Arinafril - Dosen, Pemerhati Pendidikan
Eduaksi | 2026-08-16 10:24:04
Di sebuah gang kecil di Lemabang, Palembang, tinggal seorang kakek bernama Surip. Tubuhnya sudah bungkuk, rambutnya putih semua, dan tangannya penuh keriput. Tapi mata Kakek Surip masih berbinar ketika bercerita tentang masa mudanya.
" Nak Nadhif, dulu Kakek bukan cuma menarik becak," kata Kakek Surip suatu sore, ketika Nadhif, anak kelas 2 SDIT Bina Ilmi, lewat di depan rumahnya.
Nadhif dan teman-teman SDIT Bina Ilmi Lemabang memberikan bantuan kepada Kakek Surip. (Sumber: GenAI, Grok.com)
Nadhif berhenti. "Iya, Kek? Terus Kakek apa?"
"Kakek pejuang, Nak. Waktu Belanda mau datang lagi ke Palembang tahun 1947, Kakek ikut bertempur lima hari lima malam." Kakek Surip menunjuk ke arah Sungai Musi yang terlihat dari kejauhan. "Bersama teman-teman, Kakek bela tanah ini supaya jadi milik kita, milik Indonesia."
Mata Nadhif membulat. "Wah, Kakek hebat banget!"
Kakek Surip tersenyum kecut. "Hebat dulu, Nak. Sekarang Kakek sudah tua. Becak sudah dijual, tenaga sudah habis. Kakek cuma bisa nebas rumput atau bersihin pekarangan orang buat dapat uang beli beras."
Nadhif terdiam. Ia melihat tangan Kakek Surip yang gemetar memegang cangkul kecil. Hatinya tersentuh.
***
Keesokan harinya, sepulang sekolah, Nadhif mengumpulkan teman-temannya di teras rumah. Ada Emir, Baldat, Afnan, Fatih, dan Qianno. Mereka semua siswa kelas 2 Cordova, SDIT Bina Ilmi Lemabang.
" Teman-teman," kata Nadhif serius, "kemarin aku ketemu Kakek Surip. Beliau itu pejuang kemerdekaan, lho! Dulu lawan Belanda di Palembang. Sekarang beliau sudah tua, kerja serabutan buat makan."
Emir mengernyit. "Pejuang seperti di buku sejarah?"
"Betul!" sahut Nadhif. "Tapi sekarang beliau susah. Aku punya ide. Kita kumpulkan mainan bekas kita yang masih bagus, kita jual, uangnya kita kasih ke Kakek Surip pas Hari Kemerdekaan ke-81!"
Baldat mengacungkan tangan. "Aku punya mobil-mobilan masih bagus!"
"Aku punya boneka!" kata Afnan.
Fatih menambahkan, "Aku punya puzzle lengkap!"
Qianno tersenyum. "Aku ada action figure masih baru."
Mereka semua bersemangat. Emir mengusulkan, "Kita mulai dari besok, ya! Dua minggu lagi kan 17 Agustus. Kita kumpul, kita jual di depan sekolah sepulang belajar."
Nadhif mengangguk mantap. "Insyaallah, kita bisa bantu Kakek Surip!"
***
Selama dua minggu, keenam anak itu rajin mengumpulkan mainan. Setiap sore, mereka bertemu di teras Nadhif. Mainan dibersihkan, dirapikan, lalu diberi label harga.
" Ini mobil-mobilan, lima ribu!" kata Emir.
"Boneka ini sepuluh ribu, masih wangi!" seru Afnan.
Ibu Nadhif membantu mereka membuat poster kecil: "Jual Mainan Bekas - Untuk Kakek Pejuang".
Suatu hari, Bu Guru lewat dan melihat mereka sibuk. "Lagi apa ini, Nak?"
Nadhif menjelaskan dengan semangat. Bu Guru tersenyum haru. "Kalian hebat. Ini namanya menghormati jasa pahlawan. Bukan cuma upacara, tapi juga tindakan nyata."
"Kami ingin Kakek Surip senang di Hari Kemerdekaan, Bu," kata Baldat.
"Semoga Allah mudahkan," doa Bu Guru.
***
Hari-hari berlalu, mainan mereka ludes terjual. Teman-teman sekolah, guru, bahkan orang tua murid ikut membeli. Kotak kaleng bekas tempat uang mereka sudah penuh.
"Berapa kita dapat, Dhif?" tanya Fatih suatu sore, ketika mereka menghitung uang terakhir.
