REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp18 ribu per dolar AS mulai memunculkan kekhawatiran terhadap harga bahan bakar minyak (BBM). Namun, pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tetap aman dan tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir 2026.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot mengatakan pemerintah tetap mempertahankan harga BBM subsidi meskipun kurs dolar AS terhadap rupiah telah menembus Rp17.877 per dolar AS.
“Untuk kenaikan harga BBM yang untuk subsidi, ini kan sudah disampaikan (tidak naik hingga akhir tahun),” ujar Yuliot di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat.
Selain menjamin harga tetap stabil, pemerintah memastikan ketersediaan stok BBM nasional masih berada di atas batas minimum operasional.
“Misalkan untuk Pertalite itu jauh di atas cadangan minimal, dan juga untuk solar CN48 itu juga di atas cadangan minimal,” kata Yuliot.
Menurut dia, pasokan BBM nonsubsidi juga dalam kondisi cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya tekanan global yang mendorong dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang, termasuk rupiah. Berdasarkan Kurs Transaksi Bank Indonesia, nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp17.877 per dolar AS.
Meski demikian, pemerintah menilai kondisi tersebut belum menjadi alasan untuk menyesuaikan harga BBM subsidi.
Yuliot mengatakan pemerintah terus berupaya mengurangi tekanan dari fluktuasi nilai tukar melalui peningkatan produksi minyak domestik dan penguatan kapasitas kilang dalam negeri.
“Produksi di dalam negeri kami dorong untuk peningkatan, kilang di dalam negeri pun itu juga kami sudah siapkan,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga menegaskan harga BBM subsidi masih aman meskipun harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada April 2026 mencapai 117,31 dolar AS per barel.
Menurut Bahlil, rata-rata ICP sepanjang Januari hingga Mei 2026 masih berada di kisaran 80 hingga 81 dolar AS per barel, atau masih jauh di bawah asumsi yang berpotensi memicu penyesuaian harga BBM subsidi.
“Rata-rata ICP kita sekarang itu kurang lebih sekitar 80–81 dolar AS dari bulan Januari sampai sekarang. Jadi, belum sampai 100 dolar AS,” kata Bahlil.
Karena itu, pemerintah memastikan harga Pertalite dan Biosolar tetap dipertahankan untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global dan gejolak nilai tukar.
“Insya-Allah sampai akhir tahun,” ujar Bahlil.
sumber : Antara

6 hours ago
6

















































