Iran Bergejolak, Harga Minyak Mendidih: Rupiah di Ujung Tanduk?

2 hours ago 1
  • Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam, IHSG menguat sementara rupiah terus melemah
  • Wall Street ambruk berjamaah
  • Hasil inflasi AS, Nerace Perdagangan China, dan kelanjutan sentimen geopolitik menjadi penggerak pasar pada hari ini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam kemarin, Selasa (13/1/2026). Pasar saham menguat sementara nilai tukar rupiah ambruk.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak membaik pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melesat 0,72% atau lompat 63,58 poin ke level 8.948,30 pada penutupan perdagangan kemarin, Selasa (13/1/2025). IHSG berhasil menguat meski pasar saham domestik masih dalam fase volatilitas yang tinggi.

Tercatat kemarin, dari titik tertinggi ke terendah perdagangan kemarin, IHSG bergerak volatil dan tiba-tiba kehilangan 115 poin atau terpangkas 1,28%, sebelum nyaris memulihkan seluruh poin yang hilang pada akhir perdagangan.

Sebanyak 348 saham naik, 327 turun, dan 131 tidak bergerak. Total nilai transaksi kemarin tergolong sangat ramai atau mencapai Rp 33,43 triliun yang melibatkan 62,87 miliar saham dalam 3,80 juta kali transaksi.

Perdagangan IHSG kemarin masih volatil seperti yang terjadi pada perdagangan kemarin tatkala IHSG sempat tersungkur lebih dari 2% pada perdagangan intraday dua hari lalu.

Meski tidak sampai terkoreksi dalam, volatilitas IHSG kemarin terlihat dari pemangkasan apresiasi IHSG lebih dari 1% (diukur dari posisi tertinggi) lenyap dalam hitungan menit.

Saham-saham konglomerat, khususnya Grup Bakrie tercatat masih menjadi yang paling ramai diperdagangkan kemarin dan merupakan pendorong IHSG ke zona merah.

Saham BUMI (PT Bumi Resources Tbk) dan BRMS (PT Bumi Resources Minerals Tbk) tercatat terkoreksi lebih dari 5% pada perdagangan kemarin, sedangkan saham DEWA (PT Darma Henwa Tbk) ambruk 10% lebih.

Hanya sektor konsumer non-primer dan industri yang tercatat mengalami koreksi kemarin, sedangkan sektor properti dan infrastruktur menguat paling signifikan.

Tiga saham Grup Bakrie masuk dalam jajaran empat emiten paling membebani kinerja indeks kemarin.Saham Bumi Resources (BUMI), Bumi Resources Minerals (BRMS) dan Darma Henwa (DEWA) secara kumulatif menyumbang koreksi 22,53 indeks poin.

Adapun saham-saham yang menjadi penopang kinerja positifIHSG kemarin termasuk PT Astra International  (ASII), PT Telkom Indonesia (TLKM), PT Merdeka Battery Materials (MBMA), PT Barito Renewables Energy (BREN), dan PT Merdeka Copper Gold (MDKA).

Pada perdagangan sesi pertama, asing tercatat membukukan pembelian Rp 5,7 triliun dan melakukan aksi jual senilai Rp 4,4 triliun, sehingga net foreign buy sesi 1 kemarin mencapai Rp 1,3 triliun.

Saham bank dan komoditas mendominasi dalam daftar 10 saham dengan net buy asing terbesar. Namun posisi teratas dihuni oleh Astra (ASII) yang mencatat net foreign buy Rp 149,3 miliar.

Kemudian diikuti oleh Alamtri Resources (ADRO) Rp 146,8 miliar, Merdeka Battery Materials (MBMA) Rp 135,4 miliar, dan Vale Indonesia (INCO) Rp 130,3 miliar.

Lanjut dari sisi mata uang Rupiah, Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (13/1/2026).

Melansir data Refinitiv, rupiah Garuda terdepresiasi sekitar 0,21% dan ditutup di level Rp16.860/US$. Posisi tersebut menjadi level terlemah rupiah sejak 24 April 2025, ketika rupiah ditutup melemah di level Rp16.865/US$, yang sekaligus menjadi level terlemah sepanjang masa.

Pelemahan ini juga memperpanjang tren tekanan terhadap rupiah sejak awal tahun. Sepanjang delapan hari perdagangan di 2026, rupiah tercatat belum sekalipun mencatatkan penguatan, dengan pelemahan kumulatif mencapai sekitar 1,14% terhadap dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau tengah mengalami penguatan sebesar 0,12% di level 98,984.

Adapun penguatan tersebut bisa menjadi salah satu faktor pelemahan rupiah di perdagangan kemarin, Senin (13/1/2026).

DXY yang menguat mengindikasikan permintaan yang tinggi terhadap aset berdonominasi dolar AS yang pada gilirannya dapat menekan atau menjadi pemberat bagi laju pergerakan mata uang emerging markets termasuk rupiah.

Indeks dolar AS menguat setelah sejumlah anggota parlemen Partai Republik menyuarakan penolakan terhadap langkah Presiden AS Donald Trump yang membuka penyelidikan kriminal terhadap ketua bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) Jerome Powell.

Hal ini serta ketidakstabilan geopolitik membuat yield dari SBN 10 tahun mengalami penguatan sebesar 4 poin dari level sebelumnya ke level 6.121 pada penutupan kemarin.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melandai ke 6,121% pada perdagangan kemarin, dari 6,125% pada hari sebelumnya. Imbal hasil yang melandai menandai harga SBN tengah naik karena diburu investor.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |