Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintahan Donald Trump selama ini dikenal dekat dengan raksasa teknologi Amerika Serikat (AS). Trump mati-matian membela kepentingan raksasa teknologi, misalnya dengan 'melunakkan' aturan terkait pengembangan AI, padahal terbukti banyak mendatangkan mudarat bagi kehidupan masyarakat.
Selain itu, Trump juga pasang badan membela raksasa teknologi AS yang tengah ditekan Uni Eropa melalui regulasi anti-monopoli Digital Services Act (DSA) dan Digital Markets Act (DMA).
Beberapa kali saat berkunjung ke luar negeri, Trump bahkan memboyong beberapa petinggi raksasa teknologi AS untuk membahas potensi investasi, terutama di sektor AI.
Banyak pihak yang mengaitkan kedekatan Trump dengan industri teknologi AS dikarenakan besarnya kontribusi dari SpaceX, Apple, Alphabet, Amazon, dkk, dalam mendanai kampanyenya dalam Pemilu 2024.
Selain itu, beberapa proyek Trump juga didukung oleh para raksasa teknologi AS. Namun, seorang pengusaha kaya blak-blakan menolak untuk mengeluarkan uang dalam Pemilu Paruh Waktu (Midterm Elections) 2026.
Pemilu Paruh Waktu Jadi Penentuan
Sebagai informasi, Pemilu Paruh Waktu cukup krusial di AS. Meskipun tidak menentukan jabatan presiden, tetapi pengaruhnya besar terhadap arah politik negara karena menentukan kendali atas lembaga legislatif alias Kongres AS.
Posisi-posisi yang akan diperebutkan adalah kursi DPR, kursi Senat, serta beberapa Gubernur dan Pejabat Daerah.
Pemilu Paruh Waktu juga menjadi ajang bagi masyarakat AS untuk mengevaluasi dan memberikan penilaian atas kinerja presiden yang sedang menjabat. Ada rekam jejak kuat di mana partai presiden berkuasa hampir selalu kehilangan kursi di Kongres dalam Pemilu Paruh Waktu.
Bos ChatGPT Ogah Keluar Uang
CEO OpenAI, Sam Altman, mengaku tak berencana memberikan kontribusi pendanaan dalam Pemilu Paruh Waktu 2026. Sikap ini termasuk berani, pasalnya banyak miliarder Silcon Valley lainnya yang sudah berkomitmen untuk mendanai pemilu yang akan digelar pada November 2026 mendatang.
Dalam kunjungan ke Washington pada pekan ini, Altman mengatakan dirinya bersimpati terhadap pihak-pihak yang menjanjikan kontribusi pendanaan dalam beberapa kampanye politik pada Pemilu 2026. Namun, ia bersikap tegas tak akan melakukan hal serupa.
"Mereka [para politikus pemerintahan] tidak bisa menerapkan standar yang berbeda kepada kami dibandingkan dengan semua pesaing kami. Jika mereka [kompetitor] mencoba menggunakan uang untuk bersekongkol melawan kami, kami harus mampu melawan balik," kata Altman setelah pertemuan dengan Senator Bernie Sanders, seorang independen dari Vermont, di Capitol Hill.
"Tetapi saya ingin sekali melihat aturan secara menyeluruh berubah," ia menambahkan, dikutip dari Yahoo Finance, berdasarkan laporan Bloomberg, Jumat (5/6/2026).
"Saya ingin sekali melihat uang tidak lagi memengaruhi politik secara umum. Saya pikir itu akan menjadi hal yang sangat baik," ujarnya.
Kepentingan Raksasa Teknologi
Tokoh-tokoh terkemuka industri AI lainnya diketahui ramai terjun ke arena politik. Leading the Future, sebuah komite aksi politik super yang didukung Presiden OpenAI Greg Brockman dan para pendiri perusahaan modal ventura Silicon Valley Andreessen Horowitz, berjuang untuk memilih kandidat yang ramah terhadap AI.
Raksasa teknologi pada dasarnya menentang upaya-upaya dari negara bagian yang muncul untuk membatasi AI dan mengekang pembangunan data center.
Pada saat yang sama, jajak pendapat menunjukkan bahwa warga AS makin waspada terhadap AI, karena khawatir dampaknya terhadap lapangan kerja dan lingkungan.
OpenAI telah berusaha menjauhkan diri dari Leading the Future, yang telah menerima sumbangan sebesar US$25 juta dari Brockman dan istrinya Anna. OpenAI dalam sebuah unggahan blog pada awal pekan ini mengatakan bahwa mereka tidak berafiliasi dengan super PAC tersebut, yang memperjuangkan regulasi AI yang lebih ringan.
Pesaing utama OpenAI, Anthropic PBC, memberikan US$20 juta kepada super PAC saingannya, Public First Action, yang mengadvokasi regulasi keselamatan AI yang lebih ketat.
Pernyataan Sanders setelah pertemuan dengan Altman mencerminkan garis pertempuran politik yang muncul untuk Pemilu Paruh Waktu 2026, yang kemungkinan berlangsung hingga 2028.
"Mereka memiliki US$300 juta yang siap digunakan untuk melawan anggota Kongres mana pun yang keberatan dengan apa yang mereka lakukan, dan itu buruk," katanya.
"Bahwa Kongres belum membela rakyat AS dalam menghadapi AI, justru dikarenakan jumlah uang yang sangat besar," ujarnya.
Dalam sebuah opini di New York Times pekan ini, Sanders menyerukan legislasi untuk membentuk dana kekayaan negara yang akan dibiayai dengan pajak satu kali sebesar 50% atas saham perusahaan AI besar, dengan hasilnya dialihkan sebagai pembayaran kepada publik.
Kunjungan Altman ke Capitol Hill terjadi ketika OpenAI meletakkan dasar untuk penawaran umum perdana (IPO) akhir tahun ini yang dapat menilai perusahaan tersebut hampir US$1 triliun.
Sementara itu, Anthropic mengajukan IPO secara rahasia pekan ini ini setelah putaran pendanaan yang menilai perusahaan tersebut sebesar US$965 miliar.
Salah satu pendiri OpenAI juga bertemu dengan anggota parlemen lainnya, termasuk Ketua DPR dari Partai Republik Mike Johnson dan Pemimpin Senat dari Partai Demokrat Chuck Schumer.
Selama berada di Washington, Altman juga mengunjungi Gedung Putih untuk berdiskusi dengan para pejabat pemerintah mengenai agenda regulasi perusahaan.
Kunjungan ke Washington ini berlangsung sehari setelah Trump meneken perintah eksekutif yang menyerukan agar perusahaan AI secara sukarela membagikan model-model mutakhir untuk ditinjau pemerintah sebelum dirilis ke publik.
(fab/fab)
Addsource on Google

3 hours ago
3

















