Nadhif membuka kotak itu hati-hati. "Lima ratus ribu, Teman-teman!"
Mereka semua bersorak. "Hore! Banyak banget!"
"Kita belikan Kakek Surip apa?" tanya Qianno.
Emir berpikir. "Beras, minyak, gula, sama uang buat beliau."
"Setuju!" kata mereka kompak.
***
Tanggal 17 Agustus 2026 tiba. Udara pagi segar, bendera merah putih berkibar di mana-mana. Nadhif dan teman-temannya berkumpul di rumah Nadhif, membawa bingkisan yang sudah mereka siapkan.
"Siap?" tanya Nadhif.
"Siap!" jawab mereka serempak.
Mereka berjalan berenam menuju rumah Kakek Surip. Kakek itu sedang duduk di teras, memakai baju lusuh tapi rapi. Matanya berbinar melihat anak-anak itu datang.
"Assalamualaikum, Kakek!" sapa mereka.
"Waalaikumsalam, Nak. Wah, ramai sekali. Ada apa ini?" tanya Kakek Surip penasaran.
Nadhif maju. "Kakek, ini dari kami. Hadiah Hari Kemerdekaan ke-81 untuk Kakek."
Mereka menyerahkan bingkisan berisi beras, minyak, gula, dan sisa uang dalam amplop. Kakek Surip terkejut. Tangannya gemetar menerima bingkisan itu.
"Ini... ini untuk Kakek?" suaranya parau.
"Iya, Kek," kata Baldat. "Kami jual mainan kami. Kakek kan pejuang. Kakek sudah bela Indonesia. Sekarang kami yang bantu Kakek."
Air mata Kakek Surip menetes. "Terima kasih, Nak. Kakek tidak pernah mengharap apa-apa. Tapi kalian... kalian membuat Kakek menangis bahagia."
Afnan duduk di samping Kakek Surip. "Kakek, ceritakan lagi tentang perang lima hari lima malam. Kami ingin dengar."
Kakek Surip tersenyum, mengusap air matanya. "Baik, Nak. Dulu, tahun 1947, Belanda datang lagi ke Palembang. Rakyat tidak mau dijajah lagi. Kakek dan teman-teman bertempur siang malam. Senjata kami sederhana, tapi semangat kami besar."
"Kami tahu, Kakek. Kami belajar di sekolah tentang Pertempuran Lima Hari Lima Malam," kata Fatih.
Kakek Surip mengangguk. "Bagus. Kalian harus tahu sejarah. Indonesia merdeka bukan hadiah, tapi hasil perjuangan. Darah pejuang tumpah di tanah ini."
Qianno bertanya, "Kakek tidak marah sudah tua begini hidup susah?"
Kakek Surip tertawa kecil. "Kakek tidak marah, Nak. Kakek hanya bersyukur masih bisa lihat Indonesia merdeka sampai 81 tahun. Kalau Kakek susah, itu ujian. Tapi melihat kalian, anak-anak sekarang peduli pada pejuang tua, Kakek bahagia."
Nadhif memegang tangan Kakek Surip. "Kakek, kami janji akan belajar rajin. Nanti kalau sudah besar, kami akan bantu orang-orang seperti Kakek."
"Kakek percaya pada kalian," kata Kakek Surip lembut. "Kalian adalah masa depan Indonesia. Jadilah anak yang berguna, yang mencintai tanah air, yang menghormati jasa pahlawan."
Mereka semua duduk mendengarkan cerita Kakek Surip sampai sore. Matahari mulai turun, langit berwarna jingga seperti saat Pertempuran Lima Hari Lima Malam dulu.
"Kakek, tahun depan kami akan datang lagi," janji Emir.
"Kakek tunggu," jawab Kakek Surip sambil tersenyum.
***
Malam itu, Nadhif menulis di buku hariannya: "Hari ini aku belajar bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang upacara dan lomba. Kemerdekaan adalah tentang menghormati pejuang, tentang berbagi, tentang mencintai Indonesia dengan tindakan nyata. Terima kasih, Kakek Surip. Jasamu tidak akan kami lupa."
Dan di gang kecil Lemabang, Kakek Surip duduk di terasnya, menatap bulan. Hatinya penuh syukur. Di usia 81 tahun kemerdekaan Indonesia, ia menemukan harapan baru: bahwa ada generasi muda yang akan meneruskan estafet perjuangan, bukan dengan senjata, tapi dengan kebaikan hati.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

2 hours ago
7








































