Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) memastikan akan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sepanjang libur Lebaran 2026, terutama yang diperdagangkan di luar negeri.
Sebagai catatan, pasar keuangan Indonesia akan ditutup selama libur panjang Lebaran dan Hari Raya Nyepi mulai Rabu (18/3/2026) hingga Selasa depan (24/3/2026).
Kendati demikian, rupiah masih tetap diperdagangkan di laur negeri di pasar Non-Deliverable Forward (NDF).
"Sebagai langkah antisipasi terhadap gejolak pasar global yang meningkat akibat konflik Timur Tengah, Bank Indonesia memastikan akan menjaga stabilitas rupiah sepanjang libur Lebaran 2026," tutur Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, seperti dikutip dari keterangan BI hari ini, Kamis (19/3/2026).
"Meskipun pasar keuangan domestik tutup selama libur Lebaran, perdagangan rupiah di pasar luar negeri tetap berjalan dan fluktuasinya dapat berdampak pada ekonomi Indonesia," imbuhnya.
Destry juga memastikan Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal dari kemungkinan eskalasi perang Timur Tengah, termasuk menempuh langkah-langkah penyesuaian yg diperlukan guna tetap konsisten dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional.
Niai tukar rupiah ditutup di posisi Rp16.975/US$1 pada perdagangan terakhir sebelum libur panjang, Selasa (17/3/2026). Rupiah menguat 0,05% pada perdagangan Selasa setelah sempat ambruk 0,78% pada empat perdagangan hari sebelumnya.
Berbeda denan posisi penutupan, nilai tukar rupiah sudah menyentuh RP 17.000/US$1 di pasar NDF.
Merujuk data Refinitiv, pada perdagangan Kamis pagi ini pukul 07.58 WIB, rupiah di pasar NDF sudah menyentuh level Rp17.000/US$ pada tenor 1 bulan ke atas. Sebagai catatan, NDF adalah kontrak derivatif valas yang mirip forward. Bedanya, pada NDF tidak terjadi penyerahan mata uang pokok saat jatuh tempo. Yang dibayarkan hanya selisih antara kurs yang disepakati di awal kontrak dengan kurs acuan saat jatuh tempo. Karena berbasis selisih, NDF banyak digunakan untuk lindung nilai, terutama ketika pelaku pasar ingin mengunci risiko pergerakan kurs tanpa harus membeli dolar di pasar spot.
Hampir seluruh mata uang Asia mengalami tekanan hebat pada perdaganagn Rabu (18/3/2026) di tengah memanasnya stuasi Timru Tengah. Dolar Singapura ambruk 0,62%, rupee India melemah 0,8%, won Korea jatuh 1,36%.
Situasi di Timur Tengah memanas setelah Dewan Keamanan Nasional Tertinggi iran Ali Larijani tewas dalam serangan Israel. Terbaru, Kepala Intelijen Esmail Khatib juga dilaporkan tewas.
Selain memanasnya Timur Tengah, mata uang Asia diperkirakan akan menghadapi tekanan pada hari ini setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) kembali mempertahankan suku bunga di level 3,50-3,75%. The Fed juga diperkirakan akan memangkas suku bunga satu kali tahun ini.
Keputusan ini langsung melambungkan dolar AS. Indeks dolar ditutup di posisi 100,14.
(mae/mae)
Addsource on Google

2 hours ago
2

















































