Saul Studio membawakan koleksi The Next Chapter pada BRI JF3 Fashion Festival 2026.(Dok. JF3 2026)
SEBUAH pakaian tidak pernah hanya berbicara tentang kain.
Di balik setiap potongan, motif, dan detail yang terlihat, terdapat cerita panjang tentang proses penciptaannya. Ada tangan artisan yang menjaga teknik secara turun-temurun, pengetahuan yang diwariskan lintas generasi, serta desainer yang menerjemahkan gagasan menjadi sebuah karya.
Di sisi lain, tren fesyen terus berubah, kebutuhan pasar berkembang, dan brand dituntut beradaptasi dengan persaingan yang semakin luas. Dalam kondisi tersebut, kreativitas tetap menjadi fondasi utama, tetapi pertumbuhan sebuah brand juga membutuhkan kemampuan menjaga nilai yang membedakannya.
Lalu, bagaimana sebuah brand dapat berkembang tanpa kehilangan identitas yang menjadi kekuatannya?
Pertanyaan tersebut menjadi pembahasan dalam sesi diskusi panel yang digagas Kedutaan Besar Prancis-IFI, LAKON Indonesia, dan JF3 Fashion Festival. Bertajuk Fashion and Craftsmanship: Rethinking the Fashion of Tomorrow, diskusi ini mempertemukan pelaku industri fesyen Indonesia dan Prancis. Mereka di antaranya adalah Founder, LAKON Indonesia Thresia Mareta, Head of Design and Co-Director ENAMOMA-PSL Darja Richter-Widhoff, Designer dan Founder, brand 30%70 Fengyuan Dai, Designer dan residen PINTU Gabriel Marcella Budiono, serta designer brand MARLON NANA dan residen PINTU Mickael Nana.
Sebuah perspektif datang dari Founder LAKON Indonesia Thresia Mareta. Ia melihat bahwa pertumbuhan sebuah brand tidak selalu harus diterjemahkan melalui peningkatan jumlah produksi.
Bagi jenama yang tumbuh melalui craftsmanship, nilai sebuah karya tidak hanya berada pada produk akhir, tetapi juga pada proses, pengalaman, dan keterampilan yang membentuknya.
“Sebuah karya yang melibatkan teknik tradisional, proses manual, dan keterampilan artisan memiliki nilai yang tidak hanya berasal dari produk akhir. Ada waktu, pengalaman, dan pengetahuan yang membentuk setiap tahap penciptaannya,” ujar Thresia.
Menurutnya, konsep scaling up dalam industri fesyen perlu dipahami lebih luas. Meningkatkan skala sebuah brand bukan hanya tentang membuat lebih banyak produk, tetapi meningkatkan kemampuan orang-orang yang terlibat di dalamnya.
“Kalau kita menggunakan logika seperti itu untuk bisnis, saya pikir kita akan menghancurkan apa yang seharusnya kita miliki. Kita memiliki pilihan lain untuk menaikkan skala,” katanya.
Karena itu, pengembangan merek dapat dilakukan dengan meningkatkan kemampuan desainer dan artisan.
“Kita bisa menaikkan skala seperti meningkatkan kemahiran dari desainer, meningkatkan nilai dari apa yang mereka buat,” ujar Thresia.
Menurutnya, banyak artisan Indonesia memiliki kemampuan besar. Tetapi masih membutuhkan dukungan pendidikan dan akses agar dapat berkembang bersama industri.
Artisan sebagai Bagian dari Cerita
Persembahan Lakon Indonesia, Harsa, pada BRI JF3 Fashion Festival 2026.
Kekuatan craftsmanship Indonesia juga terlihat dari hubungan antara desainer dan artisan.
Designer dan residen PINTU Gabrielle Michelle Budiono, yang memiliki pengalaman bekerja bersama artisan di Mojokerto, mengatakan bahwa proses kreatif tidak dapat dimulai hanya dengan membawa desain lalu meminta artisan untuk mengerjakannya.
“Kita tidak bisa berpikir saya memiliki desain yang bisa dibuat. Kita harus membangun, berbincang dengan mereka, dan mengetahui spesialitas mereka,” ujar Gabrielle.
