Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
02 March 2026 21:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Di balik serangan besar Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada Sabtu lalu, tersimpan operasi militer yang dirancang dengan sangat matang, terkoordinasi, dan presisi.
Seperti diketahui, AS dan Israel melancarkan serangan berskala besar ke Iran pada Sabtu pagi, (28/2/2026) waktu Iran. Serangan tersebut menyasar sejumlah wilayah strategis, termasuk Tehran. Dampaknya pun sangat besar, Operasi gabungan kedua negara itu dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Operasi gabungan ini memiliki dua nama berbeda. Dari pihak AS, serangan tersebut disebut operasi "Epic Fury". Sementara dari pihak Israel, operasi itu dinamai operasi "Roaring Lion". Meski namanya berbeda, keduanya merupakan bagian dari satu rangkaian aksi militer yang berjalan dalam koordinasi yang sangat presisi.
Jalannya Operasi
Amerika Serikat memulai serangan pada pukul 01.15 pagi waktu AS atau sekitar pukul 09.45 waktu Iran. Komando Pusat AS atau CENTCOM langsung menargetkan lebih dari 1.000 sasaran dalam 24 jam pertama.
Fokus utamanya adalah melumpuhkan kekuatan militer Iran, mulai dari pusat komando, markas besar Garda Revolusi Iran atau IRGC, sistem pertahanan udara, hingga gudang rudal dan kapal selam.
Untuk menjalankan operasi ini, AS mengerahkan beragam alutsista canggih, mulai dari pesawat pengebom siluman, pesawat tempur, drone erang, hingga kapal induk. Namun, CENTCOM belum merinci jumlah masing-masing alutsista yang digunakan.
Di sisi lain, Israel bergerak dengan serangan awal membuka jalan bagi dominasi udara. Dalam rilis resminya, militer Israel (Israel Defense Force/IDF) menyebut operasi diawali dengan serangan simultan ke dua pertemuan pejabat senior Iran di Tehran.
Salah satunya berada di kompleks yang disebut Defense Council, sementara yang lain merupakan pertemuan pimpinan kementerian yang menjadi pusat kemampuan intelijen rezim Iran. Menurut IDF, serangan pembuka ini berhasil menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran.
Setelah itu, Israel langsung tancap gas dengan mengirim sekitar 200 pesawat tempur. Ini disebut sebagai misi Angkatan Udara terbesar dalam sejarah mereka. Sebanyak 550 amunisi dijatuhkan ke ratusan titik di wilayah barat dan tengah Iran.
Tujuannya jelas, yakni menghancurkan radar dan sistem pertahanan udara Iran agar pesawat-pesawat Israel bisa bergerak lebih leluasa tanpa mudah ditembak jatuh.
Sasaran penting lainnya berada di wilayah Tabriz dan Qom. Di sana, Israel menghantam lokasi peluncuran rudal balistik sebelum rudal-rudal tersebut sempat ditembakkan ke arah mereka. Dengan lumpuhnya pertahanan udara dan peluncur rudal itu, kemampuan Iran untuk menghadapi gelombang serangan berikutnya pun menjadi jauh lebih lemah.
Presisi serangan dalam operasi Epic Fury dan Roaring Lion memang perlu diapresiasi. Namun, dibalik operasi yang sangat terukur itu, ada jejak panjang rangkaian serangan militer yang sebelumnya sudah lebih dulu melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ketiganya beberapa kali saling melancarkan operasi, baik dalam bentuk serangan langsung maupun balasan terbuka.
Berikut jejak sejumlah operasi militer yang dilakukan AS, Israel, dan Iran dalam beberapa waktu terakhir.
Operasi Rising Star
Operasi militer ini dimulai pada 13 Juni 2025 sebagai serangan besar-besaran Israel ke fasilitas nuklir, pabrik rudal, dan pejabat militer Iran.
Dengan menggabungkan infiltrasi intelijen Mossad, penggunaan drone, dan pengerahan sekitar 200 pesawat tempur, militer Israel berhasil menyerang sekitar 100 target dengan sangat presisi.
Target kunci yang diserang meliputi sistem pertahanan udara Iran, sasaran strategis di dekat Tehran, dan fasilitas nuklir di Natanz.
Selain fasilitas militer dan nuklir, operasi ini juga disebut melumpuhkan sejumlah petinggi Garda Revolusi Iran, sekitar 10 ilmuwan nuklir Iran, serta menewaskan lebih dari 200 warga sipil menurut Menteri Kesehatan Iran.
Operasi True Promise III
Setelah Israel melancarkan serangan pada Jumat, 13 Juni 2025, Iran langsung membalas keesokan harinya dengan menembakkan ratusan rudal balistik dan drone ke wilayah Israel, termasuk Tel Aviv.
Operasi ini terlihat sebagai serangan balasan terbuka, tanpa didahului infiltrasi intelijen seperti yang dilakukan Israel. Sasaran serangan mencakup fasilitas militer dan wilayah perkotaan, tetapi tingkat efektivitasnya diperkirakan jauh lebih rendah dibandingkan operasi Israel sebelumnya.
Menurut pemerintah Israel, serangan ini menewaskan sedikitnya 24 warga sipil. Sejumlah rudal juga dilaporkan menghantam apartemen, universitas, dan rumah sakit.
Operasi Midnight Hammer
Setelah rangkaian saling serang itu, Amerika Serikat kemudian menjalakan operasi yang lebih besar dan jauh lebih kompleks lewat Operasi "Midnight Hammer".
Operasi ini dimulai pada tengah malam, Jumat (20/6/2025), saat tujuh pesawat pengebom siluman B-2 Spirit lepas landas dari Pangkalan Udara Whiteman di Missouri. Pesawat-pesawat ini terbang selama 18 jam ke arah timur menuju target di Iran, dengan komunikasi minimal demi menjaga kerahasiaan operasi.
Selama penerbangan, pesawat B-2 bertemu dengan tim pendukung berupa lebih dari 125 pesawat tempur dan puluhan pesawat tanker pengisian bahan bakar di udara. Manuver ini menunjukkan tingkat koordinasi yang sangat tinggi.
Pada Sabtu pukul 17.00 waktu AS, kapal selam rudal kendali milik AS meluncurkan lebih dari dua lusin rudal jelajah Tomahawk ke fasilitas strategis di Isfahan. Serangan ini menjadi pembuka sebelum gelombang udara utama dimulai.
Sekitar pukul 18.40, paket serangan udara utama mulai memasuki wilayah udara Iran. Untuk membuka jalan, AS menggunakan taktik pengecohan dan mengerahkan jet tempur generasi keempat serta kelima untuk menyapu ancaman rudal permukaan ke udara.
Saat mencapai target di Fordow dan Natanz, pesawat B-2 menjatuhkan bom penghancur bunker GBU-57 Massive Ordnance Penetrator seberat 30.000 pon. Total ada 14 bom dijatuhkan ke dua fasilitas nuklir utama tersebut.
Setelah seluruh target dihancurkan, seluruh armada AS langsung keluar dari wilayah udara Iran dan kembali ke pangkalan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/luc)
Addsource on Google

6 hours ago
1

















































