Dari Paradigma Kemenangan Menuju Paradigma Koeksistensi

4 hours ago 4

Oleh: Azis Subekti, pendiri Serikat Masyarakat Produktif Indonesia, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Ada sebuah ironi besar dalam sejarah manusia yang jarang kita sadari. Kita tidak pernah sedekat ini satu sama lain. Namun kita juga tidak pernah semudah ini saling menghancurkan.

Sebuah pesan yang dikirim dari Riyadh dapat tiba di New York dalam hitungan detik. Sebuah transaksi di Shanghai dapat memengaruhi harga pangan di Afrika. Sebuah gangguan di Selat Hormuz dapat mengguncang pasar energi dunia.

Sebuah serangan siber di satu negara dapat melumpuhkan sistem keuangan negara lain yang berjarak ribuan kilometer. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, umat manusia hidup sebagai satu sistem yang saling terhubung.

Tetapi secara psikologis, kita masih sering berpikir seperti suku. Kita masih membagi dunia ke dalam “kami” dan “mereka”. Kita masih mengukur keberhasilan melalui kemenangan atas pihak lain. Kita masih memandang konflik sebagai sesuatu yang harus diselesaikan dengan mengalahkan lawan.

Dan mungkin di sinilah letak pertanyaan terbesar abad ke-21. Bukan siapa yang akan menjadi negara terkuat. Bukan siapa yang akan menguasai teknologi paling canggih. Bukan pula siapa yang akan memenangkan perang berikutnya.

Melainkan apakah manusia mampu menyesuaikan cara berpikirnya dengan dunia yang telah berhasil ia ciptakan sendiri.

Jika kita melihat sejarah dalam rentang yang sangat panjang, ada satu pola yang terus berulang. Peradaban manusia tumbuh karena kemampuan memperluas lingkaran kerja sama.

Pada awalnya, manusia hidup dalam kelompok-kelompok kecil. Keluarga adalah dunia. Di luar keluarga adalah ancaman.

Kemudian manusia membentuk suku. Lingkaran kerja sama menjadi lebih besar. Namun di luar suku tetap dianggap musuh. Lalu lahirlah kerajaan.

Berbagai suku yang sebelumnya saling berperang dipersatukan di bawah satu kekuasaan. Setelah itu muncul negara bangsa.

Jutaan manusia yang tidak pernah saling mengenal bersedia hidup di bawah satu konstitusi, satu mata uang, satu identitas politik.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |