Mojtaba Khamenei Rombak Komando Militer Iran, Siapkan Operasi Ofensif

5 days ago 4
Mojtaba Khamenei Rombak Komando Militer Iran, Siapkan Operasi Ofensif Ilustrasi.(Magnific)

PEMIMPIN Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, melakukan perombakan besar-besaran dalam struktur keamanan negara dengan menunjuk enam komandan senior di jajaran Staf Umum, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dan pasukan keamanan domestik Basij. Langkah ini dinilai para analis sebagai upaya memperkuat kemapanan keamanan masa perang Iran dengan figur-figur yang berpengalaman tempur.

Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi resmi dikukuhkan pada Senin (10/8) sebagai panglima tertinggi IRGC dengan pangkat Letnan Jenderal. Ia menggantikan Mohammad Pakpour yang tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari lalu. Mendampingi Vahidi, perwira militer senior Mostafa Izadi ditunjuk sebagai wakil panglima.

Selain di tubuh IRGC, perombakan juga menyentuh posisi strategis lain:

  • Mayor Jenderal Ali Abdollahi: Diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata.
  • Brigadir Jenderal Kioumars Heydari: Ditunjuk sebagai wakil Ali Abdollahi.
  • Laksamana Madya Ali Ozmaei: Menjabat sebagai Komandan Angkatan Laut IRGC.
  • Hossein Taeb: Ditunjuk memimpin Basij, milisi paramiliter keamanan internal yang bertanggung jawab langsung kepada Pemimpin Tertinggi.

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan melalui saluran Telegramnya bahwa keenam komandan tersebut telah membuktikan pengalaman mereka selama dua perang yang dipaksakan baru-baru ini. Penunjukan ini juga menyusul pengangkatan mantan panglima IRGC, Mohsen Rezaei, sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC).

Fokus pada Operasi Ofensif

Ali Vaez, Deputi Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara di International Crisis Group, menilai penunjukan ini bertujuan mengonsolidasikan otoritas Mojtaba Khamenei sekaligus memperbaiki kerentanan yang terekspos selama perang. "Pemimpin tertinggi menempatkan veteran tepercaya untuk merombak struktur komando agar respons terhadap krisis berikutnya lebih cepat dan koheren," ujar Vaez kepada Al Jazeera.

Secara khusus, Mojtaba Khamenei menginstruksikan Ahmad Vahidi untuk memperkuat pencegahan dan kesiapan bagi operasi ofensif yang kuat. Vahidi sendiri bukan orang baru. Ia merupakan produk generasi pendiri IRGC yang pernah memimpin Pasukan Quds (unit operasi luar negeri) pada 1988-1997 sebelum menyerahkan tongkat estafet kepada Qassem Soleimani.

Sina Toossi, peneliti senior di Center for International Policy, menyoroti bahasa instruksi Khamenei yang dianggap tidak biasa. "Khamenei menyerukan 'pencegahan maksimum' tetapi juga secara eksplisit menginstruksikan IRGC untuk siap melakukan operasi ofensif yang kuat terhadap musuh," tulis Toossi di platform X. Menurutnya, ini menandakan reformulasi konsep pertahanan Iran yang kini lebih berfokus pada inisiatif menyerang untuk membebankan biaya pada lawan.

Konsolidasi Old Guard

Muhanad Seloom dari Doha Institute for Graduate Studies berpendapat bahwa penunjukan ini bukanlah regenerasi, melainkan konsolidasi penjaga lama yang tepercaya. Prioritas utamanya adalah kohesi rezim di atas inovasi militer.

Meskipun Iran mengadopsi postur yang lebih ofensif, Seloom memperingatkan bahwa hal ini mungkin lebih bersifat deklaratif untuk meningkatkan posisi tawar dalam negosiasi. "Saya menyebutnya ofensif dalam retorika, tetapi bersifat atrisi (melemahkan lawan secara perlahan) dalam desainnya," tambahnya. Ia juga menekankan bahwa ambisi ofensif Iran akan tetap terhambat oleh kelemahan intelijen kontra-spionase mereka.

Perubahan ini menunjukkan bahwa Mojtaba Khamenei, yang menggantikan mendiang ayahnya Ayatollah Ali Khamenei pada Maret lalu, mulai membangun arsitektur kekuasaannya sendiri di tengah ekspektasi konflik yang berkepanjangan. (I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |