Maliq Rihma Irawan
Agama | 2026-07-05 13:37:36
Oleh Maliq Rihma Irawan Ekonomi Syariah Universitas Pamulang
Di tengah gempuran tren digital yang serba cepat, Gen Z hari ini dihadapkan pada tantangan laten yang tidak kasat mata: penyakit ruhani (amradh al-qulub). Dalam kajian Akhlak Tasawuf, kondisi ini terjadi ketika jiwa (nafs) mulai kotor dan menyimpang akibat kalah oleh dominasi hawa nafsu dan jebakan zaman. Penyakit ini tidak menyerang fisik, melainkan menjadi hijab (penghalang) yang membuat mata hati mati rasa dari kebenaran dan menjauhkan diri dari Allah SWT. Jika merujuk pada pemikiran Imam Al-Ghazali, gejalanya sangat relevan dengan realitas anak muda sekarang yang terbagi dalam tiga kluster: kluster ego (ujub dan takabur), kluster validasi sosial (riya', hasad, dan bakhil), serta kluster ketidakstabilan emosi (ghadab dan ambisi eksistensi diri).
Bahaya laten dari rusaknya kesehatan mental-spiritual ini sebenarnya telah diperingatkan secara tegas dalam Al-Qur'an dan Hadits. Di era di mana "pamer" atau flexing demi konten menjadi hal lumrah, Islam justru mengancam keras pelaku riya' melalui Surah Al-Maa'un, bahkan Rasulullah SAW menyebutnya sebagai syirik kecil yang diam-diam menghapus pahala. Begitu pula dengan budaya scrolling media sosial yang sering kali memicu sifat hasad (dengki) saat melihat pencapaian orang lain; sifat ini diperingatkan dalam Surah Al-Falaq dan hadis Nabi sebagai api yang melahap habis kayu bakar kebaikan. Hal ini membuktikan bahwa Islam tidak hanya menilai ibadah lahiriah yang estetik di permukaan, melainkan sangat menjaga kesucian motivasi di dalam batin.
Jika ditelisik ke belakang, rekam jejak sejarah Islam telah memberikan bukti nyata bagaimana penyakit hati ini bisa menghancurkan masa depan seseorang. Iblis bisa dibilang sebagai korban cancel culture langit yang pertama dan terlaknat, bukan karena kurang ibadah, melainkan karena kombinasi penyakit takabur dan ego merasa paling hebat (ananiyah) saat menolak menghormati Nabi Adam AS. Di sisi lain, ada Qarun yang hancur dibenamkan ke dalam bumi akibat flexing kesombongan dan cinta dunia (hubbud dunya), serta kaum munafik di Madinah yang menjadi potret nyata orang yang bermuka dua demi mencari aman dan reputasi (sum'ah). Kisah-kisah ini menjadi alarm keras bagi Gen Z bahwa penyakit hati tidak hanya merusak akhirat, tetapi juga menghancurkan kedamaian kesehatan mental selama hidup di dunia.
Agar Gen Z tidak benar-benar terjerumus, kemampuan untuk melakukan self-awareness atau mendiagnosis perbedaan tipis antar-penyakit ini menjadi sangat krusial. Kita harus bisa membedakan antara ujub yang merupakan rasa kagum berlebihan pada diri sendiri di dalam hati, dengan takabur yang mulai merendahkan orang lain di kehidupan nyata. Para sufi mengajarkan bahwa mengenali detail penyakit ini adalah langkah awal menuju kesembuhan (syifa'). Proses pemulihan spiritual ini wajib ditempuh melalui metode mujahadah (berjuang melawan kecanduan nafsu), muhasabah (deep talk dan introspeksi niat diri), serta riyadhah (latihan disiplin jiwa). Pada akhirnya, obat paling mujarab untuk menjaga kesehatan mental dan spiritual Gen Z adalah dengan membangun keikhlasan mutlak, memperbanyak zikir sebagai penenang hati, serta senantiasa mengingat kematian agar tidak terlena oleh fana-nya dunia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

9 hours ago
5














































