Sufisme di Era Digital: Seni Menjaga Hati dari Penyakit Riya dan Flexing

9 hours ago 3

Image Maulana Hasbillah

Agama | 2026-07-05 14:24:15

Pada era modern ini, penyakit hati tidak lagi bersembunyi dalam ruang sunyi, melainkan bertransformasi secara masif di jagat maya. Riya yang dahulu kita pahami sebagai pamer ibadah secara langsung, kini menjelma menjadi fenomena flexing 2.0 yang sangat halus dan samar. Kita sering terjebak dalam budaya humblebragging, yaitu pamer terselubung yang dibungkus dengan kalimat rendah hati atau kedok "berbagi inspirasi". Contoh nyata yang sangat dekat dengan keseharian kita adalah membuat cerita pendek (story) di media sosial yang memperlihatkan sajadah atau keindahan langit subuh, lengkap dengan keluhan betapa mengantuknya diri ini karena baru selesai bertahajud.

Secara tidak sadar, fokus utama konten tersebut sering kali bukan pada nilai manfaatnya, melainkan pada keinginan agar netizen tahu bahwa kita adalah hamba yang saleh. Para ulama sufisme terdahulu telah mengingatkan bahwa beramal karena ingin dipuji manusia itu ibarat bertransaksi menggunakan mata uang palsu; di mata manusia kita terlihat kaya akan pahala, namun di hadapan Allah nilainya sama sekali nol. Secara psikologis pun, ketergantungan pada jumlah likes dan komentar validasi hanya akan membuat jiwa kita lelah karena terus-menerus mendewakan penilaian manusia.

Terapi Sufisme: Rumus Takhalli dan Tahalli untuk NetizenMenghadapi ganasnya arus algoritma yang haus perhatian, tasawuf menawarkan sebuah sistem operasi mental yang sangat relevan, yaitu metode takhalli dan tahalli. Langkah pertama adalah takhalli, yang berarti proses bersih-bersih diri dengan cara mengosongkan hati dari segala sifat tercela. Dalam konteks kehidupan digital, takhalli diwujudkan lewat rem batin untuk menahan diri dari keinginan selalu memamerkan setiap pencapaian hidup kita. Ketika jempol kita mulai gatal untuk mengunggah sesuatu yang hanya bertujuan memuaskan ego, di situlah kita harus melakukan "puasa pamer" dan segera menutup aplikasi tersebut. Setelah hati mulai bersih, langkah berikutnya adalah tahalli, yaitu menghiasi jiwa dengan sifat-sifat terpuji, utamanya keikhlasan yang murni.

Di sinilah pentingnya kita mengadopsi konsep khumul, sebuah ajaran tasawuf yang mendidik seseorang untuk merasa nyaman-nyaman saja ketika tidak dikenal, tidak viral, atau tidak memiliki banyak pengikut di dunia maya. Bagi seorang sufi modern, popularitas di bumi tidaklah penting, sebab target utama mereka adalah menjadi jiwa yang dikenal dan memiliki nama yang harum di langit.

Seni Menjaga Hati di Balik Layar KacaMenerapkan nilai-nilai tasawuf di era digital bukan berarti kita harus membuang ponsel pintar atau menutup semua akun media sosial kita. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana kita bisa menerapkan seni menjaga hati ini dalam tindakan nyata sehari-hari ketika memegang gawai. Salah satu langkah konkretnya adalah dengan menerapkan aturan lima detik sebelum menekan tombol share. Kita perlu mengambil jeda sejenak untuk menanyakan kepada diri sendiri apakah konten yang akan diunggah ini murni membawa manfaat, atau justru ada setitik niat untuk dipuji; jika ada niat pamer, kita harus berani menghapus draf tersebut.

Selain itu, kita wajib memiliki amalan rahasia (amalun khofiy), yaitu ibadah-ibadah tertentu yang benar-benar hanya diketahui oleh Allah dan diri kita sendiri, tanpa ada jejak digital atau kamera yang merekamnya, seperti bersedekah secara diam-diam atau menangis di sepertiga malam. Benteng keikhlasan ini juga perlu diperkuat dengan diet konten yang bijak, yaitu dengan tidak ragu memutuskan hubungan (unfollow) atau menyembunyikan akun-akun yang kerap memicu rasa iri hati dan keinginan untuk ikut-ikutan pamer. Pada akhirnya, kita harus meluruskan kembali niat awal membuka media sosial, yakni semata-mata untuk menyambung tali silaturahmi dan menyebarkan kebaikan, bukan untuk mencari panggung pujian yang fana.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |