Maskapai Jepang Buka Suara soal Imbas Travel Warning China

3 hours ago 1

CNN Indonesia

Rabu, 14 Jan 2026 20:00 WIB

Setelah meningkatnya tensi dari kedua belah pihak, sektor pariwisata Jepang otomatis terdampak. Jumlah kunjungan wisatawan China ke Jepang merosot. Ilustrasi pesawat Japan Airlines. (iStockphoto/viper-zero)

Jakarta, CNN Indonesia --

Hubungan Jepang dan China memanas sejak November 2025 usai Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi memberi komentar tentang Taiwan. Imbasnya, Pemerintah China mengumumkan travel warning bagi warganya untuk tidak bepergian ke Negeri Sakura.

Setelah meningkatnya tensi dari kedua belah pihak, sektor pariwisata Jepang otomatis terdampak. Jumlah kunjungan wisatawan China ke Jepang merosot, termasuk tiket penerbangan yang banyak dibatalkan.

Salah satu maskapai yang berbasis di Jepang, Japan Airlines (JAL), juga merasakan dampak dari travel warning tersebut. Namun, pihaknya juga memiliki pendapat lain dan memilih sudut pandang positif dari memanasnya hubungan Jepang dan China.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan adanya travel warning, para turis China juga banyak yang meminta refund serta pembatalan tiket pesawat

"Jadi itu sebenarnya impact sekali, terutama untuk dari sisi penerbangan. Japan Airlines pun tiketnya harus di-refund atau disubsidi ke tujuan lain. Namun, kalau yang saya ikuti, sepertinya Pemerintah Jepang juga mencoba untuk memperbaiki market," ujar Sales Manager Japan Airlines, Benny Herlian dalam acara Konferensi Pers Japan Travel Fair 2026 di World Trade Center, Jakarta, Rabu (14/1).

Lebih lanjut, ia mengatakan, sebagai maskapai penerbangan, JAL akan mengikuti regulasi yang berlaku. Meskipun pada bulan Desember lalu, kata Benny, bahkan seperti tidak ada turis China yang berkunjung atau liburan ke Jepang.

"Jadi itu ada plus minusnya. Namun, untuk airlines, kita akan follow regulation. Kalau misalnya memang enggak boleh terbang, kita enggak terbang," terang Benny.

Namun, polemik ini justru di lain sisi juga memiliki dampak positif, khususnya bagi wisatawan dari negara lain. Dari kacamata maskapai JAL, berkurangnya jumlah wisatawan China bisa menjadi kabar baik bagi wisatawan lain, karena destinasi wisata di sana jadi tidak terlalu penuh.

"Jadi China market drop, tapi itu good news buat Indonesian market karena di sana enggak terlampau crowded seperti biasanya. Jadi itu kesempatan untuk yang ingin explore Jepang tanpa harus berdesak-desakan dengan turis-turis dari China," ungkapnya.

Sebagai salah satu siasat agar polemik ini tidak terlalu mempengaruhi jumlah pemesanan tiket, Japan Airlines berharap bisa menarik pasar lain, termasuk wisatawan Indonesia.

Sehubungan dengan hal ini, JAL bersama Permata Bank akan menggelar Japan Travel Fair 2026, berlangsung di Atrium 2 Lippo Mall Puri, Jakarta Barat, pada tanggal 15 sampai 18 Januari 2026. Dari acara ini, mereka mengharapkan bisa menarik wisatawan Indonesia untuk berkunjung ke Jepang di awal tahun 2026.

"Jadi, dari sisi kita, sebenarnya itu untuk quarter four, which is Januari sampai Maret nanti, kita sangat expect dari travel fair ini. Good news-nya adalah untuk tren Indonesia itu, mereka price sensitive tapi kalau market price-nya bagus, mereka beli (tiket pesawat). Jadi itulah kenapa kita adakan travel fair ini," kata Benny.

Pihaknya juga mengatakan bahwa segmentasi pasar wisatawan ke Jepang bukan hanya dari China saja. Ada pula pasar lain seperti American region, Asian region, serta European region. Benny menyimpulkan, travel warning dari China tidak terlalu berdampak signifikan terhadap JAL sebagai maskapai penerbangan.

(ana/wiw)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |