REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA – Setelah Indonesia dan Pakistan, Arab Saudi jadi yang terkini menyatakan keinginan mengembangkan bersama jet tempur generasi kelima, KAAN yang diprakarsai Turki. Ini membuat jet tersebut berpotensi jadi celah negara-negara Muslim memiliki alutsista mandiri setelah sekian lama tergantung dengan teknologi militer Barat.
Ankit K, asisten profesor di School of International Cooperation, Security and Strategic Languages (SICSSL) menuliskan di Modern Diplomacy, selama beberapa dekade, negara-negara Islam di seluruh dunia telah melakukan upaya untuk menyatukan kekuatan. Meskipun hanya sedikit kemajuan yang dicapai dalam menciptakan blok negara yang efektif.
“Namun, janji akan jet tempur baru berteknologi tinggi tampaknya membawa dorongan lebih untuk menyatukan negara-negara tersebut, dengan program bersama untuk memproduksi pesawat KAAN berpotensi hanya melibatkan negara-negara Islam,” tulisnya.
Meskipun ia menilai kerja sama militer di dunia Islam sepertinya tidak akan menimbulkan tantangan bagi Barat dalam jangka pendek, hal itu menimbulkan ancaman yang sangat nyata bagi Israel. Negara Zionis itu mulai khawatir bahwa jet KAAN dapat digunakan dalam operasi militer membebaskan Palestina.
Sejauh ini, memang hanya negara-negara Muslim yang menunjukkan agenda bersama terkait pengembangan KAAN. Pada Kamis pekan lalu, Ankara dan Riyadh mulai membicarakan investasi bersama dalam pengembangan KAAN, menurut laporan di Daily Sabah. Laporan tersebut muncul setelah Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, memimpin delegasi tingkat tinggi ke Arab Saudi untuk melakukan pertemuan. Pemimpin Turki kemudian pergi ke Mesir selepas pertemuan itu.
“Turki dan Arab Saudi akan meningkatkan kerja sama mereka dalam industri pertahanan, kata Erdogan pada Kamis saat penerbangan pulang dari Kairo, juga menyatakan bahwa jet tempur siluman buatan negaranya, KAAN, mendapat pujian dan mungkin ada kemitraan dengan Riyadh di bidang ini.”
"KAAN bukan sekadar jet tempur. KAAN adalah simbol kemampuan teknik dan kemauan pertahanan independen Turki," Erdogan menambahkan. Selama beberapa dekade terakhir, negaranya telah memodernisasi angkatan bersenjatanya dan membangun industri pertahanan dalam negeri yang besar. Misalnya, mereka telah banyak berinvestasi pada drone.
Selama ini, Riyadh sangat bergantung pada AS dan Barat untuk pengadaan pertahanan. Arab Saudi juga menginginkan F-35, dan pemerintahan Trump tampaknya tertarik untuk mencapai kesepakatan.
Namun, pihak AS telah menyatakan bahwa spesifikasi F-35 yang dijual ke Saudi secara teknis tak akan lebih canggih dari yang dijual ke Israel. Israel belakangan juga mulai melakukan lobi ke Washington untuk membatasi bahkan menghalangi penjualan F-35 ke Saudi.
Dikembangkan oleh Turkish Aerospace Industry (TAI), KAAN dengan mesin mandiri diproyeksikan akan melakukan penerbangan perdananya tahun ini. Meskipun jet Kaan awalnya untuk menggantikan armada F-16 Turki yang sudah tua, pesawat tersebut tampaknya akan menantang jet tempur andalan Amerika lainnya, F-35, karena kemampuan siluman dan serangan jarak jauh Kaan.
Dengan integrasi teknologi baru seperti AI maupun dengan metrik kinerja yang lebih canggih, Kaan juga dapat mencapai kecepatan Mach 1,8, yang lebih cepat dari kecepatan tertinggi F-35 yang mencapai Mach 1,6. Artinya, KAAN mungkin dapat muncul tidak hanya sebagai pesaing yang layak bagi jet buatan Amerika tetapi juga sebagai alternatif yang lebih unggul.
Potensi ekonomi dalam memproduksi jet tempur yang mampu menyaingi produk terbaik yang ditawarkan AS langsung dilirik negara lain. Pada pameran pertahanan IDEX 2025 di Abu Dhabi, CEO TAI mengumumkan bahwa pembicaraan sedang berlangsung antara negaranya dan Uni Emirat Arab mengenai produksi bersama dan kolaborasi pesawat tersebut.
Pada Juni 2025, Indonesia telah menandatangani kesepakatan untuk membeli 48 jet tempur KAAN dalam perjanjian senilai 15 miliar dolar AS (sekitar Rp 251,8 triliun). Kesepakatan 10 tahun tersebut mencakup produksi bersama komponen-komponen Kaan tertentu di Indonesia. Pihak Indonesia meminta mesin bebas ITAR, yang berarti mesin sepenuhnya buatan dalam negeri tanpa batasan ekspor
Negara-negara lain, termasuk Qatar dan Azerbaijan, juga telah menyatakan minat untuk mengakuisisi pesawat tersebut.
Pada Januari lalu, Pakistan juga mengumumkan bahwa mereka akan membantu produksi pesawat KAAN melalui pendirian pabrik bersama. Hal ini diumumkan setelah pertemuan kelompok kerja gabungan ke-8 di Pameran Industri Pak-Turki pada awal tahun.
Ini adalah kerja sama yang saling menguntungkan yang akan membuat Turki mendapatkan keuntungan dari biaya produksi yang lebih murah dan Pakistan mendapatkan keuntungan dari akses terhadap teknologi yang lebih besar dibandingkan yang bisa mereka peroleh.

3 hours ago
2















































