Hadapi kemarau dan kekurangan air, petani di Kabupaten Kendal beralih budidaya tembakau untuk mempertahankan lahan tetap produktif.(MI/Akhmad Safuan)
KEMARAU dan keterbatasan air untuk mengaliri sawah, petani di lahan tadah hujan di sejumlah daerah di Jawa Tengah beralih ke budidaya tanaman palawija, tembakau dan padi gogo untuk lebih daiat mengoptimalkan lahan.
Pemantauan Media Indonesia Kamis (13/8) kemarau hingga hampir tiga bulan tidak ada hujan, menjadikan petani terutama di sawah tadah hujan di sejumlah daerah di Jawa Tengah mendorong tetap kreatif, demi mengoptimalkan lahan agar tetap produktif mereka memiliki beralih ke budidaya tanaman yang tidak terlalu banyak membutuhkan air.
Pilihan palawija seperti kacang-kacangan, jagung, tembakau serta padi gogo menjadikan petani di sejumlah daerah seperti Kendal, Demak, Grobogan, Pati dan Rembang tetap dapat menikmati hasil panen. "Kami tanam tembakau saat kemarau seperti ini, untuk memenuhi kebutuhan air, kami membuat sumur pantes du sawah, " ujar Makhruf, petani di Kangkung, Kendal.
Hal berbeda diungkapkan Suradi, petani di Mijen, Demak bahwa menghadapi kemarau dan kesulitan air karena sungai dan saluran irigasi mengering, petani di kawasan ini memilih budidaya tanaman musiman palawija seperti jagung, kedelai, kacang hijau dan bahkan ada yang menanam buah seperti semangka, melon, blewah atau timun.
"Kami memilih tanaman yang tidak memerlukan banyak air, bahkan untuk menyirami tanaman agar tetap hidup, beberapa petani terpaksa beli air dengan truk tangki karena sumur di sawah juga kering, " tambahnya.
Demikian juga diungkapkan Riyanto, petani di Hati, Grobogan bahwa sudah bertahun-tahun lahan tadah hujan di daerah ini, meskipun menghadapi kemarau panjang tetap dapat produktif karena warfa beralih ke budidaya tanaman palawija terutama kedelai dan jagung, bahkan sekarang tidak sedikit menanam padi gogo.
Sementara itu di Undaan, Kabupaten Kudus agar lahan pertanian tersp produktif memilih mempertahankan budidaya padi, untuk memenuhi kebutuhan air di musim kemarau mereka memiliki menabdaaysusa air sungai dengan cara memompa. "Air sungai menyusut tidak dapat naik ke saluran irigasi, maha kami pompa untuk memenuhi kebutuhan sawah," ujar Bagyo.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavares membenarkan hal ini, meskipun saat berlangsung kemarau dan terjadi kesulitan air untuk pertanian terutama pada lahan sawah tadah hujan, namun petani di sejumlah daerah tetap produktif dengan budidaya tanaman tidak terlalu membutuhkan banyak air..
Meskipun petani kreatif beralih ke budidaya tanaman di luar padi, lanjut Defransisco Dasilva Tavares, namun Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tetap mengebut lakukan perbaikan 334 proyek saluran irigasi di sejumlah daerah, apalagi diketahui 74 persen sawah di Jawa Tengah atau 717.800 hektare masih mengandalkan irigasi sebagai sumber penyaluran air
"Sedangkan 26 persen atau 252.200 hektare lahan di Jawa Tengah merupakan sawah tadah hujan yang kini ditanami palawija, tembakau hingga padi gogo," ujar Defransisco Dasilva Tavares. (H-2)
















































