Ketika Dunia Mengakui Rumah Pendidikan: dari Schooling Menuju Learning

2 hours ago 6
  dari Schooling Menuju Learning (Dok. Pribadi)

KETIKA pertama kali saya menyaksikan ajang kompetisi World Summit on the Information Society (WSIS) Prizes di Jenewa, Swis, pada 2012, Indonesia bahkan belum memiliki satu pun nominasi, apalagi pemenang. Ajang yang diselenggarakan oleh International Telecommunication Union (ITU), badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di bidang telekomunikasi dan teknologi informasi, tersebut saat itu terasa begitu jauh dari Indonesia.

Empat belas tahun kemudian, pada Kamis (9/7), saya menyaksikan nama Rumah Pendidikan dipanggil sebagai pemenang utama (Winner) WSIS Prizes 2026 pada kategori e-government. Ada satu hal yang saya renungkan, bahwa yang memperoleh pengakuan dunia sesungguhnya bukan sekadar sebuah platform digital pendidikan. Dunia sedang mengakui sebuah gagasan: bahwa teknologi dapat menjadi jembatan pemerataan akses dan mutu pendidikan sekaligus berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

Sebuah gagasan sederhana: teknologi harus menghadirkan kesempatan belajar yang sama bagi setiap anak Indonesia, sekaligus memberikan ruang bagi guru untuk terus belajar dan meningkatkan kompetensi mereka.

Selama bertahun-tahun, transformasi digital sering kali diukur dari banyaknya aplikasi yang dibangun, besarnya anggaran yang diinvestasikan, atau secanggih apa teknologi yang digunakan. Padahal, ukuran keberhasilan transformasi digital sesungguhnya jauh lebih sederhana: apakah teknologi mampu membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik dan lebih mudah?

Dalam pendidikan, pertanyaannya menjadi lebih mendasar. Apakah teknologi mampu membuat seorang anak di pulau terluar memperoleh kesempatan belajar yang sama dengan anak di kota besar? Apakah seorang guru di daerah tertinggal memiliki akses yang setara terhadap pengembangan kompetensi sebagaimana guru di perkotaan?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang melahirkan Rumah Pendidikan: sebuah ekosistem yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan guru, murid, orangtua, sekolah, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan dalam satu ekosistem ruang bersama.

Indonesia ialah negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Keberagaman geografis merupakan kekuatan bangsa, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan besar dalam pemerataan pendidikan. Selama puluhan tahun, negara terus membangun sekolah, meningkatkan kompetensi guru, dan memperluas akses pendidikan. Namun, di era digital muncul tantangan baru. Layanan pendidikan berkembang sangat pesat, tetapi tersebar dalam banyak aplikasi yang berjalan sendiri-sendiri.

Guru harus membuka berbagai platform untuk kebutuhan yang berbeda. Kepala sekolah mengakses sistem yang berbeda. Orangtua dan murid sering kali kebingungan mencari layanan pendidikan yang mereka perlukan. Digitalisasi telah berlangsung, tetapi pengalaman penggunanya belum sepenuhnya sederhana, terintegrasi, dan berpusat pada kebutuhan pengguna.

MAKNA PENTING LAHIRNYA RUMAH PENDIDIKAN

Pada awal memimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof Abdul Mu'ti memperkenalkan istilah Rumah Pendidikan

. Pemilihan kata 'rumah' bukanlah sebuah kebetulan. Rumah bukan tempat yang mempersulit orang untuk datang. Rumah ialah tempat setiap orang merasa diterima, bertumbuh, dan memperoleh dukungan.

Rumah memudahkan siapa pun untuk datang, belajar, berbagi, dan kembali ketika membutuhkan. Filosofi itu terasa sangat relevan ketika pendidikan memasuki era digital. Teknologi seharusnya membuat layanan semakin dekat, bukan semakin rumit. Filosofi tersebut kemudian diterjemahkan menjadi budaya kerja RAMAH—responsif, akuntabel, melayani, adaptif, dan harmonis—yang menjadi fondasi layanan publik kementerian.

Konsep 'rumah' kemudian berkembang menjadi cara baru membangun ekosistem digital pendidikan. Bukan sekadar menghadirkan aplikasi, melainkan menghadirkan ruang kolaborasi yang menghubungkan guru, murid, orangtua, sekolah, pemerintah daerah, dan berbagai mitra pendidikan dalam satu ekosistem.

Gagasan itu juga sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto bahwa setiap anak Indonesia harus memperoleh kualitas pendidikan dan sumber belajar yang sama melalui pemanfaatan teknologi. Kalimat tersebut sesungguhnya berbicara tentang keadilan. Teknologi bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk memastikan tempat lahir seorang anak tidak menentukan kualitas pendidikan yang diterimanya.

Rumah Pendidikan (rumah.pendidikan.go.id) kemudian berkembang bukan sebagai superaplikasi semata, tetapi sebagai ekosistem pembelajaran nasional. Saat ini, 66 layanan pendidikan telah terintegrasi dan dimanfaatkan oleh lebih dari 6,9 juta pengguna. Platform itu telah dikunjungi lebih dari 67 juta kali. Bersama lebih dari 50 mitra strategis, Rumah Pendidikan menghadirkan ribuan materi pembelajaran digital bagi guru dan murid.

Yang lebih menggembirakan, lebih dari 104 ribu guru di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) telah memanfaatkan Rumah Pendidikan

 untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Sementara itu, 339 ribu satuan pendidikan di 513 kabupaten/kota menggunakan Rapor Pendidikan sebagai dasar perencanaan berbasis data. Transformasi digital tidak lagi berhenti pada digitalisasi layanan, tetapi mulai mengubah cara sekolah mengambil keputusan, guru belajar, dan murid memperoleh pengalaman belajar.

Menurut saya, perubahan paling penting justru bukan pada teknologinya, melainkan pada cara kita memandang pendidikan. Selama ini kita lebih akrab dengan konsep schooling. Pendidikan identik dengan sekolah sebagai institusi. Belajar dimulai ketika bel berbunyi dan berakhir ketika murid pulang.

Rumah Pendidikan mengajak kita memandang pendidikan secara berbeda: bergeser dari schooling menuju learning. Schooling berbicara tentang institusi. Learning berbicara tentang manusia. Schooling memiliki batas ruang dan waktu. Learning memungkinkan setiap orang belajar sepanjang hayat.

Belajar tidak lagi dibatasi ruang kelas. Belajar dapat berlangsung kapan saja, di mana saja, melalui berbagai layanan pendidikan dan sumber belajar yang saling terhubung. Guru tetap menjadi pusat pembelajaran, sementara teknologi hadir untuk memperkuat perannya, bukan menggantikannya.

Tampaknya itulah alasan mengapa gagasan tersebut bisa memperoleh pengakuan dunia. Pengakuan itu datang dari ITU, PBB, dan komunitas WSIS yang menilai Rumah Pendidikan berhasil menunjukkan bagaimana transformasi digital dapat mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Ketika Rumah Pendidikan dinobatkan sebagai pemenang utama WSIS Prizes 2026 pada kategori e-government, Indonesia menorehkan sejarah. Untuk pertama kalinya sejak ajang tersebut diselenggarakan pada 2012, Indonesia berhasil meraih predikat pemenang utama. Sebelumnya, Indonesia pernah memperoleh predikat lima besar (Champion) pada kategori yang sama melalui superaplikasi Jaki pada 2021.

Namun, penghargaan itu bukanlah garis akhir perjalanan transformasi digital pendidikan Indonesia. Penghargaan itu mengingatkan kita bahwa transformasi digital bukan diukur dari banyaknya aplikasi yang dibangun, melainkan dari sejauh mana layanan publik semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Teknologi menjadi bermakna ketika dirancang dengan pendekatan yang berpusat pada pengguna (user-centric) dan dibangun melalui partisipasi semesta dengan kolaborasi lintas pemangku kepentingan (co-creation).

Rumah Pendidikan menunjukkan bahwa e-government kini berkembang menuju digital government. Perhatian tidak lagi hanya tertuju pada digitalisasi birokrasi, tetapi pada bagaimana layanan publik dirancang semakin inklusif, kolaboratif, dan berpusat pada kebutuhan masyarakat. Dalam konteks pendidikan, transformasi tersebut menghadirkan pembelajaran yang lebih adil, mudah diakses, dan bermutu.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan transformasi digital bukanlah banyaknya aplikasi yang dibangun ataupun penghargaan yang diraih. Keberhasilannya diukur dari semakin banyaknya guru yang terbantu mengajar, semakin banyaknya orang tua yang terlibat mendampingi anak belajar, dan semakin banyaknya anak Indonesia yang memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan.

Jika suatu hari nanti seorang anak di pulau terluar memperoleh kualitas pembelajaran yang sama dengan anak di kota besar, saat itulah teknologi benar-benar menjalankan perannya.

Barangkali, kelak orang tidak lagi mengingat kapan Rumah Pendidikan meraih Winner WSIS Prizes 2026. Namun, mereka tetap mengingat gagasan yang melahirkannya: teknologi seharusnya menjadi rumah yang membuka kesempatan, bukan tembok yang menciptakan jarak.

Pada akhirnya setiap anak Indonesia berhak merasa bahwa pendidikan selalu memiliki rumah yang terbuka untuk mereka. Itulah makna sesungguhnya dari sebuah Rumah Pendidikan yang RAMAH demi mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |