Calon Gubernur BI Destry Damayanti(Antara)
Menjelang uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Gubernur Bank Indonesia, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai proses tersebut seharusnya menjadi momentum untuk membahas persoalan yang lebih besar. Menurutnya, substansi ujian tidak boleh sekadar terjebak pada arah kebijakan suku bunga acuan (BI Rate), inflasi, dan nilai tukar dalam jangka pendek.
Fakhrul menjelaskan bahwa perubahan ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir telah membuat mandat bank sentral jauh lebih kompleks. Fenomena saat ini menunjukkan inflasi tidak lagi selalu bersumber dari sisi permintaan, likuiditas tidak otomatis bertransformasi menjadi kredit, dan pasar keuangan semakin dominan dalam menentukan kondisi pembiayaan.
"Menurut saya, yang diuji besok bukan hanya seorang calon Gubernur Bank Indonesia atau BI Rate. Yang sebenarnya sedang diuji adalah sebuah cara pandang Bank Indonesia seperti apa yang kita perlukan ke depannya," ujar Fakhrul dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (26/8).
Evolusi Instrumen dan Diagnosis Ekonomi
Meski prinsip fondasi seperti independensi, kredibilitas, disiplin moneter, serta stabilitas harga dan Rupiah harus tetap dipertahankan, Fakhrul menekankan perlunya evolusi dalam cara bank sentral membaca ekonomi. Tantangan utama ke depan adalah menjalankan inflation targeting di tengah dunia yang sering mengalami supply shock.
Ia mencontohkan bagaimana perubahan iklim memengaruhi pangan, geopolitik mengubah harga energi, hingga fragmentasi perdagangan yang meningkatkan biaya produksi. "Inflasi 3% karena demand terlalu kuat berbeda dengan inflasi 3% karena beras, minyak dunia, atau depresiasi Rupiah. Angkanya sama, tetapi penyakitnya berbeda. Karena itu obatnya juga tidak selalu harus sama," imbuhnya.
Fakhrul menegaskan bahwa suku bunga tetap menjadi instrumen utama, namun tidak bisa menyelesaikan seluruh persoalan ekonomi. Suku bunga efektif menurunkan permintaan, tetapi tidak dapat mengatasi kelangkaan pasokan akibat faktor eksternal atau alam. "Tantangan bank sentral modern adalah melakukan diagnosis sebelum menentukan obat," terangnya.
Memahami Transmisi Pasar Keuangan
Lebih lanjut, Fakhrul menyoroti pentingnya Gubernur BI berikutnya untuk membedakan antara policy rate (suku bunga kebijakan) dengan kondisi finansial riil yang dihadapi dunia usaha. Ia mencatat bahwa BI Rate bisa saja tetap, namun beban pembiayaan perusahaan bisa membengkak jika yield SUN meningkat, Rupiah melemah, dan risk premium naik.
"Policy stance tidak selalu sama dengan policy rate. BI Rate dapat tidak berubah satu basis poin pun, tetapi kalau yield SUN naik 100 basis poin, Rupiah melemah dan risk premium meningkat, bagi dunia usaha kondisi moneternya sebenarnya sudah mengetat," jelas Fakhrul.
Sebaliknya, penurunan BI Rate belum tentu memberikan pelonggaran jika tekanan global mendorong yield domestik dan dolar AS lebih tinggi. Oleh karena itu, BI diharapkan semakin memahami interaksi kompleks antara suku bunga, harga aset, kolateral, serta neraca perusahaan dan rumah tangga.
"Pasar keuangan bukan lagi sekadar tempat kebijakan moneter berakhir. Pasar sudah menjadi bagian dari mekanisme transmisi kebijakan itu sendiri," pungkasnya.












































