Abu Shaffa
Sejarah | 2026-08-13 15:28:40
Jejak Sunyi Sang Saudagar
oleh: Abu Shaffa
Ada satu nama yang nyaris tak pernah disebut dalam buku-buku sejarah kemerdekaan, padahal jasanya menopang denyut nadi pers perjuangan di masa-masa paling genting bangsa ini. Namanya R.H.O. Djoenaidi — atau lengkapnya Oene Djoenaidi, lahir di Tasikmalaya pada 3 Maret 1895. Ia bukan orator, bukan pula penulis manifesto. Ia seorang saudagar. Tapi dari kantongnya, mengalir dana yang menghidupi salah satu media paling berpengaruh pada masa pergerakan: surat kabar Pemandangan.
Dari Mekah ke Sarekat Islam
Sejak usia remaja, tepatnya pada 1911–1912, Oene kecil — putra bungsu Raden Hasan dari Manonjaya, Tasikmalaya — dikirim orang tuanya ke Mekah Al-Mukaromah untuk menuntut ilmu agama, dengan harapan kelak menjadi ulama yang mengajarkan Islam di tanah air. Di sana ia bermukim di kediaman Syekh Holil Ali Shohbana, dan dikenal disiplin menjaga shaf terdepan salat berjemaah di Masjidil Haram, bahkan sebelum azan Subuh berkumandang.
Nama “Djoenaidi” yang melekat padanya sesungguhnya bukan nama lahir, melainkan bentuk penghormatan kepada gurunya di Mekah, Ustadz Djoenaidi — sosok yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membekalinya pemahaman bermasyarakat dan bernegara. Sebagai tanda takzim, Oene menyematkan nama sang guru di belakang namanya sendiri, menjadi Oene Djoenaidi.
Sekembalinya ke tanah air, ia resmi bergabung dengan Sarekat Islam (SI) — jejak yang mengantarnya berkawan seperjuangan dengan H.O.S. Tjokroaminoto. Kedekatan inilah yang kelak membuat Soekarno, ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jawa Barat, datang menemui Djoenaidi atas referensi langsung dari Tjokroaminoto — mertua Bung Karno dari istri pertamanya, Utari. Dari jalinan Sarekat Islam inilah keberpihakan Djoenaidi pada perjuangan kemerdekaan terbentuk sepanjang hidupnya.
Di sisi lain, Djoenaidi tidak berhenti pada aktivisme. Ia mengelola perkebunan kelapa milik ayahnya, berdagang tekstil di seantero Jawa Barat, lalu merambah agribisnis karet dan serai hingga dijuluki “Raja Serai”. Ia juga merintis usaha penerbitan di Galunggung, Bandung — bekal yang kelak mengantarnya pada peran paling bersejarah dalam hidupnya: menjadi penyokong pers nasional.
Menyelamatkan Pemandangan
Titik baliknya terjadi pada 1933. Dalam sebuah perjalanan bisnis ke Batavia, Djoenaidi bertemu dengan jurnalis Saeroen, yang kebetulan menginap di penginapan milik anak Djoenaidi. Dari pertemuan itu, Djoenaidi setuju menanamkan sebagian besar harta pribadinya untuk menyokong surat kabar milik Saeroen: Pemandangan.
Ketika Saeroen kemudian pergi, Djoenaidi-lah yang menunjuk M. Tabrani — tokoh pers asal Betawi — sebagai pemimpin redaksi. Sebagai pemilik, ia dikenal memberi kompensasi besar kepada para penulis dan pegawai media, sebuah kebijakan yang membuat Pemandangan mampu menghimpun penulis-penulis kelas berat pada masanya. Di era itu, Pemandangan menjelma sebagai corong yang mengobarkan semangat patriotisme dan nasionalisme — media yang lahir bukan sekadar untuk mencari untung, melainkan untuk menyalakan api kemerdekaan.
Kepedulian Djoenaidi tidak berhenti di ruang redaksi. Pada 1940, ia menggalang dana lewat Pemandangan untuk memulangkan warga Indonesia yang terlantar di Mekah akibat keterbatasan transportasi selama Perang Dunia II — bukti bahwa keberpihakannya pada umat tidak pernah putus, sekalipun jauh dari kampung halaman.
Namun perjalanan Pemandangan tidak selamanya mulus. Pada 1953, media ini terseret kasus pembocoran rahasia negara: pemberitaan soal rencana kenaikan gaji pegawai negeri dan penanaman modal asing di 21 perusahaan membuat pemimpin redaksinya kala itu, Asa Bafaqih, diadili karena dianggap membuka informasi yang belum diumumkan resmi pemerintah. Bafaqih memilih memakai hak tolak wartawan dan menolak membuka identitas sumbernya; penyelidikan kasus ini akhirnya dihentikan Jaksa Agung pada Agustus 1953. Tekanan politik pascaperistiwa itu, ditambah beban ekonomi yang terus menghimpit industri pers kala itu, membuat Pemandangan akhirnya berhenti terbit pada 1958 — dua puluh lima tahun setelah pertama kali hadir menyuarakan semangat kemerdekaan.
Melewati Zaman Pendudukan hingga Revolusi
Masa pendudukan Jepang membawa Djoenaidi ke posisi wakil pemimpin redaksi Asia Raja, surat kabar yang didukung pemerintah pendudukan. Namun begitu Indonesia merdeka, ia kembali menunjukkan keberpihakannya pada Republik: bersama Adam Malik dan Soemanang, ia turut mendirikan Badan Usaha Penerbitan Nasional dan duduk dalam dewan direksinya.
Sepanjang Revolusi Nasional Indonesia, Djoenaidi memelihara koneksi penting dengan para pemimpin republik — kedekatan yang pada satu titik justru membuatnya ditangkap oleh Belanda dengan tuduhan “memiliki koneksi dengan kegiatan terorisme”. Sebuah ironi yang lazim menimpa mereka yang berdiri di pihak kemerdekaan: dicap pengacau oleh penjajah, justru karena membela bangsanya sendiri.
Djoenaidi wafat di Jakarta pada 6 Juni 1966, setelah berjuang melawan penyakit kanker.
Wakaf yang Menumbuhkan Peradaban
Jejak Djoenaidi juga merambah ke ranah pendidikan umat. Di kediamannya sendiri di Ciloto-Cipanas, ia menjadi bagian dari sebuah forum pemikiran bersama KH. Sholeh Iskandar dan Dr. Mohammad Natsir — dialog yang melahirkan gagasan bahwa umat Islam membutuhkan lembaga pendidikan yang tidak hanya mencetak ahli ibadah dan pemikir, tetapi juga sumber daya manusia yang mandiri, terampil, dan mampu mengelola sektor pertanian sebagai fondasi kedaulatan umat.
Dari forum itulah lahir Pesantren Pertanian Darul Fallah di Ciampea, Bogor, yang didirikan pada 9 April 1960 oleh KH. Sholeh Iskandar, KH. A. Ghafar Ismail, dan Dr. Djanamar Adjam. Dan pada bulan Muharram 1380 H (Juni 1960), Djoenaidi mewakafkan tanah seluas kurang lebih 26,5 hektare miliknya untuk menjadi lokasi utama pesantren tersebut — lahan yang kini telah tersertifikasi seluas sekitar 25 hektare dan terus menghidupi pendidikan iman, ilmu, dan keterampilan bagi kaum dhu’afa dan masakin hingga hari ini.
Wakaf ini menegaskan satu benang merah dalam hidup Djoenaidi: harta yang ia kumpulkan dari perkebunan, tekstil, karet, dan serai, pada akhirnya ia arahkan untuk menopang dua hal sekaligus — corong perjuangan lewat pers, dan ladang pendidikan umat lewat pesantren. Pemandangan sudah lama tutup, tapi Pesantren Pertanian Darul Fallah yang berdiri di atas tanah wakafnya masih beroperasi hingga kini — warisan yang lahir dari tangan yang sama, namun berbeda zaman.
Jejak yang Nyaris Terlupakan
Mungkin hari ini nama R.H.O. Djoenaidi masih asing di telinga kita. Tapi itu bukan alasan untuk membiarkannya tetap terlupakan. Karena setiap kali kita mengenang perjuangan kemerdekaan, kita tidak hanya berutang pada mereka yang berpidato di atas mimbar, tetapi juga pada mereka yang menyediakan mimbar itu sendiri — saudagar yang merelakan hartanya, penerbit yang menanggung risiko, aktivis dakwah yang bekerja tanpa panggung — yang luput dari catatan.
Padahal, tanpa orang-orang seperti Djoenaidi, mimbar-mimbar pergerakan tak akan punya podium. Ia mengingatkan kita bahwa perjuangan melawan penjajahan tidak melulu soal angkat senjata atau berpidato di depan massa — ada perjuangan lewat harta, lewat modal dan keberanian mengambil risiko usaha demi menghidupi ruang bagi kebenaran untuk disuarakan.
Cucunya sendiri, Fia Farida Damayanti, pernah menuturkan bahwa sang kakek memang sengaja menghindari publikasi. Baginya, perjuangan adalah amal yang tidak harus diketahui semua orang — cukup Sang Pencipta yang mengetahuinya. Sikap itulah yang barangkali menjelaskan mengapa nama R.H.O. Djoenaidi nyaris hilang dari catatan sejarah, meski kontribusi pendanaannya bagi perjuangan kemerdekaan tergolong di antara yang terbesar pada masanya.
Warisan ini bukan sekadar cerita masa lalu. Sementara Pemandangan telah lama berhenti mengudara, Pesantren Pertanian Darul Fallah terus mendidik santri dari kalangan dhu’afa dan masakin di atas tanah yang sama. Media dakwah, lembaga pendidikan Islam, dan gerakan pemberdayaan umat masih membutuhkan sosok-sosok seperti Djoenaidi — para saudagar yang bersedia menaruh hartanya bukan untuk mengejar keuntungan semata, melainkan untuk menopang ruang-ruang perjuangan yang jauh lebih besar dari diri mereka sendiri. Menghidupkan kembali nama-nama yang terlupakan seperti R.H.O. Djoenaidi bukan sekadar tugas sejarawan, melainkan pengingat bagi kita semua: jasa besar tidak selalu lahir dari panggung, tapi kerap dari mereka yang memilih diam-diam menopang dari belakang layar — lewat pena orang lain, dan lewat harta dan tanah yang mereka relakan dan wakafkan.
penulis adalah alumni Pesantren Pertanian Darul Fallah
Catatan sumber: Artikel ini disusun berdasarkan entri Wikipedia Bahasa Indonesia “Oene Djoenaidi” dan “Pemandangan” (id.wikipedia.org & en.wikipedia.org) untuk data biografis dan kronologis, termasuk kasus Asa Bafaqih 1953 dan penutupan Pemandangan pada 1958; wawancara FOKUSJabar.com dengan Fia Farida Damayanti, cucu R.H.O. Djoenaidi (23 Mei 2015), untuk kisah masa belajar di Mekah, asal-usul nama, dan hubungan dengan H.O.S. Tjokroaminoto serta Soekarno; narasi lisan dari Ust. Hadi Nur Ramadhan dalam satu kajian terkait sosok R.O. Djoenaidi dan surat kabar Pemandangan untuk konteks tambahan; serta dokumen Profil Yayasan Pesantren Pertanian Darul Fallah (Bogor, 10 Januari 2025) untuk data wakaf dan pendirian pesantren, dan Wawancara langsung dengan Saldy Nurzaman uyut Apa Oene (R.H.O. Djoenaidi)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

6 hours ago
4












































