Jakarta, CNN Indonesia --
Selat Hormuz menjadi sorotan selama perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran, terutama ketika jalur pelayaran tersebut ditutup.
Penutupan Selat Hormuz berdampak besar karena lintasan ini merupakan salah satu jalur perairan paling vital bagi distribusi minyak global.
Gangguan seperti penutupan di jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dan Laut Arab tersebut dapat mendorong lonjakan harga minyak dunia secara signifikan, yang pada akhirnya berimbas pada perekonomian global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Badan Informasi Energi Amerika Serikat atau US Energy Information Administration (EIA) mencatat sekitar 20 juta barel minyak atau seperlima dari produksi global harian mengalir melalui selat ini setiap harinya.
Menurut laporan Reuters, jika jalur pengiriman ini terganggu, kilang-kilang di berbagai negara akan menghadapi keterbatasan pasokan minyak mentah.
Mereka terpaksa menggunakan cadangan yang ada agar tetap bisa memproduksi bahan bakar untuk transportasi maupun kebutuhan industri.
Penutupan Selat Hormuz pun berdampak pada kenaikan harga minyak mentah dunia. Harga minyak sempat melonjak hingga mencapai US$119 per barel pekan lalu, level tertinggi sejak 2022, meski kemudian kembali berfluktuasi.
Apabila gangguan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz berlangsung lama, harga minyak berpotensi naik lebih tinggi lagi. Kondisi ini dapat memicu tekanan ekonomi global karena biaya energi yang meningkat dapat menekan permintaan konsumen dan memicu risiko resesi.
Sejak konflik memanas, harga berbagai komoditas energi seperti minyak mentah, bensin, diesel, bahan bakar jet, gas alam, petrokimia, listrik, hingga pupuk disebut telah mengalami kenaikan tajam.
Kenaikan biaya energi tersebut pada akhirnya mendorong inflasi di berbagai negara. Bagi konsumen dan pelaku usaha, lonjakan harga energi dapat meningkatkan biaya produksi dan harga barang, termasuk bahan pangan.
Para petani di wilayah belahan bumi utara yang sedang memasuki musim tanam juga menghadapi tekanan karena biaya input pertanian meningkat akibat kenaikan harga energi dan pupuk.
Asia menjadi wilayah yang paling rentan terhadap gangguan pasokan energi ini karena sangat bergantung pada impor minyak mentah, gas, dan bahan bakar dari kawasan Timur Tengah dibandingkan wilayah lain.
Sejumlah negara Asia pun mulai mengambil langkah untuk merespons situasi tersebut. China, misalnya, meminta kilang dalam negerinya menghentikan ekspor bahan bakar.
Korea Selatan bahkan mengumumkan pembatasan harga bahan bakar untuk pertama kalinya dalam 30 tahun. Menurut laporan media setempat, Yonhap, rata-rata harga bensin di Seoul menembus angka 1.900 won per liter untuk pertama kalinya dalam hampir empat tahun terakhir dan terus merangkak naik hingga mencapai 1.945 won pada hari Minggu (8/3).
Sementara itu, Bangladesh mengambil langkah ekstrem dengan menutup universitas untuk menghemat penggunaan listrik dan bahan bakar.
Gangguan di Selat Hormuz juga memengaruhi distribusi bahan bakar dari kilang-kilang di kawasan Teluk.
Kilang-kilang di Teluk tidak mampu mengirimkan bahan bakar yang mereka produksi, termasuk kilang raksasa Al Zour di Kuwait berkapasitas 615.000 bpd yang merupakan pemasok utama bahan bakar jet untuk Eropa dan Afrika.
(dhz/sfr)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
3
















