Menurutnya, setiap artisan memiliki karakter berbeda. Bahkan dalam wilayah yang sama, setiap pengrajin dapat memiliki teknik dan pendekatan yang menghasilkan karya dengan identitas tersendiri.
“Setiap artisan memiliki spesialitas dalam metode berbeda dan setiap pekerjaan mereka unik untuk mereka,” jelasnya.
Keunikan tersebut menjadi bagian dari nilai sebuah karya. Dalam craftsmanship, artisan bukan hanya pihak yang menghasilkan produk, tetapi bagian dari proses penciptaan.
“Mereka bukan hanya penjualan, tetapi mereka bagian dari proses penciptaan,” ujarnya.
Ketika Kreativitas Bertemu Realitas Bisnis
Finalis Future Fashion Designer (FFD) 2026
Selain menjaga nilai kreatif, sebuah jenama fesyen juga akan menghadapi tantangan bisnis. Desainer dan pendiri MARLON NANA Mickael Nana melihat bahwa banyak desainer harus menemukan keseimbangan antara mempertahankan identitas kreatif dan memastikan bisnis tetap berjalan.
“Masalahnya adalah bagaimana kita bisa mencari balance,” ujar Mickael.
Salah satu tantangan terbesar jenama muda adalah mendapatkan material berkualitas dalam jumlah produksi terbatas. Banyak bahan dengan karakter tertentu sulit diperoleh karena manufaktur membutuhkan volume besar.
“Bagi desainer brand muda, sangat sulit untuk mencari kain, terutama kain yang bagus,” katanya.
Kondisi tersebut membuat kreativitas tidak hanya diperlukan dalam desain, tetapi juga dalam membangun strategi produksi dan hubungan dengan berbagai pihak.
Selain itu, perubahan perilaku konsumen juga ikut mengubah industri fesyen. Konsumen kini tidak hanya melihat produk akhir, tetapi mulai ingin mengetahui cerita, proses, dan manusia di balik sebuah karya.
“Pengguna benar-benar ingin melihat manusia di belakang baju, dan bagaimana semuanya berjalan,” ungkap Mickael.
Membangun Ekosistem Fesyen
Head of Design and Co-Director ENAMOMA-PS Darja Richter-Widhoff menilai, industri fesyen tidak dapat dibangun hanya oleh satu figur utama.
“Tidak semua orang perlu menjadi bintang. Kita seharusnya menjadi grup bintang,” ujarnya.
Menurut Darja, sebuah karya fesyen lahir dari kontribusi banyak pihak, mulai dari desainer, artisan, hingga orang-orang yang memahami material dan proses produksi.
Karena itu, pendidikan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem fesyen yang kuat.
“Hal tersebut berkaitan dengan pendidikan, bukan hanya untuk desainer, tetapi juga pelajar dan masyarakat secara umum,” jelasnya.
Bagi Indonesia, lanjut Darja, pendekatan tersebut menjadi semakin penting karena memiliki kekayaan tradisi tekstil dan craftsmanship yang dapat menjadi kekuatan di pasar global.
Industri fesyen Indonesia memiliki peluang besar untuk berkembang.

Arron Bryan Fernaldy Wongso membawakan koleksi OPPOSITE: The Fallen Virtue pada BRI JF3 Fashion Festival 2026.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Reni Yanita menyampaikan bahwa sektor fesyen dan kriya menunjukkan tren pertumbuhan positif hingga Triwulan I 2026.
Nilai PDB sektor fesyen dan kriya mencapai Rp120,13 triliun, meningkat 7,89% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan besarnya peluang industri fesyen Indonesia untuk memperluas pasar.
Namun, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana menciptakan lebih banyak produk atau brand.
Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana membawa identitas sendiri ketika memasuki ruang global.
Sebab sebuah karya fesyen tidak hanya dibangun dari kain, bentuk, dan tren. Ia dibangun dari manusia, pengetahuan, serta proses panjang yang membuatnya memiliki nilai. (Gan/Z-10)

















































