Fikri Nuraiman - Mahasiswa Universitas Siber
Guru Menulis | 2026-08-16 10:00:02
Ketika Disiplin Kehilangan Sisi Kemanusiaan: Belajar dari Tragedi Ospek UNNES
Kegiatan orientasi mahasiswa baru sebaiknya menjadi pintu pertama bagi seseorang untuk mengenal dunia perguruan tinggi. Di acara ini, mahasiswa diperkenalkan pada lingkungan akademik. Mereka dibentuk untuk mengenal tanggung jawab, belajar bekerja sama, dan menyesuaikan diri dengan kehidupan baru sebagai mahasiswa. Namun, ada pertanyaan penting yang harus diajukan.
Ketika kegiatan itu bertujuan membentuk manusia, apakah peserta kegiatan tersebut sudah benar-benar diperlakukan sebagai manusia? Pertanyaan itu muncul lagi setelah seorang mahasiswa baru Universitas Negeri Semarang (UNNES), Rivaldo Aulia Reza, meninggal dunia setelah kecelakaan lalu lintas saat pulang dari kegiatan orientasi. Menurut keterangan kepolisian yang diberitakan detikJateng, kecelakaan terjadi di Jalan Koesbiyono Tjondeowibowo, Gunungpati, Semarang.
Korban yang berboncengan dengan mahasiswa lain diduga kurang fokus saat berkendara. Kendaraan mereka oleng lalu mengalami kecelakaan. Korban dinyatakan meninggal di tempat kejadian. Pihak UNNES juga sudah mengonfirmasi kabar duka ini dan mengimbau mahasiswa untuk lebih berhati-hati saat berkendara.
Manusia Bukan Sekadar Peserta yang Harus Patuh
Dalam psikologi humanistik, manusia dipandang berbeda dari hanya objek yang dikendalikan oleh stimulus, respons, atau dorongan naluriah. Pendekatan ini melihat manusia sebagai individu yang punya potensi, kehendak bebas, dan kemampuan untuk mengembangkan diri. Dengan pandangan itu, mahasiswa baru sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai "peserta ospek" yang harus mengikuti semua instruksi panitia. Mereka adalah individu yang punya kondisi fisik, pengalaman, kebutuhan, kemampuan, dan batas yang berbeda-beda.
Di sini, arti humanisme menjadi penting. Kegiatan orientasi memang perlu aturan. Mahasiswa harus belajar menghargai waktu, menaati ketentuan, bertanggung jawab, dan bekerja sama. Namun, kedisiplinan tidak berarti harus patuh tanpa batas. Batas kemanusiaan sebenarnya bisa bermula dari cara aturan itu dibuat. Panitia punya wewenang untuk menentukan jadwal, durasi, aktivitas, dan berbagai aturan yang harus dijalankan peserta. Karena itu, nilai humanistik sebaiknya tidak hanya terlihat dari cara panitia berbicara kepada mahasiswa. Nilai ini juga harus terlihat sejak proses merancang kegiatan. Sebuah aturan bisa tegas dan tetap manusiawi.
Pertanyaannya bukan soal apakah mahasiswa boleh diberi tantangan. Yang penting adalah apakah tantangan itu punya tujuan pendidikan yang jelas, dan apakah pelaksanaannya tetap memperhatikan kondisi manusia yang menghadapinya.
Makan dan Istirahat Bukan Musuh Kedisiplinan
Salah satu gagasan penting dalam psikologi humanistik adalah bahwa manusia punya kebutuhan yang mendorong proses perkembangannya. Abraham Maslow dalam A Theory of Human Motivation menjelaskan bahwa kebutuhan manusia tersusun dalam suatu hirarki. Kebutuhan fisiologis adalah salah satu kebutuhan paling mendasar. Ia menjelaskan bahwa ketika kebutuhan fisiologis sangat tidak terpenuhi, kebutuhan tersebut bisa mendominasi perhatian dan mendorong kebutuhan lain ke belakang. Setelah kebutuhan dasar cukup terpenuhi, kebutuhan lain bisa muncul dan menjadi pendorong perilaku manusia.
Pemikiran itu penting saat kita membahas orientasi mahasiswa. Makan, minum, tidur, istirahat, dan rasa aman bukan bentuk "kemanjaan" peserta. Semua itu termasuk kebutuhan dasar manusia. Karena itu, memenuhi kebutuhan peserta seharusnya tidak dianggap bertentangan dengan pembentukan karakter. Sebaliknya, kegiatan yang ingin membentuk manusia perlu memahami kondisi manusia yang sedang dibentuk. Bayangkan sebuah kegiatan yang dibuat untuk melatih konsentrasi, tetapi pesertanya sangat lelah. Atau sebuah kegiatan yang ingin membangun kemampuan berpikir kritis, tetapi peserta tidak punya kesempatan untuk memulihkan kondisi fisik mereka.
Pertanyaannya sekarang bukan hanya soal apakah peserta bisa menyelesaikan kegiatan itu.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah metode yang digunakan benar-benar membantu mereka tumbuh?
Tidak Semua Mahasiswa Memiliki Kondisi yang Sama
Masalah lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa mahasiswa bukan kelompok yang seragam. Ada mahasiswa yang bisa mengikuti aktivitas fisik dalam waktu lama. Ada juga yang lebih cepat merasa lelah. Ada yang bisa menyampaikan keluhannya secara terbuka. Namun, ada juga yang memilih diam. Pengalaman setiap orang pun berbeda. Psikologi humanistik fokus pada pengalaman subjektif manusia. Namun, pendekatan ini juga punya batasan karena pengalaman subjektif tidak selalu mudah diukur dengan cara yang objektif. Karena kita tidak bisa tahu kondisi setiap peserta dengan pasti, sistem kegiatan harus punya cara untuk menghadapi perbedaan itu.
Orientasi yang bersifat manusiawi tidak berarti panitia harus tahu kondisi setiap peserta secara rinci. Yang penting adalah ada sistem yang membuat peserta bisa mendapat bantuan saat mereka membutuhkannya. Ketersediaan waktu istirahat, konsumsi yang cukup, akses ke pertolongan kesehatan, pendampingan, dan cara menyampaikan keluhan adalah contoh sederhana dari sistem itu. Jadi, memperlakukan peserta dengan adil tidak selalu berarti memberi perlakuan yang persis sama kepada semua orang. Kadang-kadang, seseorang butuh perhatian lebih karena keadaannya memang berbeda.
Panitia Bukan Hanya Pemegang Kuasa
Masalah ini lalu membawa kita pada sisi kepemimpinan. Panitia punya lebih banyak kekuasaan dibanding peserta dalam kegiatan orientasi. Mereka membuat aturan, memberi instruksi, dan memastikan kegiatan berjalan sesuai rencana. Namun, kekuasaan tanpa tanggung jawab bisa berubah menjadi hanya tuntutan untuk patuh. Salah satu pendekatan kepemimpinan yang penting adalah servant leadership.
Dalam kajian Dirk van Dierendonck, kepemimpinan pelayan ditandai antara lain oleh upaya untuk memberdayakan dan mengembangkan orang lain. Pendekatan ini juga menunjukkan kerendahan hati, penerimaan interpersonal, dan tanggung jawab terhadap orang yang dipimpin. Pendekatan tersebut menekankan pentingnya hubungan yang baik, kepercayaan, dan keadilan dalam mendorong perkembangan individu.
Jika konsep tersebut diterapkan dalam kegiatan orientasi, maka panitia tidak cukup hanya bertanya:
"Apakah peserta sudah mengikuti semua aturan?"
Panitia juga perlu bertanya:
"Apakah aturan yang kami buat membantu peserta tumbuh?"
dan:
"Apakah cara kami memimpin sudah memikirkan keadaan orang yang kami pimpin?"
Ini adalah perbedaan antara memimpin dengan kekuasaan dan memimpin dengan tanggung jawab.
Ospek Humanis Bukan Berarti Ospek Tanpa Disiplin
Ada kekhawatiran bahwa jika aspek kemanusiaan terlalu diperhatikan, kegiatan orientasi bisa kehilangan ketegasan. Saya pikir anggapan itu perlu dijelaskan lagi. Humanisme tidak berarti menghilangkan disiplin. Humanisme malah mengajak kita melihat disiplin dari sudut pandang yang lebih manusiawi. Mahasiswa masih bisa diminta datang tepat waktu. Mereka juga masih bisa diberi tugas kelompok. Mereka tetap bisa belajar bertanggung jawab atas keputusan yang diambil. Mereka bahkan masih bisa diberi tantangan yang membuat mereka keluar dari zona nyaman.
Namun, setiap aturan perlu memiliki alasan dan batasan. Jika sebuah aturan dibuat hanya karena "dari dulu memang begitu", maka aturan tersebut sebaiknya dievaluasi. Jika suatu kegiatan hanya dilakukan untuk menunjukkan bahwa panitia punya kekuasaan, maka tujuan pendidikannya perlu dipertanyakan. Sebaliknya, jika sebuah aktivitas punya tujuan yang jelas, aman, proporsional, dan membantu mahasiswa belajar sesuatu, maka tantangan itu bisa menjadi pengalaman yang bermakna. Dengan kata lain, ospek humanis bukan berarti ospek yang lembek. Ospek humanis berarti ospek yang paham bahwa kedisiplinan diajarkan kepada manusia.
Dari Tragedi Menuju Evaluasi
Peristiwa yang dialami Rivaldo sebaiknya tidak hanya menjadi berita viral lalu terlupakan saat perhatian publik pindah ke isu lain. Kita tidak perlu memakai tragedi itu untuk menunjuk siapa yang paling salah tanpa alasan yang jelas. Namun, kita bisa menggunakannya sebagai kesempatan untuk menilai kembali cara kegiatan orientasi dibuat.
Evaluasi bisa dimulai dengan pertanyaan yang sederhana.
Apakah jadwal kegiatan sudah memperhatikan kebutuhan istirahat mahasiswa?
Apakah kebutuhan makan dan minum peserta sudah dipastikan?
Apakah ada cara untuk menangani mahasiswa yang kondisi fisiknya menurun?
Apakah ada cara bagi peserta untuk menyampaikan kondisi mereka tanpa takut ditekan?
Apakah panitia mendapat pelatihan tentang kepemimpinan, komunikasi, dan penanganan situasi darurat?
Dan yang paling penting, apakah setiap aturan punya tujuan pendidikan yang jelas?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk melemahkan semangat orientasi. Sebaliknya, pertanyaan itu perlu agar orientasi tetap pada tujuan awalnya. Tujuannya adalah membantu manusia masuk ke lingkungan baru dan berkembang di sana.
Menempatkan Manusia Kembali di Tengah Pendidikan
Pada akhirnya, psikologi humanistik mengingatkan kita bahwa manusia bisa berkembang, punya kebutuhan, punya kehendak, dan punya pengalaman pribadi yang tidak selalu sama dengan orang lain. Oleh karena itu, kegiatan yang bertujuan mengembangkan manusia seharusnya tidak melupakan sudut pandang tentang manusia itu sendiri. Kecelakaan yang menimpa Rivaldo memang tidak bisa langsung disimpulkan sebagai akibat dari kegiatan ospek. Namun, perhatian terhadap pelaksanaan kegiatan itu memberi kita kesempatan untuk berpikir lebih jauh tentang budaya orientasi mahasiswa.
Disiplin masih penting. Aturan tetap dibutuhkan. Pemimpin tetap harus tegas. Tetapi semuanya perlu ditempatkan dalam satu kesadaran:
Yang kita bentuk bukan hanya peserta yang taat. Mereka adalah orang-orang yang sedang belajar menjadi diri sendiri. Maka, mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaan tentang keberhasilan ospek.
Bukan hanya:
"Apakah semua peserta bisa mengikuti semua aturan?"
Melainkan juga:
Apakah setelah mengikuti kegiatan ini, mereka menjadi lebih baik tanpa kehilangan rasa aman, martabat, dan kemanusiaannya?
Karena pendidikan yang baik bukan hanya bisa membentuk manusia yang tangguh saat menghadapi tekanan. Pendidikan yang baik juga bisa menunjukkan kapan seseorang perlu diberi tantangan, dan kapan seseorang harus dilindungi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

2 hours ago
6








































