Mantan Kepala Mossad: Israel Berkali-kali Mengitari Fasilitas Nuklir Fordow Iran

5 days ago 4
 Israel Berkali-kali Mengitari Fasilitas Nuklir Fordow Iran Ilustrasi.(Magnific)

MANTAN Kepala Mossad, Yossi Cohen, mengungkapkan bahwa serangan udara Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Fordow di Iran pada Juni 2025 merupakan perwujudan dari semua mimpinya. Pernyataan ini disampaikan Cohen dalam konferensi Galilee pada Selasa (11/8). 

Ia juga mengeklaim bahwa Israel telah berulang kali memantau situs bawah tanah tersebut. Meskipun Cohen menyambut baik serangan tersebut, ketidakpastian masih menyelimuti nasib cadangan uranium yang diperkaya milik Teheran serta tingkat kerusakan sebenarnya pada fasilitas yang terkubur jauh di bawah tanah itu.

Klaim Kehancuran vs Realitas Lapangan

Tahun lalu, di tengah konflik bersenjata dengan Iran, Amerika Serikat melancarkan serangan ke Fordow dan fasilitas nuklir utama lain. Presiden Donald Trump saat itu mengeklaim bahwa situs pengayaan nuklir utama Iran telah hancur total dan sepenuhnya.

Namun, penilaian intelijen dan analisis citra satelit terbaru menunjukkan gambaran yang berbeda:

  • Kerusakan Terbatas: Pejabat senior AS mengungkapkan kepada The New York Times bahwa serangan tersebut memang menyebabkan kerusakan luas, tetapi tidak menghancurkan fasilitas bawah tanah tersebut secara permanen.
  • Pemindahan Uranium: Seorang pejabat Iran mengatakan bahwa sebagian besar uranium yang diperkaya telah dipindahkan ke lokasi rahasia sesaat sebelum serangan AS terjadi.
  • Upaya Perbaikan: Analisis citra satelit dari Vantor dan Planet Labs PBC menunjukkan bahwa meskipun kerusakan di Fordow, Natanz, dan Isfahan masih terlihat jelas, Iran telah mulai memperbaiki sejumlah fasilitas rudal yang rusak dalam perang Juni lalu.

Catatan IAEA: Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menyatakan pada Oktober lalu bahwa sebagian besar uranium Iran diyakini masih berada di situs-situs yang diketahui, meski inspektur tidak dapat memverifikasi lokasi pastinya. IAEA memperkirakan Iran memiliki lebih dari 400 kilogram uranium yang diperkaya hingga tingkat 60 persen.

Status Ancaman Nuklir

Yossi Cohen dalam pidatonya juga memberikan catatan bahwa uranium yang diperkaya hingga 60 persen masih jauh dari kebutuhan untuk membuat bom nuklir. Pernyataan ini sejalan dengan penilaian intelijen AS yang diterbitkan pada Mei 2026, yang mengindikasikan bahwa breakout timeline (waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi senjata nuklir) Iran tidak berubah secara signifikan sejak serangan Juni.

Hal ini disebabkan oleh kegagalan serangan udara dalam melenyapkan stok sisa uranium yang diperkaya tinggi. Hingga saat ini, terowongan di Fordow dilaporkan masih terblokir oleh puing-puing dan rintangan. Namun inti dari kemampuan nuklir Iran dianggap belum sepenuhnya lumpuh. (Haaretz/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |