benar-benar diuji dalam situasi nyata.

Namun, perang juga membawa tantangan. Salah satunya adalah gangguan pasokan akibat tertahannya barang-barang di Selat Hormuz yang diblokir. Kondisi ini berisiko menunda rencana produksi.

Meski begitu, langkah UEA dalam beberapa tahun terakhir untuk membangun industri pertahanan sendiri kini terlihat sebagai keputusan yang jauh ke depan. Bahkan dengan sekutu kuat dan negara tetangga yang dekat, kemampuan untuk lebih mandiri dalam pertahanan tetap menjadi aset penting.

Dengan EDGE, UEA kini memiliki modal besar untuk memperkuat posisinya sebagai pemain baru di industri pertahanan global.

Impor Besar Kini Dikurangi

Bila melihat datan Timur Tengah memang masih menjadi salah satu pasar senjata terbesar di dunia.

Laporan terbaru Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan bahwa Timur Tengah menyumbang lebih dari seperempat atau tepatnya 27% dari total impor senjata global pada periode 2020-2024.

Sementara itu, Afrika Utara menyumbang 2,2%. Karena keterkaitan geografis, sejarah, dan dinamika keamanan, kedua kawasan ini kerap dipandang sebagai satu wilayah besar yakni Middle East and North Africa (MENA).

SIPRISIPRI Foto: SIPRI


Meski demikian, impor senjata ke Timur Tengah pada 2020-2024 sebenarnya turun 20% dibandingkan periode 2015-2019. Namun, dalam laporannya SIPRI menulis kawasan ini hampir pasti tetap menjadi wilayah impor senjata yang besar, mengingat masih banyak pesanan yang belum dikirim.

Dalam daftar importir terbesar dunia, dominasi Timur Tengah dan Afrika (MENA) juga masih sangat kuat.

Empat dari 10 importir senjata terbesar dunia pada 2020-2024 berasal dari kawasan ini, yaitu Qatar di peringkat ketiga, Arab Saudi peringkat keempat, Mesir peringkat kedelapan, dan Kuwait di posisi kesepuluh.

Dari sisi pemasok, Amerika Serikat (AS) masih menjadi pemain utama di pasar Timur Tengah. Sekitar 50% impor senjata negara-negara MENA pada 2020-2024 berasal dari AS. Setelah itu disusul Italia 12%, Prancis 9,7%, dan Jerman 7,6%.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |