Misteri Sejarah Perang Bubat antara Kerajaan Sunda dengan Kerajaan Majapahit

4 hours ago 7

Image Daffa Adnan

Sejarah | 2026-06-26 15:52:39

Foto Buku Perang Bubat (1279 Saka) Sri Wintala Achmad, Sumber (Dokumen Pribadi)

Identitas

Judul lengkap buku tersebut yaitu Perang Bubat(1279 Saka); Membongkar Fakta Kerajaan Sunda vs Kerajaan Majapahit, dengan penulisnya Sri Wintala Achmad beserta penerbit Araska dengan tahun terbitnya 2024. Memiliki 300 halaman dengan ISBN: 978-623-7537-19-9

Review Buku Perang Bubat (1279 Saka) Karya Sri Wintala Achmad

Mungkin kita pernah mendengar suatu cerita yang berasal dari mulut ke mulut oleh orang tua kita, terutama untuk orang Sunda dan Jawa. Bahwa ada sebuah larangan tak tertulis yang mengatakan, kalau orang Jawa tidak boleh menikahi orang Sunda dan begitupun sebaliknya. Lantas sejak kapan larangan itu muncul dari mulut orang tua dahulu, bagaimana bisa muncul larangan yang tak tertulis tentang pernikahan antara orang Sunda dengan Jawa.

Jawaban itu ada pada buku karya Sri Wintala Achmad yang membahas tragedi kelam yang ada dalam karya sastra sejarah dahulu, sebuah tragedi yang memicu persepsi bahwa orang Sunda tidak boleh menikahi orang Jawa dan begitupun sebaliknya. Yaitu sebuah tragedi perang Bubat yang terjadi pada tahun 1279 Saka atau pada tahun 1357. Pada saat itu sebuah kerajaan besar di Nusantara yakni Majapahit sedang dalam kepemimpinan Hayam Wuruk, mencoba untuk meminang seorang putri dari kerajaan Sunda yang bernama Dyah Phitaloka Citraresmi. Keinginan Hayam Wuruk yang ingin menikahi Dyah Phitaloka Citraresmi tentu mendapat restu bukan hanya dari raja kerajaan Sunda yaitu Maharaja Linggabuana Wisesa, tetapi juga dari kedua pamannya yang merupakan Bhatara Shaptaprabu (Dewan Penasihat Raja yang merupakan sesepuh keluarga istana Majapahi).

Namun tidak dengan Mahapatih Amangkubumi Gajah Mada yang tidak setuju dengan pernikahan Hayam Wuruk dengan putri Dyah Phitaloka Citraresmi, anggapannya adalah bahwa pada saat itu kerajaan Sunda belum dalam penaklukan Majapahit dan Gajah Mada yang memegang sumpah palapa menginginkan putri Dyah Phitaloka Citraresmi diserahkan bukan sebagai pinangan, tetapi sebagai tanda takluknya kerajaan Sunda oleh kerajaan Majapahit. Selain ketidaksetujuan Gajah Mada dikarenakan sumpah palapa yang dia miliki, ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa alasan Gajah Mada menolak pernikahan tersebut yaitu karena Gajah Mada memiliki perasaan juga terhadap putri Dyah Phitaloka Citraresmi.

Analisis Sumber Sastra Sejarah Serta Bukti Arkeologi

Yang menarik dalam tulisan Sri Wintala adalah konsistensinya terhadap keguguhannya yang menjelaskan bahwa setiap sumber yang menjelaskan peristiwa perang Bubat, diterbitkan pada masa setelah kepemimpinan Hayam Wuruk. Hal ini terlihat pada setiap hasil analisis yang dia lakukan terhadap beberapa sumber sejarah, walaupun begitu Sri Wintala tetap mencoba untuk melakukan analisis historiografi secara faktual dengan apa yang dia dapat. Hal yang dapat saya apresiasikan dalam buku karya Sri Wintala ini adalah penggunaan sumber yang tidak berat di sebelah saja, melainkan Sri Wintala menggunakan sumber yang masing-masing berasal dari Sunda dan juga Jawa. Sumber-sumber sastra sejarah yang memang membahas peristiwa perang Bubat salah satunya adalah Kidung Sunda, Serat Pararaton, Carita Parahyangan, Babat Dalem, dan Hikayat Sang Bima.

Namun dikarenakan sumber-sumber yang ada tidak dapat mendukung, Sri Wintala hanya sekedar menulis kembali kisah yang ada di karya sastra kemudian menganalisis kembali kisah yang terdapat dalam sumber sastra tersebut. Walaupun begitu pendapat Sri Wintala tetap menganggap bahwa peristiwa perang Bubat masih cukup sulit untuk menjadi fakta, sebab balik kembali bahwa sumber-sumber sejarah yang tertulis hanya hadir pada saat Hayam Wuruk tidak memimpin. Tentu ini menjadi perdebatan akan keaslian sumber sastra sejarah yang ada, jika perang Bubat benar terjadi, mengapa tidak ada bukti sumber tertulis sejarah yang memang ditulis pada masa itu.

Selain itu, Sri Wintala sebelum menganalisis berbagai sumber sejarah yang membahas perang Bubat, terlebih dahulu membahas asal muasal dari kedua kerajaan tersebut Sunda dan Jawa. Alasan yang saya tangkap dalam tulisannya bukan lain hanyalah untuk menunjukkan hubungan antara kedua kerajaan tersebut, dikisahkan dari literatur kuno yakni Pustaka Rajya-Rajya I Bhumi Nusantara para II sarga 3 dan Babad Tanah Jawa, bahwa Dyah Wijaya yang merupakan pendiri dari kerajaan Majapahit. Dyah Wijaya merupakan anak dari pernikahan Rakeyan Jayadarma dari Galuh dan Dyah Lembu Tal dari Singhasari atau putra Raden Bondawangi yang masih keturunan Raja Rawisrengga dari Janggala.

Ini membuktikan bahwa Sri Wintala sangat terstruktur dan sistematis dalam menjelaskan ikatan saudara Sunda dengan Jawa sudah berjalin sejak lama, dari awal pendiri kerajaan Majapahit hingga masa keemasan di era Hayam Wuruk yang mencoba untuk meminang Dyah Phitaloka Citraresmi. Bahkan hubungan damai tersebut juga dikisahkan dari berbagai sumber-sumber tulisan sejarah, seperti hal nya Kitab Calon Arang yang mengisahkan hubungan perdagangan dan Sunda juga termasuk salah satu mitra pedagang dari Jawa. Selain Kitab Calon Arang terdapat juga Kidung Wasengsari dan Kitab Tantu Panggelaran, patut diapresiasikan juga usaha yang dilakukan Sri Wintala dalam membahas bagian dari sumber-sumber sejarah yang membahas hubungan antara kerajaan Sunda dengan kerajaan Jawa dengan jelas dan sistematis.

Kemudian bukti lain yang dipaparkan oleh Sri Wintala terletak pada situs arkeologi juga cukup penuh terhadap hipotesis dan analisis yang telah dia kembangkan, dalam buku Sri Wintala memaparkan dua sumber arkeologi yang ada yakni Relief Kisah Panji dan Kolam Segaran. Namun Sri Wintala juga memberikan catatan penjelasan dia bahwa sumber-sumber arkeolog yang ada, masih berupa hipotesis sejarawan yang mengaitkan hubungan situs tersebut dengan kisah perang Bubat. Dalam pembedahan yang dia lakukan untuk mencari fakta sejarah terkait peristiwa perang Bubat ini, Sri Wintala selalu menggali dengan sumber-sumber sastra sejarah yang memang membahas perang Bubat ini. Selain mencari fakta peristiwa yang secara langsung, dia juga melakukan analisis terhadap prasasti arkeologi yang memiliki kemungkinan menceritakan kisah perang Bubat ini. Walau demikian, dalam analisis yang dilakukan Sri Wintala masih belum mendapatkan kepastian. Setiap situs yang dipercaya menceritakan peristiwa perang Bubat, Kembali lagi masih sebatas hipotesis dan perlu adanya pengkritisan ulang untuk dikaji kembali.

Rekomendasi

Buku ini cukup terstruktur dalam mengulas sekaligus menganalisis bagaimana awal mula hubungan kerajaan Sunda dan juga Kerajaan Jawa dari awal hingga akhirnya sampai pada masa Hayam Wuruk, penjelasan yang begitu terstruktur dan juga dengan penjelasan yang mudah dipahami di setiap bab nya. Apa yang saya dapat dari buku karya Sri Wintala adalah pengetahuan baru sekaligus menjawab kepenasaran saya, tentang mengapa bisa muncul larangan tak tertulis yang tiba-tiba muncul secara turun temurun dari mulut orang-orang terdahulu. Dengan membaca buku ini juga tidak hanya sekedar mendapatkan pengetahuan baru, namun para pembaca juga akan diajak berpikir mengenai keaslian tragedi perang Bubat ini.

Saya sangat merekomendasikan bagi para orang-orang umum yang menyukai sejarah atau mungkin penasaran bagaimana bisa persepsi orang Sunda tidak boleh menikahi orang Jawa bisa tercipta, ditambah dengan berbagai sumber sejarah dari setiap tulisan sastra dahulu seperti Serat Pararaton, Kidung Sunda, Cerita Parahyangan, dan yang lainnya dicantumkan secara jelas bagian-bagian yang membahas perang Bubat ini. Namun, saya kurang menyarankan bagi para sejarawan untuk menerima secara penuh terhadap apa yang ditulis oleh Sri Wintala, sepatutnya seorang sejarawan tidak boleh menerima mentah-mentah teori yang ada tanpa dikembangkan serta dikaji kembali atau mungkin dikembangkan ulang. Selain kaya akan sumber sejarah yang diteliti, Sri Wintala juga menyertakan sumber-sumber situs arkeolog yang memungkinkan untuk membantu dalam mencari keaslian peristiwa perang Bubat ini.

Pada akhirnya peristiwa itu masih diperdebatkan hingga saat ini, Sri Wintala dalam tulisannya juga di akhir bab menjelaskan bahwa keaslian dari peristiwa perang Bubat ini masih diperdebatkan. Dikarenakan berbagai sumber sastra sejarah yang tertulis belum cukup untuk mendukung terjadinya peristiwa tersebut, sebab sumber yang ada tidak ditulis pada masa kepemimpinan Hayam Wuruk dan bahkan tidak ditulis ketika peristiwa perang Bubat terjadi. Yang padahal jika dipikirkan secara logis, mengapa peristiwa yang begitu besar tidak ditulis pada masa itu juga?

Oleh: Daffa Adnan Assyarof

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |